Apakah Orang Beriman Pasti Menang?

by -1562 Views

Ada sebuah pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh setiap pemimpin Muslim yang terjun ke dunia politik: Apakah orang beriman pasti menang?

Jika yang dimaksud dengan menang adalah selalu memperoleh suara terbanyak, memenangkan pemilu, mendapatkan jabatan, menguasai parlemen, atau berhasil mempertahankan kekuasaan, jawabannya mudah dan  jelas: tidak.

Keimanan bukan jaminan elektoral.

Sejarah para nabi bahkan menunjukkan bahwa orang-orang yang paling tinggi keimanannya tidak selalu memperoleh kemenangan material secara langsung. Rasulullah ﷺ mengalami tekanan, boikot, hijrah, kehilangan orang-orang yang dicintai, bahkan luka berat dalam Perang Uhud. Para sahabat juga mengalami kekalahan dan berbagai ujian.

Kita perlu berhati-hati terhadap sebuah cara berpikir yang sederhana tetapi berbahaya: “Kita berada di pihak yang benar. Karena itu kita pasti menang.”

Kalimat tersebut terdengar meyakinkan. Namun jika dipahami secara keliru, ia dapat melahirkan kesombongan sebelum pertarungan dan keputusasaan setelah kekalahan.

Masalahnya bukan pada keyakinan bahwa Allah menolong orang beriman. Masalahnya adalah ketika janji pertolongan Allah dipersempit menjadi jaminan bahwa kelompok kita pasti memenangkan setiap kontestasi duniawi.

Di sinilah seorang pemimpin perlu membedakan antara iman, ikhtiar, strategi, dan hasil.

Janji Allah Tidak Boleh Dipersempit Menjadi Kemenangan Elektoral

Dalam politik, kita membutuhkan ukuran operasional.

Ada target suara, target kursi, target daerah pemilihan, target keterpilihan, target koalisi, dan target kebijakan. Semua itu penting karena organisasi membutuhkan ukuran yang konkret.

Namun ukuran operasional tidak boleh disamakan dengan tujuan tertinggi.

Richard Rumelt dalam Good Strategy/Bad Strategy menjelaskan perbedaan antara tujuan yang bersifat umum dan sasaran yang bersifat operasional: “Adalah bermanfaat untuk menggunakan kata ‘tujuan’ (goal) untuk mengekspresikan nilai-nilai dan keinginan secara keseluruhan, dan menggunakan kata ‘sasaran’ (objective) untuk menunjukkan target operasional yang spesifik.”

Pembedaan ini sangat relevan dalam politik.

Memenangkan pemilu adalah objective. Tetapi mewujudkan kemaslahatan, keadilan, pelayanan publik yang baik, dan kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat adalah tujuan yang lebih besar.

Jika seorang pemimpin gagal membedakan keduanya, ia akan mudah menganggap setiap kemenangan elektoral sebagai tanda bahwa Allah meridai seluruh langkahnya. Sebaliknya, ketika mengalami kekalahan, ia dapat merasa bahwa Allah meninggalkannya.

Keduanya merupakan kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa.

Kemenangan politik adalah hasil dari interaksi banyak faktor: ikhtiar manusia, kualitas strategi, kondisi sosial, perilaku pemilih, kekuatan organisasi, momentum, kompetisi, dan tentu saja kehendak Allah.

Karena itu, kemenangan elektoral harus ditempatkan sebagai instrumen, bukan sebagai ukuran tunggal keberhasilan perjuangan.

Kemenangan Agama Tidak Identik dengan Kemenangan Kelompok

Ada persoalan lain yang lebih sensitif.

Dalam perjuangan politik berbasis nilai agama, kita harus berhati-hati agar tidak menyamakan: kemenangan agama Allah = kemenangan organisasi kita.

Keduanya tidak identik.

Organisasi adalah instrumen manusia. Partai adalah instrumen politik. Tokoh adalah manusia. Struktur organisasi dapat benar dan dapat pula keliru. Strategi dapat tepat dan dapat pula salah. Bahkan orang-orang yang berada dalam organisasi yang baik tetap memiliki kelemahan sebagai manusia. Karena itu, tidak setiap kemenangan kelompok otomatis merupakan kemenangan agama. Sebaliknya, tidak setiap kekalahan kelompok berarti kekalahan agama.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People memberikan pembedaan penting: “Prinsip bukanlah nilai. Sekelompok pencuri dapat berbagi nilai, tetapi mereka melanggar prinsip dasar… Prinsip adalah wilayah. Nilai adalah peta.”

Gagasan ini penting dalam memahami organisasi politik.

Sebuah kelompok dapat memiliki nilai-nilai internal yang dianggap baik oleh anggotanya. Tetapi yang menentukan kualitas perjuangannya adalah apakah tindakan kelompok tersebut sesuai dengan prinsip yang benar.

Karena itu, pertanyaan seorang pemimpin tidak boleh berhenti pada: “Apakah organisasi kita menang?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah dalam kemenangan itu kita tetap setia kepada prinsip yang kita perjuangkan?”

Sebab bisa saja sebuah organisasi memenangkan kekuasaan tetapi kehilangan prinsip. Pada titik itu, secara elektoral ia menang, tetapi secara moral justru sedang mengalami kekalahan.

An-Nasr, Al-Falah, dan Kemenangan Politik

Al-Qur’an memiliki kosakata yang kaya untuk menjelaskan keberhasilan. Ada an-naṣr, pertolongan atau kemenangan yang datang dari Allah.

Allah berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
(QS. An-Naṣr: 1)

Ada pula al-falāḥ, keberuntungan atau keberhasilan yang hakiki.

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Mu’minun: 1)

Perhatikan bahwa Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa orang beriman pasti selalu menang dalam setiap kontestasi duniawi.

Apa yang dijanjikan Allah adalah falah—keberhasilan yang memiliki dimensi jauh lebih luas daripada sekadar menang dalam sebuah kompetisi.

Bahkan ketika Al-Qur’an menyebut kemenangan yang besar, ukurannya bukan sekadar kekuasaan. Allah berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)

Ini memberikan perspektif penting bagi seorang pemimpin politik.

Kemenangan duniawi bersifat situasional. Falah memiliki dimensi yang lebih fundamental dan abadi.

Karena itu, kita tidak boleh mengukur seluruh keberhasilan perjuangan hanya dengan satu indikator: menang atau kalah dalam pemilu. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.