Oleh: Yadi Mulyadi, SH
Setiap organisasi membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan anggota yang disiplin. Tanpa itu, visi hanya menjadi slogan dan strategi berhenti di ruang rapat.
Dalam praktiknya, hubungan antara pemimpin dan anggota sering jatuh pada dua ekstrem: terlalu longgar hingga kehilangan arah, atau terlalu kaku hingga mematikan daya kritis.
Dalam manhaj dakwah, kita mengenal konsep qiyadah wal jundiyah—hubungan kepemimpinan dan kedisiplinan kader—sering dipahami melalui frasa sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami taat.
Masalah muncul ketika konsep ini dipersempit menjadi kepatuhan tanpa nalar.
Padahal, jika ditarik ke prinsip Islam yang lebih luas, ketaatan selalu berada dalam kerangka akuntabilitas, syura, dan loyalitas terhadap nilai.
Ketaatan Itu Bersyarat
Islam tidak mengenal kepatuhan absolut kepada manusia. Prinsip dasarnya jelas: la tha’ata li makhluqin fi ma’shiyatil khaliq. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Sang Pencipta. Artinya, loyalitas organisasi memiliki batas moral.
Seorang anggota dituntut disiplin, tetapi bukan kehilangan kompas etik. Dalam konteks modern leadership, ini sejalan dengan konsep values-based leadership: kepemimpinan yang berpijak pada prinsip, bukan sekadar kekuasaan.
John C. Maxwell bahkan menegaskan “People buy into the leader before they buy into the vision.” Orang mempercayai pemimpin sebelum mempercayai visinya.
Namun kepercayaan ini tidak boleh berubah menjadi kultus. Pemimpin dipercaya selama menjaga integritas, rasionalitas, dan keberpihakan pada misi organisasi.
Karena itu, atha’na bukan cek kosong. Ia adalah komitmen yang lahir dari keyakinan bahwa keputusan berada dalam koridor yang benar.
Kepemimpinan Harus Akuntabel
Ketaatan yang sehat hanya tumbuh dari kepemimpinan yang akuntabel.
Manhaj Islam memberikan teladan kuat dalam figur Umar bin Khattab. Sebagai khalifah, beliau tidak menempatkan dirinya diatas kritik. Bahkan ruang publik menjadi tempat koreksi terbuka.
Kisah terkenal ketika Umar dikoreksi terkait pembatasan mahar menunjukkan bahwa pemimpin dalam Islam tidak imun terhadap evaluasi. Budaya ini sangat modern.
Ray Dalio dalam Principles menulis: “Create a culture in which it is okay to make mistakes and unacceptable not to learn from them.” Bangun budaya di mana membuat kesalahan itu wajar, tetapi tidak belajar darinya tidak dapat diterima.
Organisasi sehat bukan yang bebas salah, tetapi yang terbuka terhadap koreksi.
Dalam dunia politik maupun bisnis, akuntabilitas jauh lebih penting. Pemimpin publik mengelola amanah, anggaran, dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, struktur yang sehat harus membuka ruang evaluasi, bukan menutupnya atas nama loyalitas.
Syura: Musyawarah yang Substantif
Konsep syura sering dipahami sebatas prosedur formal: rapat, diskusi, lalu keputusan. Padahal esensinya lebih dalam.
Syura berarti mendengar sungguh-sungguh, membuka ruang perbedaan, dan memberi kesempatan anggota menyampaikan perspektifnya.
Amy Edmondson menyebut kondisi ini sebagai psychological safety: lingkungan yang membuat anggota aman untuk berbicara. Ia menulis: “The best teams are not the ones without conflict, but the ones that can surface conflict productively.” Tim terbaik bukan yang tanpa konflik, tetapi yang mampu mengelola perbedaan secara produktif.
Dalam kerangka qiyadah wal jundiyah, syura adalah mekanisme menjaga organisasi tetap rasional. Keputusan boleh sentralistik setelah musyawarah selesai, tetapi proses sebelum itu harus terbuka.
Tanpa syura yang autentik, organisasi mudah jatuh pada groupthink—semua tampak setuju, padahal banyak suara dibungkam.
Loyal pada Nilai, Bukan Membabi Buta pada Orang
Makna terdalam jundiyah bukan kehilangan akal kritis. Sebaliknya, ia adalah kombinasi antara loyalitas dan kedewasaan berpikir.
Anggota yang baik loyal pada nilai, visi, dan misi organisasi. Bukan pada individu secara absolut.
Jim Collins dalam Good to Great menulis:“Great vision without great people is irrelevant.” Visi besar tanpa orang-orang berkualitas tidak berarti.
Orang berkualitas adalah mereka yang mampu setia tanpa kehilangan objektivitas.Mereka mendukung kepemimpinan, tetapi tetap menjaga integritas intelektual.
Penutup: Menyeimbangkan Disiplin dan Nalar
Pada akhirnya, organisasi unggul membutuhkan dua hal sekaligus: disiplin dan akal sehat.
Terlalu bebas melahirkan fragmentasi. Terlalu patuh melahirkan stagnasi.
Karena itu, sami’na wa atha’na harus diposisikan secara proporsional: mendengar dengan penuh pemahaman, taat dalam kerangka nilai, dan tetap menjaga ruang kritik yang sehat.Inilah bentuk kedewasaan organisasi. Loyal, tetapi tidak kehilangan akal.Disiplin, tetapi tetap berintegritas.(im)







