Penutup: Arsitektur Kemenangan Sejati

by -1531 Views

Dalam kepemimpinan, salah satu sumber kekeliruan yang paling mendasar adalah ketidakmampuan membedakan wilayah yang menjadi tanggung jawab manusia dan wilayah yang menjadi ketetapan Allah.

Ada pemimpin yang terlalu cepat menyerahkan semuanya kepada takdir. Ia berbicara tentang tawakal, tetapi meninggalkan persiapan. Ia berharap pertolongan Allah, tetapi tidak membangun kapasitas. Ia berdoa agar menang, tetapi tidak membaca realitas.

Di sisi lain, ada pula pemimpin yang terlalu percaya kepada kemampuan dirinya. Ia menghitung kekuatan, menguasai data, menyusun strategi, mengendalikan organisasi, lalu merasa kemenangan adalah konsekuensi otomatis dari kecakapannya.

Keduanya sama-sama keliru.

Seorang pemimpin Muslim harus berdiri di antara keduanya: maksimal dalam ikhtiar, tetapi tetap merendahkan hati di hadapan Allah. Inilah yang dirumuskan dalam THE LEAD TO WIN PRINCIPLE:

Allah determines the outcome.
We are responsible for the quality of our effort.

Kita tidak menguasai hasil.
Tetapi kita bertanggung jawab terhadap kualitas ikhtiar.

Prinsip ini bukan ajakan untuk pasif. Sebaliknya, ia justru menuntut standar ikhtiar yang lebih tinggi. Karena hasil bukan wilayah yang sepenuhnya kita kuasai, maka perhatian kita harus diarahkan kepada sesuatu yang benar-benar berada dalam wilayah tanggung jawab kita: kualitas proses, kualitas keputusan, kualitas persiapan, kualitas eksekusi, dan kualitas evaluasi.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People mengingatkan: “Prinsip itu seperti mercusuar. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Seperti yang diamati Cecil B. DeMille tentang prinsip-prinsip yang terkandung dalam karyanya yang monumental film Sepuluh Perintah Allah, ‘Tidak mungkin kita melanggar hukum. Kami hanya bisa melanggar hukum'”

Ada hukum-hukum yang bekerja dalam kehidupan. Dalam perspektif Islam, kita mengenalnya sebagai sunnatullah. Kita tidak menciptakannya dan tidak bisa menghapusnya. Kita hanya dapat belajar memahaminya dan bekerja sesuai dengannya.

Seorang pemimpin tidak boleh berharap memanen hasil yang berbeda dengan tetap menanam sebab yang sama.

Covey menjelaskan prinsip tersebut melalui metafora pertanian: “Pertanian adalah sistem alami. Harga harus dibayar dan proses diikuti. Anda selalu menuai apa yang Anda tabur; tidak ada jalan pintas.”

Inilah fondasi Lead to Win.

Wilayah Hasil dan Wilayah Ikhtiar

Ada sesuatu yang harus kita lepaskan dan ada sesuatu yang harus kita genggam. Hasil akhir harus kita serahkan kepada Allah. Tetapi ikhtiar harus kita pertanggungjawabkan.

Kita tidak menentukan sepenuhnya apakah sebuah strategi akan berhasil. Kita tidak mengetahui seluruh variabel yang bekerja di luar organisasi. Kita tidak mampu mengendalikan seluruh perilaku manusia, perubahan lingkungan, kompetisi, kondisi ekonomi, atau keputusan pihak lain.

Tetapi kita dapat bertanya: Apakah kita sudah mempersiapkan manusia dengan baik? Apakah kita sudah membaca realitas dengan benar? Apakah data yang kita gunakan dapat dipercaya? Apakah strategi kita fokus? Apakah prioritas kita jelas? Apakah keputusan sudah dikonsultasikan? Apakah eksekusi dilakukan dengan disiplin? Apakah kesalahan dievaluasi dengan jujur?

Di sinilah wilayah kepemimpinan.

Peter F. Drucker dalam The Effective Executive mengatakan: “Kecerdasan, imajinasi, dan pengetahuan adalah sumber daya yang esensial, tetapi hanya efektivitas yang mengubahnya menjadi hasil.” 

Maka, seorang pemimpin tidak cukup hanya berniat baik. Ia harus efektif. Tidak cukup hanya cerdas. Ia harus mampu mengubah kecerdasannya menjadi keputusan. Tidak cukup hanya memiliki visi. Ia harus mampu mengubah visi menjadi strategi. Tidak cukup hanya memiliki strategi. Ia harus mampu mengeksekusinya.

Dan setelah seluruhnya dilakukan, ia harus mampu mengatakan: “Ya Allah, kami telah melakukan bagian kami. Kini kami serahkan hasilnya kepada-Mu.”

Itulah tawakal.

Dari Visi Menuju Realitas

Ada tujuh tahap dalam satu sistem kepemimpinan yang teintegrasi, dimana ketujuh aktivitas tidaklah berdiri sendiri.

Faith menentukan arah. Prepare membangun kemampuan. Read memahami realitas. Choose menentukan fokus.Execute mengubah strategi menjadi tindakan. Evaluate memperbaiki kualitas. Trust mengembalikan hati kepada Allah.

Jika salah satu mata rantai hilang, sistem menjadi pincang.

Faith tanpa preparation dapat melahirkan spiritualitas yang pasif. Preparation tanpa faith dapat melahirkan kesombongan kemampuan.

Reading tanpa choosing menghasilkan analisis tanpa keputusan. Choosing tanpa execution menghasilkan strategi tanpa hasil. Execution tanpa evaluation menghasilkan pengulangan kesalahan.Evaluation tanpa tawakal dapat membuat pemimpin terjebak dalam kecemasan terhadap hasil.

Maka seluruhnya harus berjalan sebagai satu siklus:

FAITH → PREPARE → READ → CHOOSE → EXECUTE → EVALUATE → TRUST

Dan setelah Trust, proses tidak berhenti.

Pengalaman dari hasil yang kita terima menjadi pembelajaran untuk memperkuat Faith dan memperbaiki Prepare pada siklus berikutnya.

Dengan demikian, Lead to Win bukan formula sekali jalan. Ia adalah operating system kepemimpinan.

Penutup

Bab ini dimulai dengan pertanyaan tentang tawakal dan berakhir pada sebuah arsitektur kepemimpinan.

Kita belajar bahwa tawakal bukan tawakul. Kita belajar bahwa wa a‘iddū berarti membangun kesiapan. Kita belajar dari Badr bahwa keterbatasan sumber daya tidak boleh menjadi keterbatasan mental. Kita belajar dari Uhud bahwa strategi membutuhkan disiplin. Kita belajar bahwa doa harus berjalan bersama data. Kita belajar bahwa sunnatullah menuntut kita mengambil sebab. Dan akhirnya, seluruhnya bertemu dalam satu prinsip:

Allah determines the outcome.
We are responsible for the quality of our effort.

Allah menentukan hasil. Kita bertanggung jawab atas kualitas ikhtiar.

Tugas seorang pemimpin Muslim bukan memastikan bahwa ia selalu menang. Tugasnya adalah memastikan bahwa ketika ia berdiri di hadapan Allah, ia dapat mempertanggungjawabkan bahwa ia telah beriman dengan benar, bersiap dengan sungguh-sungguh, membaca realitas dengan jujur, memilih dengan hikmah, bertindak dengan disiplin, mengevaluasi dengan rendah hati, dan bertawakal dengan sepenuh hati.

Maka Lead to Win bukan pertama-tama tentang bagaimana memenangkan kompetisi. Ia adalah tentang bagaimana memimpin dengan benar sehingga kita layak menerima kemenangan jika Allah memberikannya—dan tetap teguh dalam kebenaran jika Allah menetapkan hasil yang berbeda dari yang kita harapkan.

Beriman. Bersiap. Membaca. Memilih. Bertindak. Mengevaluasi. Bertawakal.

Itulah The Lead to Win Principle.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.