Keluarga Bukan Sekadar Tempat Tinggal

by -1315 Views

Sebuah rumah mungkin dilihat sebatas sebagai bangunan yang memiliki dinding, atap, kamar, ruang keluarga, dapur, dan berbagai fasilitas. Namun, keluarga tidak pernah hanya hidup di dalam bangunan tersebut. 

Di dalamnya berlangsung proses yang jauh lebih kompleks: orang tua mendidik anak, suami dan istri membangun hubungan, anggota keluarga bekerja, beristirahat, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, menjalankan ibadah, dan membentuk kebiasaan yang perlahan menjadi budaya keluarga.

Keluarga lebih tepat dipahami sebagai ekosistem kehidupan. Berbagai unsur di dalamnya saling berhubungan sehingga perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Ketika pekerjaan orang tua bertambah, misalnya, perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan. Waktu bersama anak dapat berkurang, pembagian tugas rumah tangga mungkin perlu disesuaikan, waktu istirahat dapat berubah, dan hubungan suami-istri mungkin membutuhkan pola komunikasi yang berbeda. 

Begitupula ketika kondisi kesehatan salah satu anggota keluarga berubah; dampaknya dapat menjalar pada penggunaan waktu, keuangan, pekerjaan, bahkan hubungan antar anggota keluarga.

Apa yang Dimiliki Sebuah Keluarga?

Jika keluarga dipandang sebagai sebuah ekosistem, kita kemudian perlu mengenali apa saja yang menopang kehidupan di dalamnya. Jawabannya jauh lebih luas daripada uang dan aset material.

Keluarga memiliki waktu yang dapat digunakan untuk bekerja, beribadah, mendidik anak, beristirahat, membangun hubungan, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Keluarga juga memiliki tenaga dan kesehatan, pengetahuan dan keterampilan, pengalaman, perhatian, hubungan sosial, ruang, teknologi, aset, akses terhadap pekerjaan, serta berbagai kesempatan yang mungkin tidak selalu terlihat sebagai “kekayaan”.

Sebagian sumber daya tersebut melekat pada anggota keluarga. Pengetahuan seorang ibu tentang pengasuhan, keterampilan seorang ayah dalam memperbaiki sesuatu, pengalaman kakek-nenek, kemampuan anak menggunakan teknologi, atau jaringan sosial keluarga semuanya dapat memiliki nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber daya keluarga tidak selalu berbentuk sesuatu yang dapat dihitung dalam rupiah. Ada sumber daya yang dapat disimpan, tetapi ada pula yang hanya dapat digunakan melalui waktu, tenaga, perhatian, dan hubungan antarmanusia.

Cara pandang ini membuat kita melihat keluarga dengan lebih utuh. Keluarga yang memiliki pendapatan sederhana tetap dapat mempunyai pengetahuan, keterampilan, hubungan sosial, dan pengalaman yang bernilai. Sebaliknya, keluarga dengan sumber daya material yang besar belum tentu memiliki kelimpahan dalam aspek waktu, perhatian, kesehatan, atau hubungan.

Mengenal Family Resource Management

Dalam kajian family resource management, keluarga dipandang sebagai unit yang terus membuat keputusan dalam menggunakan berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan kehidupan keluarga. 

Ruth E. Deacon dan Francille M. Firebaugh, misalnya, membahas keluarga sebagai unit pengambilan keputusan yang berinteraksi dengan sumber daya manusia dan material serta berbagai tuntutan kehidupan.

Elizabeth B. Goldsmith juga menempatkan pengelolaan sumber daya sebagai bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga, termasuk bagaimana keputusan dibuat mengenai penggunaan waktu, uang, energi, aset material, ruang, dan sumber daya sosial untuk mendukung tujuan keluarga.

Kerangka tersebut membantu kita memahami bahwa manajemen sumber daya keluarga bukan sekadar persoalan mengatur uang. Ia berkaitan dengan bagaimana sebuah keluarga mengenali apa yang tersedia, memahami kebutuhannya, kemudian membuat keputusan mengenai penggunaan berbagai sumber daya tersebut.

Di sinilah istilah family resource management menjadi relevan bagi kehidupan keluarga Muslim. Konsep ini memberikan kerangka untuk membaca keluarga secara sistematis tanpa harus mengubah keluarga menjadi organisasi bisnis. Apa yang dikelola bukan sekadar benda atau angka, tetapi berbagai sumber daya yang memungkinkan sebuah keluarga menjalani kehidupannya.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Mengenali sumber daya tidak berarti bahwa semua keluarga memiliki sumber daya dalam jumlah yang sama. Setiap keluarga memiliki kondisi, kemampuan, lingkungan, dan tahap kehidupan yang berbeda. Bahkan sumber daya yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda ketika konteks keluarga berubah.

Melihat Keluarga Secara Utuh

Cara pandang terhadap keluarga sebagai ekosistem akhirnya mengajarkan kita untuk tidak melihat persoalan secara terpisah-pisah. Persoalan keuangan dapat berhubungan dengan waktu dan pekerjaan; pendidikan anak berhubungan dengan pengetahuan, perhatian, kesehatan, dan hubungan orang tua; sementara kualitas hubungan keluarga dapat dipengaruhi oleh hampir seluruh aspek kehidupan rumah tangga.

Dengan mengenali keterhubungan tersebut, kita mulai memahami bahwa kehidupan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Kita membutuhkan kesadaran terhadap berbagai sumber daya yang tersedia dan bagaimana sumber daya tersebut berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi setelah kita mengetahui bahwa keluarga memiliki banyak sumber daya, muncul persoalan berikutnya: apakah semuanya dapat digunakan tanpa batas?

Tentu tidak. Waktu memiliki batas, energi memiliki batas, penghasilan memiliki batas, ruang memiliki batas, dan kemampuan manusia juga memiliki batas. Bahkan perhatian yang dapat diberikan kepada anggota keluarga pada suatu waktu pun tidak selalu tidak terbatas.

Setelah memahami apa saja yang dimiliki keluarga, kita perlu bertanya tentang sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana seharusnya kita memperlakukan semua yang telah berada dalam kehidupan kita?

Pertanyaan tersebut membawa kita dari pembahasan tentang resource menuju konsep yang menjadi fondasi keluarga Muslim: amanah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.