Step by Step to Leadership: Fondasi Kepemimpinan

by -1363 Views

Kepemimpinan seringkali disalahpahami sebagai konsekuensi otomatis dari sebuah jabatan. Ketika seseorang menduduki posisi manajer, direktur, ketua organisasi, atau pejabat publik, ia dianggap telah menjadi pemimpin. 

Padahal, jabatan hanya memberikan otoritas formal. Kemampuan menggerakkan manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: karakter, integritas, kompetensi, dan kepercayaan.

Harold Koontz dan Heinz Weihrich dalam Management mendefinisikan kepemimpinan sebagai “Leadership is generally defined simply as influence, the art or process of influencing people so that they will strive willingly toward the achievement of group goals”—kepemimpinan adalah pengaruh, seni atau proses memengaruhi orang lain sehingga mereka bersedia berjuang mencapai tujuan kelompok. 

Disinilah perbedaan mendasar antara memiliki jabatan dan memiliki kepemimpinan. Pemimpin bekerja dengan pengaruh, bukan semata-mata dengan perintah.

Kepemimpinan Dimulai dari Perjalanan

John Adair dalam Develop Your Leadership Skills mengingatkan bahwa kata lead memiliki akar makna “sebuah jalan, perjalanan” (“a way, journey”) dan “melakukan perjalanan” (“to travel”). Karena itu, ia menyatakan, “Leadership is a word about a journey. If you are not on a journey, don’t bother with leadership—be content with management.”

Pandangan ini penting bagi setiap orang yang sedang membangun organisasi. Kepemimpinan bukan aktivitas mempertahankan posisi, tetapi perjalanan menuju tujuan. Karena itu, pemimpin harus mampu menjawab bukan hanya apa yang harus dikerjakan, tetapi juga mengapa pekerjaan itu penting.

Adair menegaskan, “Leadership is also about answering the why as well as the what.” Seorang bos mungkin mengatakan apa yang harus dilakukan. Seorang pemimpin menjelaskan alasan dibaliknya sehingga orang bersedia bergerak dengan kesadaran sendiri.

Bukan Bos, tetapi Pemimpin

John Adair dalam Bukan Bos Tetapi Pemimpin memberikan pembeda yang sederhana tetapi mendalam: “Pemimpin adalah teladan. Bos adalah kedudukan. Pemimpin dihormati, Bos ditakuti… Pemimpin menggunakan kekuasaan secara cerdas dan peka. Maka ia memiliki kewenangan tanpa menjadi sewenang-wenang.”

Artinya, posisi formal tidak otomatis menghasilkan followership. Koontz bahkan menyatakan bahwa “the essence of leadership is followership”—esensi kepemimpinan adalah kepengikutan. Orang mengikuti bukan semata karena harus, tetapi karena percaya kepada orang yang memimpin.

Dag Hammarskjöld memberikan prinsip yang sangat relevan: “Posisi Anda tidak memberi Anda hak untuk memerintah. Posisi itu hanya mengenakan pada diri Anda kewajiban untuk meneladankan sikap yang sesuai dengannya sehingga orang lain bisa menerima perintah Anda tanpa merasa direndahkan.”

Inilah pergeseran dari authority menuju influence

Seorang manajer dapat ditunjuk melalui struktur organisasi. Namun, menurut Adair, “Anda bisa saja ditunjuk sebagai manajer, tetapi Anda bukan seorang pemimpin sampai kepribadian dan karakter Anda, pengetahuan dan kecakapan Anda dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan diakui dan diterima oleh semua orang lain yang bekerja bersama Anda.”

Membangun The Leadership Foundation

Sebelum mempelajari teknik briefing, decision making, problem solving, atau pengelolaan tim, seorang pemimpin harus membangun the leadership foundation.

Pertama adalah Self-Leadership. John Adair mengatakan, “Yang pertama-tama harus dilakukan seorang pemimpin adalah menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.” Pemimpin yang tidak mampu mengelola waktu, emosi, disiplin, dan perilakunya sendiri akan sulit meminta orang lain melakukan hal yang sama.

Kedua adalah integritas. Adair menyebut integritas sebagai kualitas yang membuat orang percaya: “Integritas. Ini adalah kualitas yang membuat orang memercayai Anda. Dan kepercayaan sangat penting dalam semua hubungan manusia—profesional maupun pribadi.” Ia mengingatkan, “Sebab kepemimpinan yang tidak bertumpu pada batu karang integritas tidak akan bertahan lama: ia akan selalu runtuh.”

Ketiga adalah sumber authority. Adair menjelaskan adanya otoritas posisi dan pangkat, pengetahuan, kepribadian, serta moral. Karena itu, “Authority flows to the one who knows.” Ia juga mengingatkan bahwa “Semua untaian otoritas utama—posisi, pengetahuan, dan kepribadian—adalah penting… Ini seperti tali dengan tiga untaian. Jangan pertaruhkan seluruh berat badan Anda hanya pada satu untaian saja.”

Memimpin sebagai Amanah dan Layanan

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan semakin jauh dari konsep privilege. Ia adalah amanah. Pemimpin bukan pemilik manusia yang dipimpinnya, melainkan pihak yang bertanggung jawab memastikan tugas tercapai, tim tetap solid, dan individu berkembang.

Karena itu, prinsip Serve to Lead—Melayani untuk Memimpin—menjadi sangat relevan. Kepemimpinan yang sehat dimulai dari kesediaan memberikan diri untuk kepentingan tujuan bersama.

Harold Koontz juga menegaskan pentingnya martabat manusia: “Konsep martabat individu, yang diturunkan dari filsafat etika, berarti bahwa orang harus diperlakukan dengan rasa hormat, apa pun posisi mereka dalam organisasi.”

Maka, fondasi kepemimpinan bukan pertama-tama tentang bagaimana memerintah manusia, tetapi bagaimana membentuk diri agar layak diikuti. Dari sinilah perjalanan Step by Step to Leadership dimulai: dari Self-Leadership, integritas, otoritas, pelayanan, hingga kemampuan menyelesaikan tugas, membangun tim, dan mengembangkan individu melalui prinsip Action-Centred Leadership.

Pemimpin yang efektif pada akhirnya bukanlah orang yang paling banyak memerintah, melainkan orang yang mampu membuat manusia bergerak dengan kesadaran, kepercayaan, dan tujuan yang sama. (im)

Referensi

  • Harold Koontz & Heinz Weihrich. Management.
  • John Adair. Develop Your Leadership Skills.
  • John Adair. Bukan Bos Tetapi Pemimpin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.