Apa Sesungguhnya Arti Kemenangan?

by -1495 Views

Setiap perjuangan membutuhkan definisi tentang kemenangan.

Dalam dunia politik, pertanyaan tentang kemenangan biasanya terdengar sederhana: berapa suara yang diperoleh, siapa yang menang dalam pemilu, siapa yang mendapatkan kursi, siapa yang berhasil menduduki jabatan strategis, dan siapa yang mampu mempertahankan kekuasaan.

Ukuran-ukuran tersebut tentu saja penting. Dalam sebuah kontestasi politik, suara adalah fakta. Kursi adalah fakta. Jabatan adalah fakta. Kemenangan elektoral adalah fakta.

Tetapi apakah semua itu cukup untuk disebut sebagai kemenangan?

Disinilah seorang pemimpin perlu berhenti sejenak.

Sebab bisa saja seseorang memenangkan pemilu tetapi kehilangan kepercayaan rakyat. Bisa mendapatkan jabatan tetapi kehilangan integritas. Bisa menguasai organisasi tetapi kehilangan loyalitas kader. Bisa memenangkan pertarungan politik tetapi meninggalkan kerusakan yang harus dibayar masyarakat bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, sebelum bertanya “How do we win?”, seorang pemimpin perlu mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: “What does winning really mean?” Apa sesungguhnya arti kemenangan?

Pertanyaan ini bukan permainan kata. Ia menentukan bagaimana seorang pemimpin menetapkan tujuan, memilih strategi, menggunakan kekuasaan, mengelola organisasi, memperlakukan lawan politik, dan mempertanggungjawabkan hasil kepemimpinannya.

Bagi seorang Muslim, pertanyaan tersebut bahkan memiliki dimensi yang lebih dalam. Sebab ukuran keberhasilan manusia tidak berhenti pada dunia.

Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah yang menggambarkan keberhasilan dan kemenangan, antara lain falah, nasr, fawz, dan zafar. Falah menunjuk kepada keberuntungan atau keberhasilan yang hakiki; nasr berkaitan dengan pertolongan Allah; fawz menunjuk kepada keberhasilan besar; sedangkan akar kata zafar juga digunakan Al-Qur’an dalam konteks kemenangan. 

Dalam QS. Al-Fath ayat 24, Allah berfirman tentang peristiwa di sekitar Makkah:

مِنۢ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ

“…setelah Dia memberikan kemenangan kepadamu atas mereka.”

Dengan demikian, konsep kemenangan dalam Islam tidak dapat dipersempit menjadi sekadar menang dalam kompetisi duniawi.

Kemenangan Tidak Sama dengan Sekadar Hasil

Dalam kehidupan politik, ada kecenderungan untuk menyamakan hasil dengan strategi.

Seseorang memenangkan pemilu, lalu dianggap memiliki strategi yang hebat. Sebuah partai memperoleh banyak kursi, lalu semua langkah yang ditempuhnya dianggap benar. Seorang politisi berhasil mendapatkan jabatan, kemudian keberhasilannya menjadi pembenaran atas seluruh proses yang telah dilaluinya.

Cara berpikir seperti ini berbahaya.

Richard Rumelt, dalam Good Strategy/Bad Strategy, memberikan peringatan yang sangat penting: “Strategi tidak akan menjadi konsep yang berguna jika ia hanya menjadi sinonim bagi keberhasilan.”

Dalam rumusan aslinya, Rumelt menegaskan bahwa “Strategy cannot be a useful concept if it is a synonym for success.” Strategi harus menjelaskan bagaimana sebuah organisasi menghadapi tantangan, bukan sekadar memberi nama pada hasil yang telah dicapai. Ini penting dalam politik.

Menang dalam pemilu adalah outcome. Tetapi strategi adalah bagaimana organisasi membaca situasi, menentukan prioritas, memilih jalan, mengalokasikan sumber daya, membangun manusia, dan menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan kata lain: Menang adalah hasil. Strategi adalah jalan. Kepemimpinan menentukan apakah hasil dan jalan tersebut layak dipertanggungjawabkan.

Seorang kandidat mungkin memenangkan pemilu karena popularitas, jaringan, kekuatan finansial, momentum, atau kelemahan lawan. Namun kemenangan tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa ia memiliki strategi kepemimpinan yang baik.

Sebaliknya, seorang pemimpin mungkin mengalami kekalahan dalam satu kontestasi, tetapi berhasil membangun organisasi yang lebih kuat, kader yang lebih matang, sistem yang lebih sehat, dan kepercayaan publik yang lebih besar.

Secara elektoral ia kalah.Tetapi secara strategis, ia mungkin sedang membangun kemenangan yang lebih besar.

Di sinilah kita perlu membedakan winning dengan meaningful winning.

Winning versus Meaningful Winning

Winning berarti mencapai hasil yang diinginkan dalam sebuah kompetisi. Meaningful winning lebih dari itu. Ia berarti mencapai kemenangan yang memiliki makna, tujuan, dan nilai.

Perbedaan keduanya terletak pada pertanyaan yang menyertainya. Pemimpin yang hanya berpikir: How do we win? akan berfokus pada teknik. Bagaimana mendapatkan suara? Bagaimana membangun popularitas? Bagaimana memenangkan debat? Bagaimana mengalahkan lawan? Bagaimana menguasai komunikasi? Bagaimana mempertahankan posisi?

Semua pertanyaan tersebut sah. Bahkan penting.

Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar: What are we trying to achieve, and why does it matter? Apa yang sesungguhnya ingin kita capai, dan mengapa hal itu penting? Pertanyaan kedua mengubah perspektif seorang pemimpin dari sekadar contestant menjadi leader.

Seorang contestant berpikir tentang kompetisi. Seorang leader berpikir tentang arah.

Seorang contestant bertanya siapa yang harus dikalahkan. Seorang leader bertanya persoalan apa yang harus diselesaikan.

Seorang contestant melihat rakyat sebagai sumber suara. Seorang leader melihat rakyat sebagai manusia yang memiliki kebutuhan, harapan, hak, dan masa depan.

Inilah perbedaan mendasar antara political competition dan political leadership.

Politik memang mengandung kompetisi. Tetapi politik yang sehat tidak boleh berhenti pada kompetisi. Tujuan akhirnya adalah pelayanan dan perbaikan kehidupan masyarakat.

Kemenangan Elektoral versus Kemenangan Sejati

Pemilu memiliki logikanya sendiri.

Ada suara yang dihitung. Ada kursi yang diperebutkan. Ada ambang batas. Ada daerah pemilihan. Ada strategi komunikasi. Ada mobilisasi. Ada koalisi. Ada mesin organisasi.

Semua itu membutuhkan political management.

Namun kepemimpinan membutuhkan sesuatu yang lebih besar. Ia membutuhkan kemampuan menjawab: Untuk apa kemenangan itu?

Jika sebuah jabatan hanya digunakan untuk memperbesar kekuasaan pribadi, kemenangan elektoral dapat berubah menjadi kekalahan moral. Jika kekuasaan hanya digunakan untuk membangun jaringan kepentingan, kemenangan politik dapat berubah menjadi beban sejarah.

Sebaliknya, jika jabatan digunakan untuk memperbaiki pelayanan publik, memperkuat institusi, memperjuangkan kepentingan masyarakat, membangun kader, dan menegakkan keadilan, maka kemenangan politik memperoleh makna yang jauh lebih besar.

Dalam konteks ini, kemenangan bukan lagi sekadar posisi yang diperoleh, tetapi amanah yang harus ditunaikan.

Al-Qur’an memberikan orientasi yang sangat jelas mengenai falah. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝١
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝٢

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Menarik untuk diperhatikan bahwa Al-Qur’an tidak membuka pembicaraan tentang falah dengan kekuasaan, kekayaan, popularitas, atau kemenangan politik.

Ia memulainya dengan iman dan kualitas pribadi.

Ini memberikan pelajaran penting bagi kepemimpinan: kemenangan publik harus memiliki fondasi kemenangan pribadi.

Personal Victory Comes Before Public Victory

Gagasan tersebut sangat dekat dengan pemikiran Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People.

Covey menyebut adanya Private Victory sebelum Public Victory. Ia menegaskan: “Kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik. Anda tidak dapat membalikkan proses itu sama seperti Anda tidak dapat memanen tanaman sebelum Anda menanamnya.”

Dalam kerangka kepemimpinan, kemenangan pribadi berkaitan dengan penguasaan diri, disiplin, integritas, tanggung jawab, kejelasan tujuan, dan kemampuan mengelola diri sebelum seseorang mengelola orang lain. Gagasan inside-out tersebut menjadi salah satu fondasi penting pemikiran Covey. 

Ini sangat relevan dalam politik.

Kita sering melihat seseorang ingin memimpin organisasi sebelum mampu memimpin dirinya. Ingin mengatur orang lain tetapi tidak mampu mengatur waktunya. Ingin membangun disiplin kader tetapi dirinya sendiri tidak disiplin. Ingin berbicara tentang integritas tetapi sulit memegang komitmen. Ingin membangun kepercayaan publik tetapi tidak konsisten antara ucapan dan tindakan.

Masalah seperti ini bukan pertama-tama masalah komunikasi. Ini masalah karakter (character).  Dalam bahasa manajemen modern, ini adalah persoalan self-leadership.

Seorang pemimpin politik perlu memenangkan beberapa pertarungan internal sebelum berhadapan dengan pertarungan eksternal: memenangkan keserakahan, memenangkan ego, memenangkan kemalasan, memenangkan ketakutan, memenangkan kebutuhan untuk selalu dipuji, dan memenangkan godaan untuk menggunakan kekuasaan bagi kepentingan pribadi.

Tidak mudah.

Kepemimpinan memang tidak pernah dimulai dari podium. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan seseorang mengendalikan dirinya ketika tidak ada kamera yang merekam. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.