Management Control dalam Organisasi Dakwah: Menjaga Ruh Perjuangan dan Kinerja Organisasi

by -1276 Views

Dalam dunia bisnis modern, salah satu fungsi terpenting seorang pemimpin adalah memastikan bahwa strategi yang telah disusun benar-benar terlaksana di lapangan. Fungsi ini dikenal sebagai management control atau pengendalian manajemen. 

Menariknya, konsep yang sama telah lama dikenal dalam tradisi dakwah Islam melalui konsep tanzhim (organizational system), muhasabah (performance evaluation), dan muraqabah (self-control and accountability).

Organisasi dakwah tidak cukup hanya memiliki visi besar, kader yang militan, atau program yang menarik. Semua itu membutuhkan sistem pengendalian yang mampu menjaga arah perjalanan organisasi agar tetap selaras dengan tujuan, efektif dalam pelaksanaan, dan produktif dalam menghasilkan manfaat.

Pengendalian sebagai Penjaga Arah Perjuangan

Dalam perspektif manajemen modern, pengendalian bertujuan mengukur dan mengoreksi kinerja agar pelaksanaan berjalan sesuai rencana. Peter Drucker mengingatkan:

“What gets measured gets managed.”

“Apa yang diukur akan dapat dikelola.”

Prinsip ini sangat relevan dalam organisasi dakwah. Musthafa Masyhur menegaskan bahwa pimpinan berkewajiban melakukan evaluasi secara berkala demi “terjaminnya keselamatan perjalanan dakwah dan pertambahan produktivitasnya.”

Tanpa pengendalian, energi organisasi akan terbuang sia-sia. Program berjalan, rapat berlangsung, aktivitas ramai, tetapi hasilnya tidak sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan. Dalam bahasa manajemen, organisasi kehilangan organizational effectiveness dan resource efficiency.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sempurna (profesional).” (HR. Al-Baihaqi)

Konsep itqan (professional excellence) inilah yang menjadi ruh pengendalian dalam organisasi Islam.

Nizham dan Muhasabah: Sistem yang Menjaga Organisasi

Pengendalian yang efektif hanya dapat berjalan jika organisasi memiliki nizham (governance system) dan tanzhim (organizational structure) yang jelas.

Setiap individu harus memahami tugas, kewenangan, indikator keberhasilan, dan jalur koordinasinya. Kejelasan ini mencegah tumpang tindih pekerjaan sekaligus memudahkan evaluasi.

Jim Collins dalam buku Good to Great menulis:

“First who, then what.”

“Tentukan orang yang tepat terlebih dahulu, baru kemudian tentukan apa yang harus dikerjakan.”

Karena itu, struktur organisasi bukan sekadar bagan jabatan, melainkan instrumen pengendalian yang memastikan setiap amanah berada di tangan yang tepat.

Di sisi lain, muhasabah (continuous performance review) menjadi mekanisme evaluasi yang terus-menerus. Pimpinan wajib mengidentifikasi aktivitas yang produktif untuk diperkuat dan aktivitas yang negatif untuk diperbaiki atau dihentikan.

Evaluasi bukan mencari kesalahan, melainkan sarana pembelajaran organisasi. John Maxwell mengatakan:

“Sometimes you win, sometimes you learn.”

“Kadang Anda menang, kadang Anda belajar.”

Organisasi yang berhenti mengevaluasi diri sebenarnya sedang mempersiapkan kemundurannya sendiri.

Komunikasi, Muraqabah, dan Kontrol Terarah

Dalam praktiknya, pengendalian tidak mungkin berjalan tanpa komunikasi yang baik. Informasi merupakan “urat saraf” organisasi. Ketika aliran informasi tersumbat, pemimpin kehilangan kemampuan membaca kondisi lapangan.

Karena itu, pertemuan rutin, laporan berkala, dan komunikasi dua arah merupakan bagian penting dari management control system.

Namun organisasi dakwah memiliki keunikan yang tidak dimiliki organisasi bisnis biasa, yaitu keberadaan muraqabah (spiritual accountability). Setiap anggota tidak hanya diawasi oleh atasan, tetapi juga menyadari pengawasan Allah SWT.

Allah berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

Kesadaran inilah yang melahirkan self-discipline dan self-leadership, yaitu kemampuan mengendalikan diri tanpa harus selalu diawasi.

Pada saat yang sama, pimpinan perlu menerapkan directed control atau kontrol terarah. Desentralisasi tetap diberikan kepada unit-unit kerja, namun pengawasan strategis tetap dijaga. Pemimpin tidak mengendalikan setiap detail pekerjaan, tetapi memastikan seluruh aktivitas bergerak menuju tujuan yang sama.

Dengan demikian, management control dalam organisasi dakwah merupakan perpaduan antara sistem yang tertata, evaluasi yang objektif, komunikasi yang sehat, dan kesadaran spiritual yang kuat. Ketika keempat unsur ini berjalan seimbang, organisasi tidak hanya menjadi efektif secara administratif, tetapi juga kokoh secara moral dan ideologis dalam menjalankan amanah perjuangan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.