Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam dunia usaha adalah menempatkan seseorang pada posisi yang tidak sesuai dengan karakter dan kekuatannya. Akibatnya, potensi tidak berkembang, pekerjaan tidak optimal, bahkan terkadang menimbulkan kerugian besar.
Menariknya, pelajaran tentang hal ini dapat kita temukan dari sosok Khadijah رضي الله عنها, seorang womanpreneur kelas dunia yang hidup lebih dari 14 abad lalu. Sebagai pemimpin bisnis besar di Makkah, Khadijah رضي الله عنها memahami bahwa keberhasilan usaha bukan hanya soal modal, produk, atau pasar, tetapi juga tentang menempatkan orang yang tepat pada tugas yang tepat.
Di sinilah kita menemukan salah satu kecerdasan manajerial beliau yang sangat relevan bagi para muslimah pengusaha masa kini.
Memahami Risiko Sebelum Menugaskan Orang
Sebagai pemilik jaringan perdagangan lintas negara, Khadijah رضي الله عنها menghadapi tantangan yang tidak ringan. Barang dagangan harus dibawa ratusan kilometer melintasi gurun menuju Syam. Komunikasi terbatas. Pengawasan langsung hampir mustahil dilakukan.
Dalam kondisi seperti itu, risiko terbesar bukanlah cuaca atau jarak perjalanan, melainkan manusia.
Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menggambarkan bahwa Khadijah رضي الله عنها pernah menghadapi persoalan kecurangan dan penggelapan dari sebagian pengelola bisnisnya. Pengalaman tersebut tentu menjadi pelajaran berharga bahwa tidak semua orang mampu menjaga amanah.
Karena itu, ketika beliau mendengar reputasi Muhammad ﷺ sebagai pribadi yang dikenal jujur, amanah, dan berakhlak mulia, Khadijah رضي الله عنها melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan berdagang.
Beliau melihat solusi atas risiko terbesar bisnisnya.
Dalam dunia manajemen modern, langkah ini dikenal sebagai risk-based staffing, yaitu menempatkan orang berdasarkan kebutuhan risiko organisasi.
Jim Collins dalam Good to Great menulis: “First who, then what.” Tentukan siapa orangnya terlebih dahulu, baru kemudian apa pekerjaannya.
Khadijah رضي الله عنها melakukan prinsip ini dengan sangat baik.
Karakter Lebih Penting daripada Keterampilan
Khadijah رضي الله عنها kemudian mempercayakan pengelolaan kafilah dagang ke Syam kepada Muhammad ﷺ. Ini bukan keputusan emosional, melainkan keputusan bisnis yang sangat rasional.
Beliau memahami bahwa keterampilan dapat dipelajari, tetapi integritas adalah fondasi yang jauh lebih sulit dibangun.
Untuk memastikan keputusannya tepat, Khadijah رضي الله عنها juga mengutus Maisarah, orang kepercayaannya, untuk mendampingi perjalanan tersebut. Dalam bahasa manajemen modern, Maisarah berfungsi sebagai supervisor lapangan sekaligus auditor internal.
Maisarah mengamati langsung bagaimana Muhammad ﷺ bekerja, berinteraksi, dan mengelola amanah. Sekembalinya dari Syam, ia melaporkan seluruh temuan kepada Khadijah رضي الله عنها.
Hasilnya sangat mengesankan. Bukan hanya keuntungan meningkat, tetapi integritas yang selama ini didengar melalui reputasi ternyata terbukti di lapangan.
Pelajaran bagi Muslimah Pengusaha
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat kuat dalam memilih orang untuk sebuah amanah:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau ambil bekerja adalah yang kuat dan terpercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)
Ayat ini memadukan dua syarat utama keberhasilan organisasi: kompetensi dan amanah.
Bagi para muslimah yang sedang membangun usaha, pelajaran dari Khadijah رضي الله عنها sangat relevan. Jangan hanya melihat siapa yang paling dekat dengan kita. Jangan pula hanya melihat siapa yang paling murah biayanya. Lihatlah karakter, integritas, dan kesesuaian antara tugas dengan kualitas pribadi yang dimiliki.
Peter Drucker pernah berkata: “The best way to predict the future is to create it.” Cara terbaik memprediksi masa depan adalah menciptakannya.
Khadijah رضي الله عنها menciptakan masa depan bisnisnya dengan memilih orang yang tepat untuk tugas yang tepat. Dan dari keputusan itulah lahir keberhasilan, keberkahan, sekaligus salah satu kemitraan paling agung dalam sejarah manusia. (im)





