Banyak pelaku usaha merasa puas ketika usahanya menghasilkan keuntungan. Namun pemimpin bisnis yang hebat tidak hanya bertanya, “Apakah kita untung?” Mereka juga bertanya, “Apakah hasil ini lebih baik daripada sebelumnya?”
Disinilah kita menemukan salah satu kecerdasan bisnis Khadijah رضي الله عنها yang sangat relevan hingga hari ini. Beliau tidak hanya mengukur keuntungan secara nominal, tetapi juga membandingkan kinerja dari waktu ke waktu.
Dalam bahasa manajemen modern, pendekatan ini dikenal sebagai benchmarking, yaitu membandingkan hasil yang dicapai dengan standar atau pencapaian terbaik yang pernah ada sebelumnya.
Khadijah رضي الله عنها telah mempraktikkan prinsip ini lebih dari empat belas abad yang lalu.
Mengukur Kinerja dengan Standar yang Jelas
Ketika Khadijah رضي الله عنها mempercayakan modal dagangnya kepada Muhammad ﷺ untuk dibawa ke Syam, beliau tentu berharap mendapatkan keuntungan. Namun yang menarik, evaluasi yang dilakukan tidak berhenti pada angka laba semata.
Dalam Fiqhus Sirah, Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjelaskan bahwa hasil perdagangan tersebut menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan yang pernah diperoleh sebelumnya melalui pengelola lain, termasuk Abu Thalib.
Artinya, Khadijah رضي الله عنها memiliki standar pembanding.
Beliau mengetahui berapa rata-rata keuntungan yang biasanya diperoleh pada rute perdagangan tersebut. Dengan demikian, ketika Muhammad ﷺ menghasilkan keuntungan yang jauh lebih tinggi, Khadijah رضي الله عنها dapat menilai bahwa telah terjadi peningkatan kinerja yang nyata.
Inilah prinsip dasar benchmarking: membandingkan pencapaian saat ini dengan performa terbaik sebelumnya.
Peter Drucker dalam Management: Tasks, Responsibilities, Practices menulis: “What gets measured gets managed.” Apa yang diukur akan dapat dikelola.
Khadijah رضي الله عنها memahami bahwa keputusan bisnis yang baik harus dibangun di atas data dan fakta, bukan sekadar perasaan atau asumsi.
Keuntungan Besar Bukan Sekadar Soal Pasar
Hal yang lebih menarik, Khadijah رضي الله عنها tidak menganggap keberhasilan Muhammad ﷺ semata-mata karena kondisi pasar yang sedang baik.
Beliau melihat adanya faktor lain yang jauh lebih penting: integritas.
Keuntungan yang meningkat ternyata berjalan beriringan dengan amanah, kejujuran, dan profesionalisme. Muhammad ﷺ tidak hanya menghasilkan laba yang lebih besar, tetapi juga mengelola seluruh proses bisnis dengan akhlak yang luhur.
Maisarah, orang kepercayaan Khadijah رضي الله عنها yang mendampingi perjalanan tersebut, memberikan laporan yang sangat positif mengenai perilaku dan etika kerja Rasulullah ﷺ.
Di sinilah Khadijah رضي الله عنها menemukan hubungan yang sangat penting: karakter yang baik menghasilkan kinerja yang baik.
Stephen M.R. Covey dalam The Speed of Trust menulis: “Trust is the one thing that changes everything.” Kepercayaan adalah satu hal yang mengubah segalanya.
Ketika kepercayaan meningkat, biaya pengawasan menurun, risiko berkurang, dan produktivitas bertambah. Persis itulah yang terjadi dalam kemitraan bisnis antara Khadijah رضي الله عنها dan Muhammad ﷺ.
Pelajaran bagi Muslimah Pengusaha
Allah ﷻ berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian.” (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini mengajarkan pentingnya kinerja yang nyata dan terukur.
Bagi para muslimah yang sedang membangun usaha, pelajaran dari Khadijah رضي الله عنها sangat berharga. Jangan hanya membuat laporan keuntungan. Buatlah juga standar pembanding. Bandingkan hasil bulan ini dengan bulan lalu, tahun ini dengan tahun lalu, atau tim yang satu dengan tim lainnya.
Namun jangan berhenti pada angka. Perhatikan pula proses yang melahirkan angka tersebut. Sebab keuntungan yang lahir dari integritas akan lebih berkelanjutan dibandingkan keuntungan yang diperoleh melalui cara-cara yang meragukan.Khadijah رضي الله عنها mengajarkan bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya mampu menghitung laba, tetapi juga mampu membaca makna di balik angka. Dan seringkali, rahasia pertumbuhan bisnis bukan terletak pada pasar yang lebih besar, melainkan pada karakter manusia yang lebih baik. (im)





