Memahami Hukum Kausalitas dalam Kemenangan

by -1539 Views

Setelah membahas tawakal, persiapan, Badr, Uhud, serta hubungan antara doa dan data, kita sampai pada satu prinsip yang menjadi jembatan antara teologi dan manajemen: sunnatullah.

Allah SWT tidak menciptakan kehidupan secara acak. Ada hukum-hukum yang bekerja di dalamnya. Ada sebab yang melahirkan akibat. Ada proses yang harus dilalui. Ada konsekuensi yang mengikuti pilihan manusia.

Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh mengharapkan hasil yang berbeda jika ia terus mempertahankan sebab yang sama.

Jika organisasi ingin menghasilkan kader yang berkualitas, ia harus membangun sistem pembinaan yang berkualitas. Jika ingin menghasilkan keputusan yang baik, ia harus memperbaiki kualitas informasi dan proses pengambilan keputusan. Jika ingin memenangkan kompetisi, ia harus membangun kapabilitas yang sesuai dengan medan kompetisi.

Tawakal tidak membatalkan sunnatullah. Tawakal justru mendorong manusia untuk bekerja di dalam sunnatullah sambil menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada di tangan Allah.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menjelaskan sifat objektif prinsip tersebut: “Prinsip itu seperti mercusuar. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Seperti yang diamati Cecil B. DeMille tentang prinsip-prinsip yang terkandung dalam karyanya yang monumental film Sepuluh Perintah Allah, ‘Tidak mungkin kita melanggar hukum. Kami hanya bisa melanggar hukum'”.

Ini adalah salah satu kesadaran paling penting dalam kepemimpinan: Kita tidak mengendalikan hukum sebab-akibat. Kita hanya memilih sebab yang akan kita masuki.

Allah Menciptakan Sebab dan Akibat

Dalam kerangka iman Islam, manusia mengambil sebab, sedangkan Allah menentukan hasil. Ini adalah keseimbangan yang harus dijaga.

Manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas hasil. Tetapi manusia memiliki tanggung jawab atas pilihan, usaha, keputusan, dan proses yang ia lakukan.

Karena itu, pemimpin tidak boleh berkata: “Kalau Allah menghendaki kita menang, kita pasti menang.” Kalimat itu benar secara teologis, tetapi menjadi keliru apabila digunakan untuk membenarkan kemalasan.

Demikian pula pemimpin tidak boleh berkata: “Kita menang karena strategi kita hebat.” Sebab strategi hanyalah salah satu sebab. Kemampuan manusia sendiri adalah pemberian Allah.

Covey menjelaskan realitas ini melalui metafora pertanian atau “Hukum Panen”: “Pertanian adalah sistem alami. Harga harus dibayar dan proses diikuti. Anda selalu menuai apa yang Anda tabur; tidak ada jalan pintas.”

Tidak ada petani yang menanam duri kemudian berharap memanen gandum. Tidak ada organisasi yang terus-menerus mengabaikan kaderisasi tetapi berharap memiliki kader berkualitas. Tidak ada organisasi yang tidak disiplin dalam eksekusi tetapi berharap memperoleh hasil yang konsisten. Tidak ada pemimpin yang menolak belajar dari perubahan tetapi berharap selalu relevan.

Inilah sunnatullah dalam bahasa manajemen.

Said Hawwa dalam Jundullāh Takhṭīṭan menegaskan bahwa “perencanaan tertinggi bagi umat… adalah tugas yang paling agung dari semuanya”.

Maka, mengambil sebab bukanlah tanda lemahnya iman. Mengambil sebab adalah bagian dari ketaatan kepada Allah yang menciptakan hukum sebab-akibat tersebut.

Dua Kesalahan Ekstrem

Dalam praktik kepemimpinan, setidaknya ada dua ekstrem yang harus dihindari.

Ektrem pertama, mengandalkan sebab dan melupakan Allah. Pemimpin pada ekstrem ini percaya bahwa semua persoalan dapat diselesaikan dengan: uang; teknologi; data; jaringan; popularitas; strategi; kekuasaan; dan kemampuan manusia.

Ia menganggap kemenangan sebagai hasil kalkulasi semata.Disinilah strategi berubah menjadi kesombongan.

Covey mengingatkan bahaya secondary greatness, yaitu ketika seseorang memiliki “kehebatan sekunder—yaitu, pengakuan sosial atas bakat mereka”, tetapi “tidak memiliki kehebatan atau kebaikan utama dalam karakter mereka”.

Secara lahiriah ia mungkin berhasil. Tetapi keberhasilan tersebut belum tentu memiliki fondasi yang kuat. Pemimpin yang hanya percaya kepada kemampuan dirinya akan mudah berubah dari percaya diri menjadi sombong.

Ekstrem kedua, mengingat Allah tetapi meninggalkan sebab. Ini adalah sisi lain dari ekstrimitas, dimana pemimpin yang berbicara banyak tentang tawakal tetapi tidak serius membangun kemampuan.

Ia berdoa, tetapi tidak belajar. Ia berharap, tetapi tidak merencanakan. Ia meminta kemenangan, tetapi tidak melakukan evaluasi. Ia menyalahkan keadaan ketika hasil tidak sesuai harapan.

Inilah tawakul yang dibahas sebelumnya.

Covey menyebut pola semacam ini sebagai “skema ‘cepat kaya’ yang menjanjikan ‘kekayaan tanpa kerja'”. Padahal hukum panen berlaku: “Hukum panen mengatur; kita akan selalu menuai apa yang kita tabur—tidak lebih, tidak kurang.”

Karena itu, seorang pemimpin Muslim harus berdiri di antara dua ekstrem tersebut: Ambil sebab sebaik mungkin. Sandarkan hati kepada Allah sepenuhnya.

Sunnatullah dalam Organisasi

Menariknya, hukum sebab-akibat tidak hanya berlaku bagi individu. Ia juga berlaku bagi organisasi. 

Organisasi adalah sebuah sistem. Ia memiliki manusia, struktur, budaya, proses, informasi, sumber daya, dan mekanisme pengambilan keputusan. Semua komponen tersebut saling memengaruhi.

Organisasi yang: tidak belajar; tidak disiplin; tidak membangun sistem; tidak mengembangkan manusia; tidak mengelola sumber daya; tidak memperbaiki komunikasi; dan tidak mengevaluasi kesalahan; tidak dapat berharap menghasilkan performa luar biasa secara konsisten.

Said Hawwa menekankan pentingnya perpaduan “Budaya, akhlak, perencanaan, organisasi, dan eksekusi”. Lima unsur ini bukan sekadar teori organisasi. Ia adalah infrastructure of effectiveness.

Jika organisasi hanya mengejar hasil tanpa membangun kemampuan menghasilkan hasil, ia sedang menghabiskan modal masa depannya.

Covey memperingatkan: “Fokus berlebihan pada P (hasil) menghasilkan kesehatan yang rusak, mesin yang usang, rekening bank yang terkuras, dan hubungan yang hancur.”

Karena itu, kepemimpinan harus memperhatikan dua hal sekaligus: Production (P) — apa yang dihasilkan hari ini. Production Capability (PC) — kemampuan untuk terus menghasilkan di masa depan. Inilah sebabnya organisasi yang sukses sekali belum tentu organisasi yang sehat.

Pertanyaannya bukan hanya: “Berapa banyak yang kita menangkan?” Tetapi: “Apakah kemenangan ini membuat kita semakin mampu untuk menang secara sehat di masa depan?”

Organisasi yang kuat membangun “budaya disiplin”. Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam Good to Great, “tidak ada efektivitas tanpa disiplin, dan tidak ada disiplin tanpa karakter.”

Pada akhirnya, organisasi yang baik membutuhkan “koherensi, koordinasi tindakan, kebijakan, dan sumber daya untuk mencapai tujuan yang penting.”

Itulah manajemen yang bekerja di dalam sunnatullah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.