Kemenangan Bukan Tujuan Akhir

by -1535 Views

Ada satu pertanyaan yang seharusnya selalu mengikuti ambisi politik: Untuk apa kita ingin menang?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi justru sering hilang dalam hiruk-pikuk kontestasi. Kita terlalu sibuk membicarakan bagaimana memperoleh suara, bagaimana memenangkan pemilu, bagaimana mendapatkan kursi, atau bagaimana mempertahankan kekuasaan. Kita berbicara panjang tentang how to win, tetapi lupa bertanya tentang why we want to win.

Padahal, perbedaan antara pemimpin yang memiliki visi dengan pemburu kekuasaan sering kali terletak pada pertanyaan tersebut.

Kemenangan adalah means. Kekuasaan adalah means. Jabatan adalah means. Kursi politik adalah means. Sedangkan tujuan akhirnya harus berada jauh di atas semuanya.

Seorang pemimpin yang tidak memiliki purpose yang lebih tinggi daripada kemenangan akan mudah menjadikan kemenangan sebagai tujuan itu sendiri. Dan ketika kemenangan menjadi tujuan akhir, prinsip akan mulai dinegosiasikan.

Why Do We Want to Win?

Pertanyaan Fundamental Seorang Pemimpin. Dalam perjalanan politik, ada dua jenis pertanyaan. Pertanyaan pertama: “Bagaimana kita menang?” Pertanyaan kedua: “Untuk apa kita menang?”

Pertanyaan pertama berbicara tentang strategi. Pertanyaan kedua berbicara tentang filosofi kepemimpinan. Keduanya penting, tetapi urutannya tidak boleh dibalik.

Jika kita menjawab how sebelum menjawab why, kita berisiko menjadi sangat efektif dalam mencapai sesuatu yang sebenarnya tidak layak dikejar.

Richard Rumelt dalam Good Strategy/Bad Strategy menekankan pentingnya menentukan tujuan yang bermakna. Ia menyatakan: “Strategi adalah keahlian untuk mencari tahu tujuan mana yang layak dikejar dan mampu dicapai.”

Inilah salah satu pembeda antara strategi dan sekadar ambisi.

Ambisi berkata: “Saya ingin menang.” Strategi bertanya: “Kemenangan seperti apa yang layak dikejar, mengapa ia penting, dan bagaimana kita mencapainya?”

Seorang politisi mungkin ingin memperoleh jabatan. Tetapi seorang pemimpin harus mampu menjawab: Apa yang akan dilakukan dengan jabatan itu?

Seorang kandidat mungkin ingin memperoleh kursi. Tetapi seorang pemimpin harus bertanya: Perubahan apa yang ingin diwujudkan melalui kursi tersebut?

Sebuah partai mungkin ingin meningkatkan jumlah kursi. Tetapi kepemimpinan yang matang harus bertanya: Apa yang akan dilakukan dengan bertambahnya kekuasaan itu untuk masyarakat?

Jika pertanyaan terakhir tidak pernah dijawab, maka kemenangan hanya menjadi end in itself.

Power as a Means

Dalam perspektif kepemimpinan, kekuasaan bukan sesuatu yang harus dibenci. Kekuasaan adalah realitas sosial yang dapat digunakan untuk kebaikan ataupun keburukan.

Masalahnya bukan semata-mata apakah seseorang memiliki kekuasaan. Masalahnya adalah: Untuk apa kekuasaan itu digunakan?

Kekuasaan dapat digunakan untuk memperluas pelayanan publik. Untuk memperjuangkan keadilan, melindungi masyarakat yang lemah, memperbaiki tata kelola pemerintahan,  membangun infrastruktur, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, membuka kesempatan ekonomi, memberdayakan masyarakat, memastikan kebijakan publik benar-benar menghadirkan kemaslahatan.

Dengan kata lain, power harus menjadi instrumen of service.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menempatkan pelayanan dan kontribusi sebagai bagian penting dari efektivitas manusia. Ia berbicara tentang: “pelayanan, atau ide untuk memberikan kontribusi.”

Gagasan ini penting dalam politik.

Jabatan seharusnya memperbesar kapasitas seseorang untuk memberikan kontribusi, bukan sekadar memperbesar hak istimewanya. Kekuasaan seharusnya memperbesar kemampuan melayani, bukan memperbesar ego.

Karena itu, Covey memberikan metafora yang sangat terkenal: “Manajemen adalah efisiensi dalam menaiki tangga kesuksesan; kepemimpinan menentukan apakah tangga itu bersandar pada dinding yang benar.”

Dalam politik, kita dapat memperluas metafora tersebut. Pemilu adalah tangga. Jabatan adalah tangga. Kekuasaan adalah tangga. Tetapi pertanyaan terpentingnya adalah: Tangga itu sedang disandarkan ke dinding mana?

Sebab seseorang bisa saja menaiki tangga politik dengan sangat cepat, hanya untuk menemukan bahwa seluruh hidupnya diarahkan menuju tujuan yang salah.

Ketika Kemenangan Menjadi Tujuan Itu Sendiri

Masalah dimulai ketika seseorang tidak lagi melihat kemenangan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Ia mulai mencintai kemenangan itu sendiri.

Kursi menjadi tujuan. Jabatan menjadi tujuan. Popularitas menjadi tujuan. Kekuasaan menjadi tujuan. Kemudian muncul kebutuhan untuk mempertahankan semuanya dengan cara apa pun.

Disinilah politik mulai kehilangan orientasi moral.

Stephen Covey membedakan antara primary greatness dan secondary greatness.

Ia mengingatkan: “Banyak orang dengan kehebatan sekunder—yaitu, pengakuan sosial atas bakat mereka—tidak memiliki kehebatan atau kebaikan utama dalam karakter mereka.”

Ini adalah peringatan yang sangat relevan bagi pemimpin politik.

Seseorang dapat memiliki:

  • jabatan tinggi;
  • popularitas besar;
  • pengikut yang banyak;
  • akses terhadap kekuasaan;
  • jaringan politik yang luas;

tetapi belum tentu memiliki primary greatness.

Sebab jabatan menunjukkan posisi. Popularitas menunjukkan pengakuan. Jumlah pengikut menunjukkan pengaruh. Tetapi semuanya belum tentu menunjukkan karakter.

Ketika secondary greatness menggantikan primary greatness, politik akan mudah berubah menjadi permainan status.

Orang mulai bertanya: “Berapa kursi yang kita dapat?” daripada: “Apa yang sudah kita berikan kepada masyarakat?”

Mereka mulai menghitung: “Berapa banyak posisi yang kita kuasai?” daripada: “Berapa banyak masalah masyarakat yang berhasil kita selesaikan?”

Disinilah kemenangan mulai kehilangan makna.

The Danger of Winning at All Costs

Ada sebuah godaan besar dalam politik: “Yang penting menang.” Kalimat ini tampak sederhana. Tetapi di dalamnya terkandung bahaya filosofis yang besar.

Jika kemenangan menjadi ukuran tertinggi, maka hampir semua cara dapat mulai dianggap sah selama efektif.

Manipulasi dianggap strategi. Kebohongan dianggap komunikasi politik. Transaksi kepentingan dianggap kompromi. Eksploitasi kelemahan lawan dianggap kecerdikan. Politik uang dianggap investasi. Serangan terhadap kehormatan orang lain dianggap bagian dari kontestasi.

Pada titik tertentu, batas antara strategi dan manipulasi menjadi kabur.

Padahal pemimpin yang baik tidak hanya bertanya: “Apakah cara ini efektif?” Ia juga harus bertanya: “Apakah cara ini benar?” Dan bahkan pertanyaan tersebut masih perlu dilanjutkan: “Jika semua orang menggunakan cara seperti ini, seperti apa politik kita sepuluh atau dua puluh tahun ke depan?”

Inilah cara berpikir jangka panjang.

Covey memberikan metafora Production (P) dan Production Capability (PC) melalui kisah telur emas dan angsa.

Ia memperingatkan: “Jika Anda mengadopsi pola hidup yang berfokus pada telur emas dan mengabaikan angsanya, Anda akan segera kehilangan aset yang menghasilkan telur emas tersebut.”

Dalam politik, kemenangan adalah telur emas. Sedangkan karakter, kepercayaan, organisasi, budaya, dan integritas adalah angsanya.

Pemimpin yang mengorbankan semuanya demi satu kemenangan mungkin mendapatkan telur emas hari ini. Tetapi ia sedang menghancurkan kemampuan untuk menghasilkan telur-telur berikutnya.

Itulah sebabnya kemenangan yang diperoleh dengan menghancurkan kepercayaan publik sesungguhnya adalah kemenangan yang sangat mahal. 

Ends and Means

Dalam politik, kita sering menemukan pembenaran seperti: “Tujuan kita baik.” Karena tujuan dianggap baik, cara apa pun kemudian dianggap dapat diterima.

Ini adalah jebakan besar.

Tujuan yang baik memang penting. Tetapi cara mencapai tujuan juga menentukan kualitas tujuan tersebut.

Jika kita ingin membangun pemerintahan yang bersih tetapi menggunakan cara-cara koruptif untuk memperoleh kekuasaan, ada kontradiksi mendasar disana.

Jika kita ingin membangun masyarakat yang adil tetapi memenangkan kekuasaan melalui manipulasi dan fitnah, ada persoalan moral yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengatakan bahwa tujuan kita baik.

Covey mengingatkan: “Hanya kebaikan dasar yang memberi kehidupan pada teknik.”

Artinya, teknik tidak boleh menggantikan karakter. Kemampuan komunikasi politik harus dibangun diatas kejujuran. Kemampuan persuasi harus dibangun di atas penghormatan terhadap kebebasan manusia.

Strategi elektoral harus dibangun diatas integritas.Kemampuan membangun koalisi harus tetap memiliki batas-batas moral.

Tidak semua yang efektif itu benar. Dan tidak semua yang menghasilkan kemenangan layak disebut keberhasilan.

Di sinilah kepemimpinan berbeda dari sekadar kecerdikan politik. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.