Saifuddin Qutuz – Pemimpin Ditengah Ancaman Kehancuran Dunia Islam

by -1393 Views

Pada pertengahan abad ke-13, dunia Islam menghadapi salah satu periode paling genting dalam sejarahnya. Baghdad telah jatuh pada 1258, kekuasaan Abbasiyah di pusat dunia Islam mengalami kehancuran. Pasukan Mongol terus bergerak ke wilayah Syam. 

Mesir menjadi salah satu kekuatan penting yang masih berdiri dihadapan ancaman tersebut. Ditengah situasi inilah nama Saifuddin Qutuz muncul dalam panggung sejarah.

Al-Malik al-Muzaffar Saifuddin Qutuz hanya memerintah Mesir dalam waktu yang sangat singkat, sekitar satu tahun, pada 1259–1260. 

Dalam waktu yang terbatas itu, ia menghadapi persoalan yang luar biasa besar: ancaman Mongol dari luar, persaingan dan fragmentasi elite Mamluk di dalam negeri, kebutuhan membangun kekuatan militer, serta tuntutan untuk mengambil keputusan sebelum lawan menentukan arah permainan. Beberapa bulan setelah naik takhta, Qutuz harus berhadapan dengan pasukan Mongol dalam pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Ayn Jalut.

Dari Bangsawan Khwarazm Menjadi Mamluk

Riwayat awal Qutuz sendiri tidak biasa. Ia dikenal dengan nama asal Mahmud ibn Mamdud. Dalam sejumlah sumber dikaitkan dengan keluarga penguasa Khwarazm. Ketika wilayah Khwarazm dihancurkan dalam ekspansi Mongol, ia tertangkap dan masuk ke dalam jaringan perdagangan budak. Dari lingkungan tersebut, perjalanan hidupnya berlanjut hingga ke Mesir.

Di Kairo, Qutuz menjadi bagian dari sistem Mamluk, yaitu kelompok militer yang pada masa itu memiliki peran sangat besar dalam kehidupan politik Mesir. Ia berada dalam lingkungan Mamluk Mu‘izzi yang terkait dengan Sultan al-Mu‘izz Aybak. Dari posisi sebagai mamluk, Qutuz secara bertahap naik dalam struktur militer dan politik hingga mencapai jabatan Na’ib al-Saltana, wakil atau orang penting di bawah penguasa.

Perjalanan itu berlangsung dalam lingkungan politik yang penuh persaingan. 

Pada 1254, Qutuz terlibat dalam peristiwa yang berujung pada terbunuhnya Faris al-Din Aqtay, salah satu tokoh penting kelompok Bahri. Peristiwa tersebut mendorong sejumlah Mamluk Bahri, termasuk Baybars, meninggalkan Mesir. 

Konflik antarfaksi ini kemudian menjadi bagian penting dari persoalan politik yang harus dihadapi Qutuz ketika ancaman Mongol semakin dekat.

Dari Wakil Sultan Menjadi Penguasa Mesir

Setelah kematian Aybak dan Shajar al-Durr, putra Aybak, al-Mansur Nur al-Din ‘Ali, menjadi sultan. Namun, karena usianya masih muda, kekuasaan efektif berada di tangan para pejabat dan komandan senior. Qutuz termasuk tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan.

Situasi berubah drastis setelah jatuhnya Baghdad dan semakin dekatnya ancaman Mongol.

Pada akhir 1259, Qutuz mengambil alih kekuasaan dan menjadi Sultan al-Malik al-Muzaffar. Keputusan tersebut berlangsung dalam keadaan darurat. Ia bukan hanya harus mempertahankan kedudukannya sebagai penguasa, tetapi juga harus menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana mempertahankan Mesir ketika kekuatan Mongol telah menghancurkan kerajaan-kerajaan besar di kawasan tersebut?

Qutuz kemudian berusaha memperkuat posisi internal. Ia membuka jalan bagi kembalinya Baybars dan sejumlah Mamluk Bahri yang sebelumnya meninggalkan Mesir. Dalam menghadapi ancaman yang semakin besar, berbagai kelompok yang sebelumnya berseberangan harus ditempatkan dalam satu kepentingan yang lebih luas. Pasukan harus dipersiapkan, pembiayaan harus dicari, dan dukungan politik harus dibangun.

Sumber-sumber sejarah juga mencatat adanya konsultasi dengan ulama dan elite mengenai kebutuhan pembiayaan perang. Nama ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam sering dikaitkan dengan episode tersebut, meskipun rincian ceritanya berbeda dalam sumber-sumber yang ada. Tetapi yang jelas, persiapan menghadapi Mongol membutuhkan mobilisasi sumber daya dalam skala besar.

Menuju Ayn Jalut:  “Wa Islamah!”

Pada 1260, keadaan berubah ketika Hülegü menarik sebagian besar kekuatan utamanya ke arah timur setelah wafatnya Möngke Khan. Pasukan Mongol di Syam kemudian berada di bawah komando Kitbugha. Bagi Qutuz, keadaan tersebut menciptakan ruang untuk mengambil inisiatif sebelum kekuatan Mongol kembali terkonsolidasi.

Pasukan Mamluk bergerak menuju Palestina. Pasukan pendahulu yang dipimpin Baybars berhadapan dengan kekuatan Mongol di sekitar Gaza. Setelah itu, kedua pihak bertemu di Ayn Jalut pada 3 September 1260.

Dalam pertempuran tersebut, Baybars memainkan peran penting dalam operasi awal, sementara Qutuz berada sebagai pemimpin tertinggi pasukan Mamluk. 

Pertempuran berlangsung keras dan tidak berjalan tanpa risiko bagi pihak Mamluk. Dikisahkanditengah dahsyatnya permepuran, Qutuz mengangkat seruan “Wa Islamah!

Seruan yang bermakna “Wahai Islam!”. Seruan untuk membela Islam. Seruan ini dipahami bukan sekadar sebagai teriakan seorang komandan kepada pasukannya, tetapi sebagai upaya membangkitkan kesadaran bahwa mereka sedang menghadapi ancaman yang dirasakan melampaui kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan seorang Sultan. 

Seruan Qutuz, mengarahkan perhatian pasukan diarahkan kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri: keselamatan masyarakat dan dunia Islam yang pada saat itu sedang berada dalam tekanan berat dari kekuatan superpower Mongol. Seruan “Wa Islamah!” ini menyatukan keberanian ketika manusia berada dalam keadaan paling genting.

Semangat pasukan yang sedang menghadapi tekanan berat kembali bangkit. 

Dalam keadaan krisis, seorang pemimpin tidak selalu memiliki kesempatan untuk menjelaskan strategi secara panjang lebar. Pada saat tertentu, ia membutuhkan simbol, bahasa, dan kehadiran yang mampu menghubungkan orang-orang dengan tujuan yang mereka anggap lebih besar daripada rasa takut mereka. 

Seruan “Wa Islamah!” kemudian dikenang justru karena menggambarkan momen ketika kepemimpinan hadir bukan hanya melalui perintah, tetapi melalui kemampuan membangkitkan makna dan keberanian bersama. Setelah itu, pasukan Mamluk mampu mempertahankan tekanan hingga kekuatan Mongol akhirnya terpukul dan Kitbugha tewas dalam pertempuran.

Kemenangan di Ayn Jalut menjadi titik penting dalam sejarah kawasan. Pasukan Mongol tidak berhasil melanjutkan ekspansinya ke Mesir. 

Setelah kemenangan tersebut, Qutuz bergerak ke Damaskus dan mulai menata kembali wilayah Syam yang berada dalam kekuasaan Mamluk.

Kemenangan yang Tidak Berumur Panjang

Namun, kemenangan militer tidak otomatis menyelesaikan persoalan politik. Setelah ancaman Mongol mereda, persaingan diantara para elite Mamluk kembali muncul ke permukaan. Hubungan antara Qutuz dan Baybars memburuk. 

Pada 23 Oktober 1260, dalam perjalanan kembali menuju Mesir, Qutuz dibunuh oleh sekelompok Mamluk yang terlibat dalam sebuah konspirasi. Sumber-sumber sejarah menempatkan Baybars sebagai tokoh utama yang kemudian mengambil alih kekuasaan dan menjadi sultan.

Kehidupan Qutuz berakhir hanya beberapa bulan setelah kemenangan yang membuat namanya dikenang dalam sejarah. Ia pernah menjadi tawanan, mamluk, pejabat militer, penguasa, dan akhirnya pemimpin sebuah negara yang menghadapi salah satu ancaman terbesar pada zamannya.

Kisah sejarah ini menarik bukan semata-mata karena Qutuz memenangkan Ayn Jalut. Justru karena masa pemerintahannya sangat singkat dan situasinya begitu kompleks, perjalanan hidupnya memperlihatkan sebuah persoalan yang lebih mendasar: apa yang terjadi ketika seseorang harus memimpin dalam keadaan ketika waktu terbatas, informasi tidak sempurna, kepentingan internal saling bertabrakan, dan kesalahan keputusan dapat menentukan hidup atau matinya sebuah negara?

Di titik inilah kisah Saifuddin Qutuz mulai relevan untuk dibaca bukan hanya sebagai sejarah seorang sultan, tetapi sebagai sebuah kasus kepemimpinan dalam krisis (leadership in crisis). 

Sejarah menyediakan peristiwa dan keputusan; tugas kita adalah memahaminya dengan melihat konteks, pilihan yang tersedia, keterbatasan yang dihadapi, tindakan yang diambil, serta konsekuensi yang muncul sesudahnya. Dengan cara pandang tersebut, Qutuz tidak perlu ditempatkan sebagai sosok yang sempurna untuk menjadi penting. Ia justru menarik karena memimpin ketika keadaan tidak ideal dan ketika setiap keputusan memiliki harga.

Dari sinilah pembahasan buku ini dimulai. Ini bukan tentang kisah Saifuddin Qutuz sebagai seorang pemimpin yang sempurna, melainkan tentang pelajaran yang bisa kita ambil, bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan, menyatukan orang, mengalokasikan sumber daya, dan menggerakkan organisasi ketika krisis tidak memberikan banyak waktu untuk berpikir ulang?

Saifuddin Qutuz, sebagai pemimpin mampu menjawab pertanyaan. Dunia Islam yang tersisa saat itu, mampu bertahan dari gempuran adidaya Mongol. Eksistensi kaum muslimin bisa dipertahankan dan kembali bangkit berkembang.

Dari kepemimpinan Saifuddin Qutuz ini, kita akan mengambil banyak pelajaran tentang Kepemimpinan di Masa Krisis (Leadership in Crisis). Insya Allah.(im)

Daftar Pustaka

  1. Holt, Peter Malcolm. The Age of the Crusades: The Near East from the Eleventh Century to 1517. London: Longman, 1986.
  2. Irwin, Robert. The Middle East in the Middle Ages: The Early Mamluk Sultanate, 1250–1382. London: Croom Helm, 1986.
  3. Jackson, Peter. The Mongols and the Islamic World: From Conquest to Conversion. New Haven: Yale University Press, 2017.
  4. Petry, Carl F. The Mamluk Sultanate: A History. Cambridge: Cambridge University Press, 2022.
  5. Penulis Anonim / Studi Biografi Klasik. Sirah al-Malik al-Zahir Baybars (سيرة الملك الظاهر بيبرس). Cairo: Maktabah al-Thaqafah al-Diniyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.