Oleh: Yadi Mulyadi, SH
Dalam praktik bisnis, saya sering menemukan satu “kasus” klasik: masih ada yang meremehkan tsiqah.
Padahal, ini adalah nilai dasar yang menentukan apakah seseorang bisa berkembang atau justru berhenti di titik tertentu.
Sekali Anda meraih tsiqah, dari atasan atau dari klien, jagalah dengan hidup Anda. Karena tanpa itu, karier Anda akan mentok, bisnis Anda tidak akan berkembang. Dalam politik, tanpa kepercayaan publik, akan runtuh.
Tsiqah dalam Perspektif Modern
Istilah tsiqah (ثقة) sering diterjemahkan sederhana sebagai “kepercayaan”. Namun dalam praktiknya, ia jauh lebih dalam. Tsiqah bukan sekadar trust biasa.
Dalam bahasa manajemen modern, tsiqah adalah gabungan dari: trust (kepercayaan), confidence (keyakinan terhadap kapasitas), credibility (integritas dan konsistensi) dan reliance (dapat diandalkan)
Dengan kata lain, tsiqah adalah kepercayaan yang utuh: berbasis kompetensi, integritas, dan komitmen nilai.
Al-Qur’an menegaskan prinsip amanah ini: “inna khaira man ista’jarta al-qawiyyul amin” — sebaik-baik orang yang engkau ambil bekerja adalah yang kuat (kompeten) dan dapat dipercaya.
Dua kata kunci: kuat (qawiy) dan amanah (amin). Inilah fondasi tsiqah.
Tsiqah dalam Teori Manajemen dan Kepemimpinan
Dalam literatur modern, konsep ini sangat dekat dengan apa yang dijelaskan oleh Stephen M. R. Covey. Ia menulis: “Trust is the one thing that changes everything.” (Kepercayaan adalah satu hal yang mengubah segalanya).
Covey menjelaskan bahwa semakin tinggi trust, maka organisasi bisa bergerak lebih cepat, biaya koordinasi menurun dan konflik berkurang signifikan.
Ini identik dengan tsiqah: ia mempercepat proses tanpa perlu kontrol berlebihan.
Di sisi lain, Amy Edmondson memperkenalkan konsep psychological safety: Tsiqah adalah “A belief that one will not be punished for speaking up.” (Keyakinan bahwa seseorang tidak akan dihukum karena berbicara jujur).
Ini adalah dimensi penting dari tsiqah. Bukan hanya percaya pada pemimpin, tetapi merasa aman di dalam sistem.
Dalam konteks sosial, Robert Putnam menyebut kepercayaan sebagai: “Social capital is the glue that holds society together.” (Modal sosial adalah lem yang menjaga masyarakat tetap menyatu).
Dalam bahasa dakwah, “lem” itu adalah tsiqah.
Mengapa Tsiqah Menentukan Masa Depan Anda
Masalah organisasi sering tampak teknis dan rumit, tetapi akar masalahnya seringkali adalah tsiqah yang lemah. Apakah anda merasa komunikasi macet ? Itu karena tidak saling percaya. Anda melihat organisasi tertutup? Ini disebabkan menyebarnya tidak ada rasa aman. Atau mendengar bahwa kaderisasi stagnan? Penyebabnya, seringkali karena tidak ada keyakinan untuk tumbuh bersama.
Dalam bisnis, tanpa tsiqah tim bekerja dengan kecurigaan dan prasangka negatif. Keputusan yang seharusnya cepat, menjadi sangat lambat. Ujung-ujungnya inovasi terhambat.
Bagi partai politik, tanpa tsiqah, ada 3 masalah krusial yang segera melilit: publik tidak percaya, legitimasi melemah dan kepemimpinan menjadi rapuh.
Sebaliknya, jika tsiqah kuat maka orang berani jujur, tim bergerak cepat dan loyalitas terbentuk secara alami.
Warren Buffett, investor global mengingatkan: “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it.” (Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi, dan lima menit untuk menghancurkannya).
Tsiqah adalah reputasi yang hidup. Sekali rusak, sangat sulit diperbaiki.
Menjaga Tsiqah: Dari Nilai ke Praktik
Tsiqah tidak dibangun dengan slogan, tetapi dengan konsistensi. Mulailah berkomitmen mengatakan yang benar, meski tidak populer. Berusaha mati-matian menepati janji, sekecil apa pun. Menjaga amanah, bahkan saat tidak diawasi. Dan tak kalah pentingnya, mengakui kesalahan, bukan menutupinya.
Ini adalah praktik sederhana, tetapi dampaknya luar biasa.
Dalam bahasa manajemen modern, ini disebut trustworthiness—kelayakan untuk dipercaya. Dalam bahasa dakwah, ini adalah tsiqah.
Penutup
Jika diringkas: dalam dunia modern, organisasi bisa berjalan dengan sistem, tetapi hanya akan bertahan dengan trust.
Dalam bahasa kita, trust yang hidup itu adalah tsiqah.
Maka, jika Anda ingin membangun bisnis yang bertahan, karier politik yang dipercaya, dan kepemimpinan yang kuat—mulailah dari sini. Bangun tsiqah, jaga tsiqah, dan jangan pernah menggadaikannya untuk keuntungan jangka pendek.Karena pada akhirnya, bukan strategi yang menentukan seberapa jauh Anda melangkah, tetapi seberapa besar orang lain percaya kepada Anda. (im)




