Di era disrupsi dan perubahan yang berlangsung sangat cepat, kualitas keputusan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan organisasi.
Baik dalam dunia bisnis, politik, maupun dakwah, organisasi yang mampu mengambil keputusan strategis secara tepat akan memiliki daya tahan dan daya saing yang lebih kuat dibandingkan organisasi yang hanya mengandalkan intuisi segelintir orang.
Dalam konsep Islam, mekanisme pengambilan keputusan dikenal dengan istilah syura yang dapat dipadankan dengan konsep participative decision making, collective leadership, atau collaborative governance dalam manajemen modern.
Syura bukan sekadar forum diskusi, melainkan sistem yang dirancang untuk menghimpun berbagai perspektif, membangun komitmen bersama, dan menghasilkan keputusan yang lebih berkualitas.
Allah SWT berfirman: “Wa amruhum syuraa bainahum.” Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka. (QS. Asy-Syura: 38)
Ayat ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari budaya kepemimpinan yang sehat dan berkelanjutan.
Syura sebagai Wadah Collective Wisdom
Dalam dunia manajemen modern dikenal istilah collective wisdom, yaitu keyakinan bahwa keputusan yang melibatkan berbagai sudut pandang sering kali menghasilkan kualitas yang lebih baik dibandingkan keputusan individual.
John C. Maxwell menulis: “One is too small a number to achieve greatness.” Satu orang terlalu kecil jumlahnya untuk mencapai kebesaran.
Prinsip inilah yang menjadi ruh syura. Melalui musyawarah, pemimpin dapat menyerap gagasan, pengalaman, dan pengetahuan dari berbagai pihak yang memiliki kompetensi berbeda.
Dalam organisasi dakwah, syura memungkinkan terjadinya sinergi antara pengalaman senior dan energi generasi muda. Dalam organisasi bisnis, syura mempertemukan perspektif strategis direksi dengan pengalaman praktis para pelaksana di lapangan.
Peter Drucker bahkan mengingatkan bahwa keputusan terbaik sering lahir dari perbedaan pendapat yang sehat.
“The first rule in decision-making is that one does not make a decision unless there is disagreement.” Aturan pertama dalam pengambilan keputusan adalah jangan membuat keputusan sampai ada perbedaan pendapat yang dibahas.”
Syura bukan alat untuk menghilangkan perbedaan, tetapi sarana mengelola perbedaan menjadi kekuatan organisasi.
Membangun Komitmen dan Mencegah One-Man Show
Salah satu manfaat terbesar syura adalah lahirnya rasa memiliki (ownership) terhadap keputusan yang dihasilkan. Semakin besar keterlibatan seseorang dalam proses pengambilan keputusan, semakin besar pula komitmennya untuk menjalankan keputusan tersebut.
Dalam manajemen modern, hal ini dikenal sebagai engagement-based leadership. Orang akan lebih bersemangat melaksanakan keputusan yang turut mereka rumuskan dibandingkan keputusan yang dipaksakan dari atas.
Syura juga menjadi benteng terhadap budaya one-man show leadership dan managerial hubris, yaitu kesombongan manajerial yang membuat seorang pemimpin merasa dirinya selalu benar.
Jim Collins dalam buku Good to Great menemukan bahwa organisasi hebat justru dipimpin oleh sosok yang rendah hati dan terbuka terhadap masukan.
“Great leaders channel their ego needs away from themselves and into the larger goal.” Pemimpin besar mengarahkan ego pribadinya kepada tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam konteks tanzhim (organizational system), syura menjaga agar kekuasaan tidak terpusat pada satu individu, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif yang dapat dipertanggungjawabkan bersama.
Menjaga Persatuan dan Kualitas Eksekusi
Syura yang dijalankan dengan benar bukan hanya menghasilkan keputusan yang baik, tetapi juga menjaga kesatuan organisasi. Perbedaan pendapat disalurkan melalui mekanisme yang sehat sehingga tidak berkembang menjadi konflik atau faksionalisme.
Musthafa Masyhur menegaskan bahwa setelah syura menghasilkan keputusan, seluruh anggota wajib memberikan dukungan penuh terhadap hasil tersebut. Inilah yang dalam manajemen disebut alignment, yaitu keselarasan antara keputusan, komitmen, dan pelaksanaan.
Pada saat yang sama, syura menjadi jembatan antara pendekatan top-down strategy dan bottom-up feedback. Pimpinan memberikan arah strategis, sementara unit-unit di bawah memberikan informasi lapangan yang realistis. Hasilnya adalah keputusan yang visioner sekaligus operasional.
Pada akhirnya, syura bukanlah simbol demokrasi organisasi semata, melainkan instrumen strategis untuk menghasilkan keputusan yang lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih mudah dilaksanakan.
Organisasi yang membangun budaya syura secara sungguh-sungguh akan memiliki keunggulan berupa kualitas keputusan yang tinggi, komitmen anggota yang kuat, serta persatuan yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan. (im)






