Kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa kuat ia mencengkeram organisasi, tetapi dari seberapa baik ia mempersiapkan organisasi untuk tetap berjalan ketika dirinya tidak lagi berada di posisi kepemimpinan.
Pemimpin yang baik tidak menciptakan ketergantungan personal. Ia membangun sistem, kader, budaya, dan struktur yang memungkinkan organisasi tetap hidup.
John Adair dalam Effective Strategic Leadership menegaskan bahwa “keberlanjutan (sustainability) sangat penting sehingga seorang komandan tertinggi (commander-in-chief) harus selalu memiliki pengawasan terhadap hal tersebut.”
Leadership versus Personality Cult
Ketergantungan kepada figur merupakan tanda organisasi yang belum matang. Henry Mintzberg dalam The Structuring of Organizations menggambarkan Simple Structure sebagai organisasi yang keputusan strategis dan operasionalnya berpusat pada pemimpin:
“Di dalam Struktur Sederhana, keputusan-keputusan mengenai strategi dan operasi [berkisar di sekitar pemimpin]. Seluruh hal di dalam struktur tersebut berputar di sekitar wirausahawan. Sasaran-sasarannya adalah sasarannya, strateginya adalah visinya tentang tempat organisasi di dunia.”
Dalam kondisi demikian, “otoritas dikaitkan secara eksklusif dengan seorang individu.” Jika figur tersebut hilang, organisasi mudah kehilangan arah.
Karena itu kepemimpinan harus dijauhkan dari personality cult. Musthafa Masyhur dalam Al Qiyadah wal Jundiyah mengingatkan pemimpin untuk: “Senantiasa mengharapkan akhirat dengan ikhlas karena Allah semata. Berhati bersih, jauh dari penyakit hati yang dapat menghancurkan amal usahanya, seperti riya’, gila kekuasaan, gandrung pangkat dan kebesaran serta pengaruh…”
Bahkan ketika harus turun, pemimpin harus rela: “Jika misalnya kita diharuskan mundur dan menyerahkan kursi kepemimpinan kepada orang yang lebih baik dengan pertimbangan kebaikan jama’ah, maka kita dengan rela harus menyerahkannya.”
Prinsipnya jelas: “Kepentingan Amal Islami -lah yang harus didahulukan dari segala-galanya.”
Sistem versus Figur
Organisasi yang sehat bergerak dari dominasi figur menuju keandalan sistem. Mintzberg menjelaskan pergeseran dari direct supervision menuju standardization of work processes, standardization of outputs, dan standardization of skills.
Dalam Al Qiyadah wal Jundiyah, Masyhur menekankan pentingnya nizham: “suatu hal yang amat penting ialah harus mengikuti sistem, tata tertib dan peraturan yang mengatur seluruh gerakan dan amal usaha, yang menentukan pengkhususan dan membuat jaminan untuk kebaikan perjalanan gerakan serta melindungi dari kerusakan, penyelewengan atau tergelincir.”
Sistem tersebut memastikan jamaah bergerak berdasarkan hasil syura, ketentuan, dan kebijakan organisasi, bukan berdasarkan selera pribadi pemimpin.
Succession Planning dan Regenerasi
Pemimpin strategis harus selalu menyiapkan penerus. John Adair menyebut salah satu fungsi penting kepemimpinan: “Memilih Pemimpin Hari Ini dan Mengembangkan Pemimpin Hari Esok” (Choosing Today’s Leaders and Developing Tomorrow’s Leaders).
Dalam succession planning, Adair mengingatkan: “Contoh lain dari tujuan pribadi yang umum, ketika waktu seseorang untuk beranjak pergi semakin dekat, adalah mengidentifikasi penerus yang tepat, dari dalam atau luar organisasi, untuk mengambil alih kemudi.”
Bahkan ia menegaskan: “Setidaknya salah satu dari mereka harus berada di dalam jalur untuk menjadi penerus Anda.”
Musthafa Masyhur menghubungkan regenerasi dengan tarbiyah: “Pimpinan harus memberikan perhatian yang cukup kepada masalah pendidikan (tarbiyah), menyiapkan kader dan calon pengganti… Sistem tarbiyah akan melahirkan individu-individu yang baik dan mampu memikul tanggungjawab yang dapat meringankan beban pimpinan.”
Regenerasi juga harus mencegah generational gap. Generasi baru tidak boleh dipaksa memulai dari nol, tetapi harus “menimba dan mengambil manfaat dari pengalaman dan kemahiran generasi sebelumnya.”
Delegasi Strategis
Organisasi tidak akan mandiri jika pemimpin masih mengerjakan semuanya. Adair memberikan prinsip penting: “Jadilah seorang arsitek daripada seorang pembangun utama (master builder).”
Pemimpin strategis harus mendelegasikan proses operasional kepada para pemimpin di bawahnya. Dengan demikian, ia dapat berkonsentrasi pada kepemimpinan strategis.
Masyhur juga mengingatkan pemimpin “tidak boleh memaksakan diri mengerjakan aktivitas yang dapat dikerjakan orang lain”, melainkan membagi tugas sesuai kelaikan dan kemampuan masing-masing.
Institutionalization dan Knowledge Documentation
Pengalaman organisasi harus dilembagakan (institutionalization) dan didokumentasikan (knowledge documentation). Jika tidak, pengetahuan akan hilang bersama pergantian generasi.
Masyhur menegaskan: “Pimpinan jama’ah juga diharapkan agar terus-menerus mengembangkan khazanah ilmu, kecakapan dan pengalaman yang telah diperoleh jama’ah dan menjadikannya sebagai pusaka yang harus diwarisi generasi kemudian tanpa menguranginya.”
Pengetahuan organisasi harus diwariskan secara sistematis: “Jadi setiap anggota harus mewarisi pemahaman ini dengan sempurna dan lengkap dari satu angkatan kepada angkatan yang lain.”
Leadership Culture dan Pemimpin yang Bisa Pergi
Sistem tidak akan hidup tanpa leadership culture. Adair menulis: “Tidak ada cara lain untuk memimpin organisasi global kecuali melalui kepemimpinan dari sebuah visi dan nilai-nilai yang dilayani oleh semua orang, termasuk para kepala eksekutifnya sendiri.”
Pada akhirnya, kualitas pemimpin diuji ketika ia mampu meninggalkan organisasi dengan sehat. Masyhur menegaskan: “Pimpinan harus melatih anggotanya dalam memikul tugas, mempersiapkan lapisan pemimpin yang akan menggantikannya…”
Ia juga mengingatkan: “Seorang pemimpin harus menyadari bahwa dirinya tidak mungkin terus-menerus menjadi pemimpin untuk selama-lamanya.”
Bahkan seorang mantan pemimpin harus siap kembali menjadi anggota: “Apabila kita dibebaskan dari pimpinan, kita harus terus mendengar dan taat kepada pimpinan baru, meskipun dahulunya dia anak buah kita.”
Inilah puncak kepemimpinan: mampu pergi tanpa membuat organisasi kehilangan arah. Pemimpin boleh berganti, tetapi visi, nilai, sistem, budaya, dan kader harus tetap hidup. Legacy terbesar seorang pemimpin bukanlah lamanya ia memegang jabatan, melainkan kokohnya organisasi setelah ia meninggalkan jabatan tersebut. (im)





