Dalam berbagai kesempatan, seringkali saya menyampaikan, salah satu tantangan terbesar dalam organisasi modern bukan kekurangan ide, melainkan rendahnya konsistensi dalam menjalankan agenda.
Kita bisa melihat, banyak institusi memiliki visi besar, SDM berkualitas, dan perencanaan matang, tetapi gagal tumbuh karena lemahnya disiplin organisasi.
Program berganti-ganti, fokus mudah terpecah, dan energi habis untuk konflik internal.
Ditengah problem tersebut, konsep sami’na wa atha’na dalam manhaj dakwah Islam menawarkan sesuatu yang menarik: budaya organisasi yang menggabungkan disiplin, loyalitas, dan kecepatan eksekusi.
Konsep ini terhubung erat dengan qiyadah wal jundiyah: kepemimpinan yang jelas dan anggota yang siap bergerak.
Jika diterapkan secara sehat, pola ini memiliki sejumlah keunggulan yang bahkan relevan dengan teori organisasi modern.
Disiplin Tinggi: Program Tidak Berhenti di Ruang Rapat
Salah satu kekuatan utama konsep ini adalah disiplin.
Organisasi yang kuat membutuhkan kemampuan menerjemahkan keputusan menjadi aksi kolektif. Tanpa disiplin, strategi hanya menjadi dokumen yang indah tetapi tidak operasional.
Dalam banyak institusi, problem utamanya bukan tidak ada agenda, melainkan terlalu banyak agenda yang tidak selesai.
Konsep atha’na—ketaatan setelah keputusan diambil—mendorong organisasi bergerak serempak.
Larry Bossidy dalam Execution: The Discipline of Getting Things Done menulis: “Execution is the major job of the business leader.” Eksekusi adalah tugas utama pemimpin bisnis.
Kalimat ini menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi lebih banyak ditentukan oleh kualitas implementasi daripada sekadar kualitas ide.
Budaya sami’na wa atha’na menciptakan disiplin tersebut. Setelah proses diskusi dan arahan selesai, energi organisasi diarahkan pada pelaksanaan.
Akibatnya, program berjalan lebih stabil dan organisasi tidak mudah stagnan.
Soliditas Tinggi: Tidak Mudah Pecah oleh Ego Internal
Kelemahan umum organisasi modern adalah tingginya fragmentasi.Terlalu banyak ego, terlalu banyak agenda personal, dan terlalu sedikit kesadaran kolektif. Akibatnya, konflik internal lebih menguras energi dibanding kompetisi eksternal.
Dalam konteks ini, konsep jundiyah membangun budaya soliditas.Anggota tidak memosisikan diri sebagai individu yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari sistem yang memiliki misi bersama.
Patrick Lencioni dalam The Five Dysfunctions of a Team menulis: “Not finance. Not strategy. Not technology. It is teamwork that remains the ultimate competitive advantage.” Bukan finansial, strategi, atau teknologi. Kerja tim tetap menjadi keunggulan kompetitif utama.
Soliditas bukan berarti tidak ada perbedaan. Sebaliknya, ia berarti kemampuan mengelola perbedaan tanpa merusak struktur organisasi.
Gerakan yang memiliki soliditas tinggi cenderung lebih tahan terhadap tekanan eksternal, perubahan situasi, dan konflik internal.
Dalam politik, kualitas ini sangat penting. Organisasi yang mudah pecah akan sulit menjaga kesinambungan agenda publik.
Pertumbuhan Organisasi yang Lebih Cepat
Disiplin, soliditas, dan militansi pada akhirnya menciptakan satu hasil penting: percepatan pertumbuhan organisasi.
Organisasi yang tidak sibuk dengan konflik internal dapat mengalokasikan energinya untuk ekspansi program, penguatan SDM, dan inovasi.
Jim Collins dalam Good to Great menulis: “Greatness is not a function of circumstance. Greatness, it turns out, is largely a matter of conscious choice.” Keunggulan bukan ditentukan keadaan, melainkan hasil pilihan sadar.
Budaya organisasi juga merupakan pilihan sadar. Dan konsep sami’na wa atha’na, ketika dipahami secara proporsional, menawarkan kerangka budaya yang kuat.
Penutup: Kekuatan Ada pada Kesehatan Implementasi
Konsep ini menarik bukan karena menjanjikan kepatuhan total, tetapi karena mampu menciptakan organisasi yang bergerak.
Disiplin membuat program berjalan. Soliditas menjaga organisasi tetap utuh. Militansi memastikan agenda tidak berhenti di level wacana.
Karena itu, jika diterapkan secara sehat dan akuntabel, qiyadah wal jundiyah bukan sekadar konsep dakwah, tetapi model organisasi berdaya tahan tinggi.Organisasi yang tahu ke mana harus pergi—dan tahu bagaimana bergerak bersama. (im)






