Ada keluarga yang hampir setiap hari dipenuhi aktivitas. Orang tua bekerja, anak-anak sekolah dan mengikuti berbagai kegiatan, akhir pekan diisi dengan urusan rumah, pekerjaan tambahan, silaturahmi, atau kegiatan sosial. Dari luar, keluarga seperti ini tampak produktif. Namun, kesibukan tidak selalu berarti keluarga sedang bertumbuh.
Sebuah keluarga dapat memiliki banyak agenda tetapi sedikit kemajuan pada hal-hal yang sebenarnya penting. Banyak waktu digunakan, tetapi tidak selalu menghasilkan kedekatan. Banyak uang dibelanjakan, tetapi belum tentu memperkuat ketahanan keluarga. Banyak kegiatan pendidikan diikuti anak, tetapi belum tentu membentuk kemandirian dan karakter.
Karena itu, setelah keluarga mengenali sumber daya dan menentukan prioritas, muncul kebutuhan berikutnya: bagaimana prioritas tersebut diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata?
Niat Baik Perlu Diterjemahkan Menjadi Tindakan
Dalam kehidupan keluarga, niat baik hampir selalu ada. Orang tua ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak, pasangan ingin membangun rumah tangga yang harmonis, keluarga ingin sehat, ingin memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik, dan ingin memiliki waktu yang cukup untuk beribadah serta bersosialisasi.
Persoalannya bukan semata-mata pada apa yang kita inginkan, tetapi pada bagaimana keinginan itu diterjemahkan menjadi keputusan dan kebiasaan.
Disinilah manajemen memperoleh tempatnya. Manajemen bukan sekadar membuat daftar pekerjaan, melainkan proses menerjemahkan arah kehidupan menjadi pilihan yang dapat dilakukan.
Apa yang harus dikerjakan? Siapa yang terlibat? Kapan dilakukan? Sumber daya apa yang digunakan? Apa yang perlu dikurangi? Bagaimana kita mengetahui bahwa keputusan tersebut benar-benar memberikan hasil?
Stephen R. Covey, dalam The 7 Habits of Highly Effective Families, memperkenalkan gagasan tentang family mission statement sebagai cara membantu keluarga memperjelas apa yang dianggap penting dan kemana keluarga hendak bergerak. Gagasan ini menarik karena keluarga seringkali memiliki banyak aktivitas, tetapi tidak selalu memiliki kesepakatan yang cukup jelas tentang tujuan bersama.
Sementara itu, pemikiran Peter F. Drucker tentang manajemen mengingatkan bahwa pekerjaan manajerial tidak berhenti pada menemukan jawaban, tetapi dimulai dengan mengajukan pertanyaan yang tepat.
Dalam konteks keluarga, pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang harus kita lakukan hari ini?” tetapi juga, “Untuk apa kita melakukan semua ini?”
Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara sebuah keluarga melihat kesibukan. Mengantar anak mengikuti banyak kegiatan, misalnya, tidak otomatis lebih baik daripada memilih satu atau dua kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya. Mengambil pekerjaan tambahan juga tidak selalu menjadi pilihan terbaik apabila tambahan penghasilan tersebut dibayar dengan hilangnya waktu bersama keluarga yang justru sedang sangat dibutuhkan.
Dari Prioritas Menjadi Rencana
Karena itu, setelah menetapkan prioritas, keluarga perlu menerjemahkannya menjadi rencana sederhana. Tidak harus rumit. Bahkan, keluarga tidak membutuhkan dokumen perencanaan seperti sebuah perusahaan. Yang dibutuhkan adalah kejelasan mengenai apa yang hendak dijaga, apa yang hendak diperbaiki, dan tindakan apa yang realistis dilakukan dengan sumber daya yang tersedia.
Misalnya, sebuah keluarga menyadari bahwa komunikasi antara orang tua dan anak perlu diperbaiki. Prioritas tersebut tidak akan banyak berubah apabila hanya berhenti pada kalimat, “Kita harus lebih dekat dengan anak.” Ia baru mulai menjadi tindakan ketika keluarga menetapkan kebiasaan tertentu: menyediakan waktu makan bersama, membatasi gangguan gawai pada waktu tertentu, menyediakan ruang percakapan, atau membuat kesepakatan agar orang tua secara bergantian mendampingi anak.
Hal yang sama berlaku pada keuangan. Keinginan untuk memiliki kondisi ekonomi yang lebih sehat perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun dana cadangan sesuai kemampuan, atau mengevaluasi pengeluaran rutin. Pada kesehatan, niat untuk hidup lebih sehat perlu hadir dalam pilihan makanan, waktu tidur, aktivitas fisik, dan pemeriksaan yang diperlukan.
Dengan demikian, manajemen keluarga bergerak dari arah → keputusan → rencana → kebiasaan → hasil. Tidak semua rencana akan berjalan sempurna. Kehidupan keluarga terlalu dinamis untuk diperlakukan sebagai sistem yang tidak boleh berubah. Karena itu, rencana perlu dievaluasi dan disesuaikan ketika kondisi keluarga berubah.
Pada akhirnya, keluarga tidak perlu mengukur keberhasilannya dari seberapa penuh kalender mereka. Ukuran yang lebih penting adalah apakah berbagai aktivitas tersebut membawa keluarga semakin dekat kepada tujuan yang telah disepakati.
Kita boleh sibuk. Kita boleh produktif. Tetapi keluarga juga perlu bertanya secara berkala: apakah semua kesibukan ini benar-benar membuat kita bertumbuh?
Pertanyaan itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar. Dalam mengelola keluarga, manusia bukan sekadar bagian dari sistem yang harus dibuat efisien. Ada perasaan, kebutuhan, usia, kesehatan, hubungan, dan martabat yang tidak selalu dapat diukur dengan angka.
Karena itu, pada bagian berikutnya kita akan melihat mengapa yang efisien belum tentu selalu baik bagi keluarga. (im)





