Dalam banyak organisasi, termasuk dunia bisnis, politik, dan gerakan sosial, kata ketaatan sering dipahami secara keliru. Ada yang menganggap taat berarti tunduk total tanpa bertanya; ada pula yang alergi terhadap struktur karena khawatir kehilangan kebebasan berpikir.
Padahal, dalam tradisi Islam, konsep ta’ah berada di tengah: bukan kepatuhan buta, tetapi komitmen sadar terhadap nilai, arah, dan keputusan bersama.
Di sinilah konsep qiyādah wal jundiyah menjadi relevan. Qiyādah berarti kepemimpinan; jundiyah berarti kesiapan menjadi prajurit atau anggota yang disiplin. Keduanya adalah dua sisi dari organisasi yang sehat: ada yang memimpin dengan amanah, ada yang mengikuti dengan kesadaran.
Ta’ah: Mendengar, Memahami, lalu Menjalankan
Konsep ini berakar dari Al-Qur’an, tepatnya QS. Al-Baqarah ayat 285: “sami‘nā wa aṭa‘nā”
“Kami dengar dan kami taat.”
Ayat ini bukan berbicara tentang organisasi formal, tetapi respons orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun para ulama menjelaskan ada prinsip universal di dalamnya.
“Sami‘nā” tidak berarti mendengar secara pasif. Ia bermakna memahami, menyadari, dan menerima dengan akal yang hadir. Sedangkan “aṭa‘nā” berarti menjalankan dengan kesadaran dan komitmen.
Islam tidak mengajarkan budaya ikut-ikutan tanpa berpikir. Ketaatan selalu didahului oleh pemahaman dan penerimaan nilai.
Dalam konteks organisasi, ini sangat modern. Patrick Lencioni dalam The Five Dysfunctions of a Team menulis: When people don’t unload their opinions and feel like they’ve been listened to, they won’t really get on board. Ketika orang tidak menyampaikan pandangannya dan merasa tidak didengar, mereka tidak akan sungguh-sungguh mendukung keputusan.
Inilah logika ta’ah yang sehat: ruang diskusi dibuka, pandangan dihargai, lalu setelah keputusan diambil, semua bergerak bersama.
Ketaatan Bukan Kepatuhan Buta
Islam memberi batas yang sangat jelas. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: lā ṭā‘ata li makhlūqin fī ma‘ṣiyatil Khāliq. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.
Hadits ini menjadi prinsip etis yang sangat penting: ketaatan itu tidak absolut.
Dalam bahasa modern, organisasi yang sehat membutuhkan alignment, bukan blind obedience. Ada keselarasan arah, tetapi tetap ada moral compass.
Karena itu, dalam tradisi Islam dikenal konsep syura (musyawarah) dan amar ma‘ruf nahi munkar (kritik konstruktif). Pemimpin tidak anti-kritik, dan anggota tidak memelihara budaya asal patuh, dan tidak juga asal kritik.
Peter Drucker pernah mengatakan: The most important thing in communication is hearing what isn’t said. Hal terpenting dalam komunikasi adalah mendengar apa yang tidak diucapkan.
Pemimpin yang baik tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga menangkap kegelisahan, resistensi, dan masukan dari timnya. Sebaliknya, anggota yang baik tidak hanya pandai mengkritik, tetapi juga siap menjalankan keputusan kolektif.
Di titik inilah qiyādah wal jundiyah menemukan keseimbangannya: pemimpin membuka ruang dialog; anggota menjaga soliditas.
Relevansi dalam Bisnis dan Politik
Dalam bisnis, organisasi gagal bukan semata karena strategi buruk, tetapi karena eksekusi yang lemah akibat tim yang tidak solid. Banyak perusahaan punya ide besar, tetapi kehilangan daya karena ego internal dan tarik-menarik kepentingan.
Larry Bossidy dalam Execution menulis: Strategies most often fail because they aren’t executed well. Strategi paling sering gagal bukan karena buruk, tetapi karena tidak dieksekusi dengan baik.
Hal yang sama berlaku dalam politik. Agenda besar pelayanan publik hanya bisa berjalan jika ada disiplin organisasi, kejelasan komando, dan loyalitas pada keputusan bersama.
Namun loyalitas itu harus lahir dari trust. Stephen Covey menyatakan, Trust is the glue of life.
Kepercayaan adalah perekat kehidupan. Tanpa trust, ketaatan berubah menjadi keterpaksaan. Tanpa disiplin, kebebasan berubah menjadi kekacauan.
Maka, qiyādah wal jundiyah mengajarkan formula sederhana namun kuat: berpikir kritis saat musyawarah, bergerak disiplin setelah keputusan.
Itulah model kepemimpinan modern yang dibutuhkan hari ini: tidak otoriter, tetapi juga tidak permisif. Ada ruang dialog, ada komitmen eksekusi.Bukan sekadar “siapa yang memimpin”, tetapi bagaimana seluruh tim mampu mendengar, memahami, lalu bergerak dalam satu arah. (im)





