Keluarga Adalah Amanah

by -1225 Views

Ketika berbicara tentang kehidupan keluarga, kita terbiasa mengatakan “keluarga kita”, “rumah kita”, “uang kita”, “waktu kita”, atau “anak kita”. Bahasa tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan tentu tidak salah. 

Perspektif Islam mengajak kita melihat kepemilikan dan tanggung jawab melalui cara pandang yang lebih dalam: apa yang berada dalam kehidupan kita pada hakikatnya adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Disinilah konsep amanah menjadi penting.

Amanah mengubah cara kita memandang keluarga. Kita tidak hanya bertanya bagaimana mendapatkan manfaat dari sesuatu yang kita miliki, tetapi juga bagaimana menjaga, menggunakan, dan menjalankannya sesuai tanggung jawab yang melekat padanya.

Keluarga, dengan seluruh anggota dan sumber dayanya, bukan sekadar ruang privat tempat kita bebas menentukan segala sesuatu. Ia merupakan ruang kehidupan yang di dalamnya terdapat hak, kewajiban, tanggung jawab, dan pertanggungjawaban.

Setiap Orang Memiliki Amanah

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ini memberikan fondasi penting bagi kehidupan keluarga. Istilah rā‘in tidak hanya menunjuk pada seseorang yang memiliki kewenangan, tetapi juga mengandung makna menjaga dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang berada dalam lingkup tanggungannya.

Kehidupan keluarga tidak semestinya dipahami sebagai hubungan antara pihak yang memerintah dan pihak yang diperintah. Suami memiliki tanggung jawabnya, istri memiliki tanggung jawabnya, dan anak sesuai usia serta kemampuannya juga perlu belajar mengenal tanggung jawab. 

Perbedaan peran tidak menjadikan seseorang lebih tinggi nilai kemanusiaannya daripada yang lain.

Cara pandang ini juga membantu kita memahami bahwa keluarga membutuhkan ta‘āwun, yaitu saling membantu dalam kebaikan. Rumah tangga bukan arena untuk menghitung siapa yang paling banyak memberi dan siapa yang paling sedikit menerima, melainkan tempat berbagai amanah dijalankan secara bersama-sama melalui pembagian tanggung jawab, musyawarah, dan saling menguatkan.

Anak, Harta, dan Waktu Bukan Sekadar Milik

Konsep amanah menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang sumber daya keluarga.

Anak, misalnya, tidak tepat diperlakukan sebagai aset yang harus menghasilkan prestasi tertentu demi kebanggaan orang tua. Ia adalah manusia yang memiliki kehormatan, kebutuhan, potensi, hak, dan perjalanan hidupnya sendiri. Orang tua memiliki amanah untuk merawat, melindungi, mendidik, membimbing, dan mempersiapkannya agar tumbuh menjadi pribadi yang matang dan bertanggung jawab.

Hal yang sama berlaku terhadap harta. Harta memang berada dalam penguasaan seseorang, tetapi cara memperolehnya dan cara menggunakannya tetap memiliki dimensi tanggung jawab. Begitu pula waktu dan kesehatan. Kita dapat menggunakan keduanya, tetapi tidak dapat mengklaim bahwa seluruh penggunaannya bebas dari pertanggungjawaban.

Perspektif amanah karena itu memberikan batas moral terhadap pengelolaan sumber daya. Sesuatu yang efisien belum tentu tepat apabila cara mencapainya mengabaikan hak anggota keluarga. Penghematan belum tentu menjadi kebaikan apabila dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan yang seharusnya dipenuhi. 

Demikian pula pencapaian ekonomi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan keluarga jika proses mencapainya justru mengabaikan tanggung jawab lain.

Dari Kepemilikan Menuju Pertanggungjawaban

Amanah mengubah pertanyaan sederhana “apa yang saya punya?” menjadi pertanyaan yang lebih bertanggung jawab: “apa yang harus saya jaga?”

Seorang ayah mungkin memandang penghasilannya sebagai hasil kerja keras pribadi, tetapi sebagai bagian dari keluarga ia juga perlu melihat tanggung jawab yang melekat pada penghasilan tersebut. Seorang ibu mungkin memiliki banyak kemampuan dalam mengurus rumah dan mendidik anak, tetapi kemampuan tersebut juga merupakan amanah yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan keluarga. Demikian pula setiap anggota keluarga memiliki sesuatu yang dapat dikontribusikan sesuai kemampuan dan tahap kehidupannya.

Cara pandang ini membuat manajemen keluarga memiliki fondasi moral. Kita tidak mengelola sumber daya semata-mata agar kehidupan menjadi lebih efisien, nyaman, atau produktif, tetapi agar apa yang dipercayakan kepada kita dapat digunakan dengan benar.

Amanah tidak berarti bahwa manusia memiliki kemampuan tanpa batas. Justru karena manusia memiliki keterbatasan, amanah membutuhkan kebijaksanaan dalam menentukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana sumber daya digunakan.

Waktu kita terbatas. Tenaga terbatas. Pendapatan memiliki batas. Perhatian juga terbatas. Sementara kebutuhan keluarga dapat berubah dan berkembang seiring perjalanan kehidupan.

Setelah memahami bahwa sumber daya keluarga adalah amanah, kita perlu melihat kenyataan berikutnya: amanah tersebut harus dijalankan dengan sumber daya yang terbatas.

Disinilah kita mulai berhadapan dengan persoalan tentang kelangkaan, kemampuan, dan kondisi nyata setiap keluarga—tema yang akan kita bahas pada artikel berikutnya.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.