Oleh: Yadi Mulyadi, SH
Dalam dunia organisasi, ide besar tidak otomatis menghasilkan perubahan. Banyak institusi memiliki visi yang baik, sumber daya yang cukup, dan strategi yang matang, tetapi gagal pada tahap implementasi.
Masalah utamanya sederhana: organisasi tidak kekurangan gagasan, tetapi kekurangan alignment dan disiplin eksekusi.
Di titik inilah konsep klasik seperti sami’na wa atha’na serta qiyadah wa jundiyah menjadi menarik untuk dibaca ulang.
Meski lahir dalam manhaj dakwah , konsep ini mengandung nilai organisasi yang sangat relevan bagi leadership modern, bisnis, maupun politik.
Jika dibaca secara substantif, inti persoalannya bukan sekadar ketaatan, melainkan bagaimana membangun organisasi yang mampu bergerak cepat namun tetap terarah.
Sami’na wa Atha’na: Mendengar, Memahami, Lalu Bergerak
Frasa sami’na wa atha’na berarti “kami mendengar dan kami taat.” Sekilas tampak sederhana, tetapi secara organisasional mengandung dua tahapan penting.
Pertama, sami’na: kesiapan mendengar.Ini bukan sekadar mendengar instruksi, tetapi memahami arah, konteks, dan prioritas organisasi.
Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menulis: Seek first to understand, then to be understood. Pahamilah terlebih dahulu, sebelum ingin dipahami.
Prinsip ini sangat dekat dengan makna sami’na. Tim yang efektif tidak sibuk dengan ego individual, tetapi terlebih dahulu berusaha memahami gambaran besar.
Kedua, atha’na: komitmen menjalankan keputusan. Setelah diskusi selesai dan arah ditetapkan, organisasi membutuhkan energi kolektif untuk bergerak. Tanpa tahap ini, keputusan hanya berhenti di ruang rapat.
Larry Bossidy dalam Execution menyatakan, Execution is the bridge between aspirations and results. Eksekusi adalah jembatan antara cita-cita dan hasil. Inilah esensi atha’na. Bukan sekadar setuju secara verbal, tetapi berkomitmen pada implementasi.
Qiyadah wa Jundiyah: Kejelasan Peran dan Struktur
Selain sami’na wa atha’na, konsep qiyadah wa jundiyah juga menyimpan nilai organisasi yang kuat. Qiyadah berarti kepemimpinan. Jundiyah merujuk pada kesiapan anggota untuk menjadi bagian dari sistem perjuangan.
Dalam bahasa modern, ini berarti kejelasan peran antara leader dan executor. Setiap organisasi membutuhkan dua hal: siapa yang menetapkan arah, dan siapa yang memastikan agenda berjalan.
Tanpa struktur yang jelas, organisasi mudah jatuh pada kebingungan peran. Semua ingin bicara, tetapi tidak ada yang benar-benar mengeksekusi.
John C. Maxwell menulis: A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way. Pemimpin adalah orang yang mengetahui jalan, menempuh jalan itu, dan menunjukkan jalan.
Namun pemimpin tidak bekerja sendiri. Ia membutuhkan tim yang memahami perannya, percaya pada proses, dan memiliki loyalitas terhadap tujuan bersama.
Inilah ruh jundiyah.
Relevan dengan Manajemen Modern
Menariknya, nilai-nilai ini justru sangat dibutuhkan di era modern. Banyak organisasi hari ini mengalami tiga problem utama: eksekusi lambat, alignment tim lemah, dan arah strategis kabur.
Konsep sami’na wa atha’na membantu menyelesaikan problem pertama dan kedua. Ada budaya mendengar, memahami, lalu bergerak bersama. Sedangkan qiyadah wa jundiyah memperkuat problem ketiga: kejelasan arah dan struktur.
Dalam The Five Dysfunctions of a Team, Patrick Lencioni menulis: If everything is important, then nothing is. Jika semuanya dianggap penting, maka sebenarnya tidak ada yang benar-benar penting.
Organisasi membutuhkan prioritas.Dan prioritas hanya efektif jika struktur kepemimpinan jelas. Dalam dunia bisnis, ini disebut alignment.
Semua bagian organisasi memahami tujuan yang sama dan bergerak pada ritme yang sama. Dalam politik, nilai ini tidak kalah penting. Agenda publik membutuhkan konsistensi, koordinasi, dan disiplin. Tanpa itu, organisasi politik mudah terseret pada fragmentasi internal.
Penutup: Nilai Lama, Relevansi Baru
Pada akhirnya, kekuatan konsep sami’na wa atha’na maupun qiyadah wa jundiyah bukan terletak pada istilahnya, tetapi pada nilai dasarnya.
Kesiapan mendengar.Komitmen menjalankan keputusan. Kejelasan peran. Disiplin dan loyalitas terhadap tujuan bersama. Nilai-nilai ini bukan sesuatu yang usang.
Justru di tengah dunia yang semakin cepat dan kompleks, organisasi modern semakin membutuhkan kemampuan eksekusi cepat, alignment tim, dan arah yang jelas.
Karena organisasi besar bukan hanya yang memiliki visi hebat, tetapi yang mampu menerjemahkan visi menjadi gerak kolektif.Dan di titik itulah konsep klasik ini, qiyadah wa jundiyah, tetap relevan. (im)



