Kota yang Mengubur Anak Perempuan, Justru Melahirkan Pebisnis Wanita Kelas Dunia. Kok Bisa?

by -1253 Views

Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika mempelajari sejarah Khadijah رضي الله عنها adalah ini: bukankah masyarakat Arab Jahiliyah dikenal menindas perempuan, bahkan sebagian di antaranya mengubur bayi perempuan hidup-hidup? 

Kalau demikian, bagaimana mungkin dari masyarakat seperti itu lahir seorang pebisnis wanita kelas dunia seperti Khadijah رضي الله عنها?

Pertanyaan ini penting dijawab karena menyimpan pelajaran besar bagi muslimah masa kini, terutama dalam membangun kemandirian ekonomi.

Jawabannya terletak pada pemahaman yang benar tentang Makkah dan makna Jahiliyah itu sendiri.

Makkah: Kota Bisnis yang Melahirkan Womanpreneur

Banyak orang membayangkan Makkah sebelum Islam sebagai kota yang kumuh, miskin, tidak beradab, hukum rimba. Gambaran itu kurang tepat.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menjelaskan bahwa Makkah adalah kota niaga yang makmur, pusat perdagangan internasional yang menghubungkan Syam di utara dan Yaman di selatan. Penduduknya dikenal sebagai pedagang ulung. Mereka memahami investasi, kemitraan bisnis, distribusi barang, hingga manajemen perjalanan dagang lintas negara.

Dalam lingkungan seperti itulah Khadijah رضي الله عنها tumbuh.

Beliau bukan satu-satunya wanita yang aktif dalam dunia usaha. Literatur sirah juga menyebut Al-Hanthaliyah, ibu Abu Jahal, sebagai salah satu saudagar wanita terkenal di Makkah. Selain itu terdapat Ummu Syaibah binti Abi Thalhah yang mengelola dan menjaga aset perdagangan keluarganya.

Artinya, keberadaan womanpreneur bukan sesuatu yang aneh di Makkah saat itu.

Lingkungan ekonomi yang maju melahirkan budaya bisnis yang kuat. Perempuan memiliki hak untuk memiliki aset, melakukan transaksi, dan mengelola perdagangan. Banyak di antara mereka mempekerjakan laki-laki untuk membawa barang dagangan ke berbagai wilayah dengan sistem bagi hasil.

Dalam bahasa modern, mereka telah mempraktikkan entrepreneurship dan investment management.

Jahiliyah Itu Krisis Moral, Bukan Krisis Bisnis

Lalu mengapa pada saat yang sama ada praktik mengubur anak perempuan (Wa’d al-Banat) ? Karena Jahiliyah bukan berarti bodoh secara intelektual atau lemah secara ekonomi. Jahiliyah adalah kebutaan spiritual.

Menurut Muhammad Qutb dalamJāhiliyyah al-Qarn al-‘Isyrīn, jahiliyah adalah sebuah kondisi ketika manusia menjauh dari petunjuk Allah dan menjadikan selain Allah sebagai sumber nilai, hukum, dan pedoman hidup. 

Menurut beliau, jahiliyah tidak identik dengan kebodohan intelektual atau keterbelakangan peradaban. Suatu masyarakat bisa sangat maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan politik, tetapi tetap berada dalam kondisi jahiliyah apabila kehidupan mereka tidak dibangun di atas tauhid dan wahyu.

Itulah Makkah pada masa jahiliyah. Gambaran ini mirip dengan “peradaban modern-materialistis” saat ini. Jahiliyah dulu, sebagian melakukan wa’d al banat, sekarang aborsi dan kontrasepsi demi bisa bersenang-senang. Jahiliyah dulu, suku hobi berperang demi menjaga heroisme, sekarang perang menjadi salah satu industri terbesar. Jahiliyah dulu, menghormati perempuan berdasar kelasnya, sekarang perempuan menjadi komoditas dan melegalkan prostitusi.

Karena itu, Muhammad Qutb menyimpulkan bahwa hakikat jahiliyah adalah la ma’rifatullah, sehingga manusia tunduk kepada selain Allah. Ketika manusia tidak lagi menjadikan Allah sebagai satu-satunya otoritas tertinggi, maka ia akan tunduk kepada hawa nafsu, kekuasaan, budaya, ideologi, atau kepentingan materi. 

Seperti halnya sekarang, dulu, masih ada orang-orang, keluarga dan suku, yang menjaga kehormatan. Ditengah lingkungan seperti itulah Khadijah radiallahu anha lahir. Terjaga dari peradaban jahiliyah yang rusak.

Pelajaran untuk Muslimah Masa Kini

Khadijah رضي الله عنها lahir dari keluarga terpandang Bani Asad. Status sosial, jaringan keluarga, dan kemampuan bisnis memberinya ruang untuk berkembang menjadi entrepreneur besar.

Namun pelajaran terpenting bukanlah tentang nasabnya, melainkan tentang lingkungannya.

Jim Rohn pernah berkata:

“You are the average of the five people you spend the most time with.”
“Anda adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering bersama Anda.”

Lingkungan bisnis akan lebih mudah melahirkan karakter bisnis.

Jika seorang muslimah terus berada dalam lingkungan yang produktif, membahas peluang usaha, belajar pemasaran, keuangan, dan kepemimpinan, maka pola pikir bisnis akan tumbuh secara alami.

Sebaliknya, jika lingkungan selalu menganggap bisnis sebagai sesuatu yang menakutkan atau bukan dunia perempuan, maka potensi besar sering kali terkubur sebelum berkembang.

Khadijah رضي الله عنها mengajarkan bahwa keshalihan dan kemandirian ekonomi bukan dua hal yang bertentangan. Justru ketika keduanya bersatu, lahirlah pengaruh yang besar bagi keluarga, masyarakat, dakwah, bahkan peradaban.

Karena itu, wahai muslimah, jika ingin belajar bisnis, jangan hanya melihat keberhasilan Khadijah رضي الله عنها. Pelajari juga lingkungan yang membentuknya. Sebab sering kali kesuksesan seseorang dimulai dari keberaniannya memilih lingkungan yang tepat untuk bertumbuh.Jika Anda ingin mulai berbisnis, mulailah perhatikan dengan siapa anda berteman dan di lingkungan seperti apa Anda berada. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.