Bagaimana Peran Sistem Tarbiyah dalam Menjaga Orisinalitas Nilai-Nilai Organisasi?

by -1454 Views

Ditengah derasnya arus perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi, setiap organisasi menghadapi tantangan yang sama: bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya. 

Banyak organisasi tumbuh besar secara kuantitas, namun perlahan kehilangan ruh yang dahulu menjadi sumber kekuatannya. Di sinilah pentingnya sistem tarbiyah sebagai penjaga orisinalitas nilai-nilai organisasi.

Sistem pembinaan (manhaj tarbiyah) bukan sekadar program pendidikan rutin atau forum kajian berkala. Tarbiyah adalah proses pembentukan manusia yang memastikan bahwa pertumbuhan organisasi tetap berada diatas khiththah (garis perjuangan) yang benar. Jika manajemen adalah kerangka organisasi, maka tarbiyah adalah ruh yang menghidupkannya.

Tarbiyah sebagai Benteng Nilai dan Karakter

Musthafa Masyhur menjelaskan bahwa tarbiyah berfungsi memberikan bashirah (pandangan yang jernih) kepada setiap anggota agar mampu memahami Islam secara utuh dan tidak terjebak pada pemahaman yang parsial atau menyimpang.

Dalam dunia modern, organisasi sering menghadapi tekanan pragmatisme. Target, angka, elektabilitas, keuntungan, atau pertumbuhan seringkali menjadi fokus utama. Jika tidak diimbangi dengan pembinaan yang kuat, organisasi dapat tergelincir dari nilai-nilai dasarnya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Tarbiyah menanamkan nilai-nilai seperti ikhlas, shidiq (jujur), amanah, dan wafa’ (menepati janji). Nilai-nilai inilah yang dalam bahasa John Adair disebut sebagai integrity—integritas yang menjadi fondasi kepercayaan dalam kepemimpinan.

Stephen Covey dalam bukunya The Speed of Trust menulis: “Trust is the glue of life.” Kepercayaan adalah perekat kehidupan.

Tanpa kepercayaan, organisasi akan kehilangan energi pemersatunya. Dan kepercayaan hanya dapat tumbuh dari karakter yang dibangun secara konsisten melalui proses tarbiyah.

Menjamin Pertumbuhan yang Berkualitas

Dalam manajemen organisasi, pertumbuhan dapat terjadi secara horizontal maupun vertikal. Pertumbuhan horizontal ditandai oleh bertambahnya anggota, cabang, atau aktivitas. Namun pertumbuhan vertikal ditandai oleh meningkatnya kualitas manusia yang menggerakkannya.

Musthafa Masyhur mengingatkan bahwa keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari banyaknya hasil rekrutmen. Ada hal yang lebih penting, yaitu kemampuan menjaga kualitas kader agar tetap sesuai dengan nilai-nilai dasar perjuangan.

Peter Drucker pernah mengatakan: “Culture eats strategy for breakfast.” Budaya organisasi akan mengalahkan strategi setiap pagi.

Ungkapan ini menunjukkan bahwa kualitas manusia lebih menentukan daripada sekadar kehebatan perencanaan. Tarbiyah berfungsi menjaga agar pertumbuhan organisasi tidak menghasilkan kader yang banyak namun kehilangan karakter dan orientasi perjuangan.

Melalui proses pembinaan yang berkelanjutan, seorang anggota tidak hanya bertambah pengetahuannya, tetapi juga meningkat kualitas aqidah, ibadah, akhlak, tsaqafah, dan kemampuannya dalam memikul amanah.

Menjaga Estafet Kepemimpinan dan Ruh Organisasi

Salah satu tantangan terbesar organisasi adalah regenerasi. Banyak lembaga yang kuat pada generasi pertama, namun melemah ketika tongkat estafet berpindah tangan.

Tarbiyah menjadi sarana utama untuk mewariskan nilai, budaya, dan hikmah perjuangan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Melalui proses mu’ayasyah (hidup bersama), pembinaan, mentoring, dan keteladanan, nilai-nilai organisasi tidak hanya dipelajari tetapi juga dialami secara langsung.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu diperoleh melalui proses belajar.” (HR. Thabrani)

Dalam konteks organisasi, belajar tidak hanya berarti memahami teori, tetapi juga menyerap budaya dan karakter para pendahulu.

Pada akhirnya, tarbiyah adalah investasi jangka panjang yang tidak selalu menghasilkan hasil instan, tetapi memberikan manfaat paling berkelanjutan. Ia melahirkan manusia-manusia berintegritas yang mampu menjaga nilai-nilai organisasi di tengah perubahan zaman. 

Ketika organisasi menghadapi krisis politik, tekanan ekonomi, atau perubahan sosial, sistem tarbiyah yang kuat akan menjadi jangkar yang menjaga kapal tetap berada pada jalurnya. Sebab organisasi yang kehilangan tarbiyah pada hakikatnya sedang kehilangan ruhnya sendiri. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.