Kemenangan Tidak Hanya Berarti Menang Suara

by -1538 Views

Dalam politik demokratis, suara adalah angka yang penting. Ia menentukan mandat, menentukan kursi, dan dalam batas tertentu menentukan siapa yang memperoleh kewenangan untuk mengambil keputusan publik.

Karena itu, seorang politisi tidak boleh meremehkan suara. Pada saat yang sama, seorang pemimpin juga tidak boleh “memuja” suara. Ada perbedaan besar antara mengakui pentingnya suara dan menjadikan suara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Jika kepemimpinan hanya diukur dari angka di kotak suara, maka kita sedang mereduksi politik menjadi kompetisi matematis. Padahal politik pada hakikatnya menyangkut manusia, organisasi, kebijakan, nilai, dan masa depan masyarakat.

Seorang kandidat dapat menang dengan memperoleh suara terbanyak, tetapi belum tentu berhasil membangun organisasi. Sebuah partai dapat memperoleh banyak kursi, tetapi belum tentu menghasilkan kebijakan yang baik. Seorang politisi dapat memenangkan jabatan, tetapi belum tentu memenangkan kepercayaan.

Sebaliknya, seseorang dapat kalah dalam satu pemilu tetapi berhasil membangun kader, memperkuat organisasi, memperbaiki sistem, dan menanamkan nilai yang kelak menghasilkan perubahan yang lebih besar.

Karena itu, kita perlu memperluas definisi kemenangan. Winning is more than winning votes.

Electoral Victory: Ketika Suara Berubah Menjadi Mandat

Kemenangan elektoral adalah bentuk kemenangan yang paling mudah dilihat. Angkanya jelas. Kursinya jelas. Jabatannya jelas.

Seseorang menang atau kalah. Sebuah partai memperoleh kursi atau tidak. Seorang calon mendapatkan mandat atau tidak. Kemenangan seperti ini penting karena demokrasi membutuhkan legitimasi elektoral.

Namun persoalan muncul ketika electoral victory dianggap sebagai akhir dari seluruh perjuangan.

Stephen R. Covey, dalam The 7 Habits of Highly Effective People, menggunakan metafora “telur emas” dan “angsa yang menghasilkan telur emas” untuk menjelaskan hubungan antara hasil dan kemampuan menghasilkan hasil.

Ia mengingatkan: “Jika Anda mengadopsi pola hidup yang berfokus pada telur emas dan mengabaikan angsanya, Anda akan segera kehilangan aset yang menghasilkan telur emas tersebut.”

Dalam politik, kursi adalah telur emas. Organisasi, kader, integritas, kepercayaan masyarakat, dan kapasitas kepemimpinan adalah angsa yang menghasilkan telur emas.

Jika seorang pemimpin hanya mengejar kursi, ia mungkin memperoleh hasil dalam satu periode.

Tetapi jika ia mengorbankan kaderisasi, merusak budaya organisasi, menghancurkan kepercayaan publik, dan mengabaikan sistem, ia sedang menghabiskan aset yang seharusnya menghasilkan kemenangan pada masa depan.

Maka pertanyaan setelah memenangkan pemilu bukan: “Apa lagi yang bisa kita dapatkan?” Tetapi: “Apa yang harus kita bangun dengan mandat yang sudah kita dapatkan?”

Disitulah kemenangan elektoral berubah menjadi tanggung jawab kepemimpinan.

Strategic Victory: Menang dalam Arah, Bukan Sekadar Angka

Dalam strategi, tidak semua kemenangan harus berbentuk kemenangan dalam satu pertandingan. Ada kalanya sebuah organisasi kalah dalam satu kontestasi tetapi berhasil memperbaiki posisi strategisnya.

Misalnya, sebuah partai belum memperoleh kursi yang ditargetkan. Namun selama periode tersebut organisasi berhasil:

  • memperkuat struktur;
  • membangun kader baru;
  • meningkatkan kualitas komunikasi;
  • memahami perubahan perilaku pemilih;
  • memperbaiki hubungan dengan masyarakat;
  • memperbaiki sistem pengambilan keputusan.

Secara elektoral mungkin belum menang. Tetapi secara strategis, organisasi sedang bergerak maju.

Richard Rumelt dalam Good Strategy/Bad Strategy menegaskan: “Strategi yang baik secara jujur mengakui tantangan yang sedang dihadapi dan menyediakan pendekatan untuk mengatasinya.”

Inilah perbedaan antara strategy dan sekadar wishful thinking.

Strategi tidak dimulai dari keinginan: “Kita harus menang.” Strategi dimulai dari diagnosis: “Apa tantangan sebenarnya?” Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan: “Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut?”

Rumelt menekankan bahwa: “Kekuatan strategi berasal dari penanganan langsung masalah mendasar dengan serangkaian tindakan yang terfokus dan terkoordinasi.”

Maka kemenangan strategis terjadi ketika organisasi berhasil menyelesaikan persoalan yang paling menentukan posisi masa depannya.

Bisa saja hari ini kita belum mendapatkan kursi. Tetapi jika kita telah menemukan persoalan mendasar dan berhasil mengatasinya, kita sedang membangun kemenangan yang lebih fundamental.

Organizational Victory: Menang dengan Membuat Organisasi Lebih Kuat

Ada kemenangan yang tidak terlihat dalam perolehan suara, tetapi justru sangat menentukan masa depan.

Itulah organizational victory.

Organisasi disebut menang apabila setelah melalui sebuah periode perjuangan ia menjadi:

  • lebih kuat;
  • lebih profesional;
  • lebih disiplin;
  • lebih solid;
  • lebih adaptif;
  • lebih mampu mengambil keputusan;
  • lebih mampu mengembangkan kader;
  • lebih siap menghadapi perubahan.

Ini berkaitan dengan apa yang dalam kerangka Covey disebut Production Capability (PC).

Sebuah organisasi tidak hanya harus menghasilkan output. Ia harus menjaga kemampuan untuk menghasilkan output secara berkelanjutan. Dalam politik, kemenangan elektoral adalah Production. Kaderisasi adalah Production Capability.

Perolehan kursi adalah Production. Sistem organisasi yang sehat adalah Production Capability.

Popularitas seorang tokoh adalah Production. Kemampuan melahirkan pemimpin baru adalah Production Capability.

Di sinilah banyak organisasi mengalami kesalahan.

Mereka menghabiskan seluruh energi untuk menghasilkan kemenangan hari ini, tetapi tidak membangun kemampuan menghasilkan kemenangan besok.

Rumelt menyebut pentingnya koherensi dalam strategi: “Kekuatan strategi berasal dari penanganan langsung masalah mendasar dengan serangkaian tindakan yang terfokus dan terkoordinasi.”

Artinya, organisasi yang sehat tidak bekerja sebagai kumpulan individu yang bergerak sendiri-sendiri. Ada arah. Ada prioritas. Ada koordinasi. Ada pembagian peran. Ada sistem. Dengan demikian, organisasi yang menang bukan hanya organisasi yang memperoleh banyak suara. Organisasi yang menang adalah organisasi yang setelah sebuah kontestasi menjadi lebih mampu daripada sebelum kontestasi.

Leadership Victory: Ketika Pemimpin Melahirkan Pemimpin

Ada satu ukuran kemenangan yang jauh lebih tinggi daripada kemenangan pribadi, yaitu ketika seorang pemimpin berhasil melahirkan pemimpin baru.

Pemimpin yang hanya ingin terus berada di depan mungkin terlihat kuat. Tetapi organisasi yang selalu bergantung kepada satu figur sebenarnya sedang menyimpan kelemahan.

Pertanyaan sederhana yang perlu diajukan: Jika pemimpin utama tidak lagi berada di posisi tersebut, apakah organisasi tetap berjalan? Jika jawabannya tidak, berarti kita belum membangun kepemimpinan. Kita sedang membangun ketergantungan.

Covey menekankan: “Kepemimpinan yang hebat dimulai pertama-tama dengan karakter—bahwa kepemimpinan terutama merupakan fungsi dari siapa Anda, karena ini adalah fondasi untuk semua yang Anda lakukan.”

Karena itu, kaderisasi bukan sekadar memindahkan pengetahuan. Kaderisasi adalah proses membangun karakter, kompetensi, kedewasaan, dan kemampuan mengambil keputusan.

Leadership victory terjadi ketika orang-orang yang dahulu dipimpin mulai mampu memimpin. Ketika kader mampu berpikir, mampu mengambil keputusan, mampu memikul amanah, mampu bekerja tanpa selalu menunggu instruksi. Dan yang paling penting, ketika kader mampu melanjutkan misi tanpa harus menjadi fotocopy dari pemimpin sebelumnya.

Seorang pemimpin sejati tidak menciptakan pengikut yang bergantung kepadanya. Ia menciptakan pemimpin yang mampu berdiri dengan prinsipnya sendiri.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.