Bagaimana Seorang Pemimpin Mendefinisikan Kesuksesan?

by -1561 Views

Setelah membahas makna kemenangan, tingkatan kemenangan, dan tujuan di balik kemenangan, kita sampai pada pertanyaan yang tidak kalah penting: Bagaimana seorang pemimpin mendefinisikan kesuksesan?

Pertanyaan ini bukan pertanyaan teoritis. Ia memiliki konsekuensi langsung terhadap cara seorang pemimpin mengambil keputusan, menggunakan sumber daya, membangun organisasi, memperlakukan manusia, dan menentukan strategi politik.

Sebab, apa yang kita definisikan sebagai sukses akan menentukan apa yang kita kejar.

Jika sukses didefinisikan sebagai jumlah suara, seluruh energi organisasi akan diarahkan untuk memperoleh suara. Jika sukses didefinisikan sebagai jabatan, maka jabatan akan menjadi pusat perhatian. Tetapi jika sukses didefinisikan sebagai perubahan sosial dan pembangunan manusia, maka strategi yang kita pilih tentu akan berbeda.

Richard Rumelt dalam Good Strategy/Bad Strategy mengingatkan: “Strategi tidak akan menjadi konsep yang berguna jika ia hanya menjadi sinonim bagi keberhasilan.”

Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki definisi keberhasilan yang lebih lengkap daripada sekadar hasil akhir.

Success Is Not a Single Metric

Dalam politik modern, kita sangat mudah terjebak pada apa yang bisa dihitung.

Berapa suara? Berapa kursi? Berapa anggota? Berapa persen pertumbuhan? Berapa banyak program yang selesai? Semua pertanyaan tersebut penting. Tetapi tidak satu pun mampu menjelaskan keseluruhan kualitas kepemimpinan.

Angka hanya menunjukkan apa yang terjadi. Ia belum tentu menjelaskan mengapa hal itu terjadi, bagaimana cara mencapainya, dan apa dampaknya bagi masa depan.

Karena itu, pemimpin strategis harus membedakan antara measurement dan meaning.

Pengukuran membantu kita mengetahui posisi. Makna membantu kita mengetahui apakah posisi tersebut layak diperjuangkan.

Rumelt mengingatkan bahwa daftar panjang target dan aktivitas bukanlah strategi. Ia menyebut: “Daftar panjang ‘hal yang harus dilakukan’, yang sering disalahartikan sebagai ‘strategi’, bukanlah strategi. Itu hanyalah daftar belanjaan.”

Dalam politik, daftar target seperti memperoleh sekian kursi, meningkatkan suara sekian persen, memenangkan sejumlah daerah, atau memperbesar jumlah anggota memang penting. Tetapi semuanya baru menjadi bermakna apabila ditempatkan dalam sebuah tujuan strategis yang lebih besar.

Quantitative Success

Tidak berarti ukuran kuantitatif tidak penting. Justru seorang pemimpin yang serius harus mampu membaca angka.

Perolehan suara adalah data. Jumlah kursi adalah data. Pertumbuhan organisasi adalah data. Jumlah kader adalah data. Capaian program adalah data. Anggaran dan penggunaan sumber daya juga merupakan data. Seorang pemimpin yang tidak mampu membaca angka akan kesulitan membaca realitas.

Namun, angka harus ditempatkan pada proporsi yang benar.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menggunakan konsep Production (P) dan Production Capability (PC). Production adalah hasil yang ingin kita capai, sedangkan Production Capability adalah kemampuan yang memungkinkan hasil tersebut terus dihasilkan.

Dalam metafora yang sangat terkenal, Covey menyebut hasil sebagai “telur emas”, sedangkan kemampuan menghasilkan hasil adalah “angsa”.

Ia memperingatkan: “Jika Anda mengadopsi pola hidup yang berfokus pada telur emas dan mengabaikan angsanya, Anda akan segera kehilangan aset yang menghasilkan telur emas tersebut.”

Dalam politik, suara adalah telur emas. Tetapi kepercayaan publik, kualitas kader, integritas pemimpin, sistem organisasi, dan budaya kerja adalah angsanya.

Maka seorang pemimpin harus mampu bertanya: Apakah angka kita tumbuh karena organisasi semakin sehat, atau karena kita sedang menghabiskan aset masa depan? 

Pertanyaan ini sangat penting. Sebab mungkin saja suara meningkat, tetapi kader semakin lelah. Kursi bertambah, tetapi budaya organisasi memburuk. Program bertambah, tetapi kepercayaan publik menurun.

Secara angka kita tumbuh. Secara institusi kita mungkin sedang melemah.

Qualitative Success

Ada jenis keberhasilan yang tidak mudah dihitung:  Kepercayaan. Integritas. Reputasi. Kualitas hubungan. Kualitas kader. Budaya organisasi. Kedewasaan pemimpin. Semua ini tidak mudah dimasukkan ke dalam spreadsheet, tetapi justru sering menentukan apakah sebuah organisasi mampu bertahan dalam jangka panjang.

Covey menegaskan: “Hanya kebaikan dasar yang memberi kehidupan pada teknik.”

Pernyataan ini sangat relevan dalam politik.

Kita dapat memiliki teknologi komunikasi yang canggih, konsultan yang hebat, survei yang akurat, dan strategi kampanye yang kreatif. Tetapi jika masyarakat tidak mempercayai kita, semua teknik tersebut memiliki batas. Karena itu, trust is an organizational asset. Kepercayaan adalah aset.

Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan. Covey menjelaskan bahwa: “Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan dan merupakan dasar dari berbagai jenis simpanan” dalam hubungan manusia.

Inilah sebabnya kualitas seorang pemimpin tidak cukup dinilai dari kemampuannya berbicara di depan publik. Kita juga harus melihat apakah orang-orang mempercayainya ketika tidak ada kamera. Apakah anggota organisasi merasa aman menyampaikan pendapat? Apakah kader percaya bahwa keputusan diambil secara adil? Apakah masyarakat percaya bahwa janji politik memiliki kemungkinan untuk diwujudkan?

Disinilah keberhasilan kualitatif bekerja.

Short-Term vs. Long-Term Success

Salah satu jebakan terbesar dalam politik adalah kemenangan jangka pendek. 

Pemimpin ditekan untuk menghasilkan sesuatu sekarang. Survei harus naik sekarang. Popularitas harus meningkat sekarang. Suara harus bertambah sekarang. Kursi harus diperoleh sekarang. Akibatnya, investasi jangka panjang sering dikorbankan.

Kaderisasi dianggap tidak mendesak. Pendidikan politik dianggap tidak menghasilkan suara secara langsung. Pembangunan sistem dianggap terlalu lambat. Penguatan budaya organisasi dianggap tidak terlihat hasilnya. Padahal, organisasi yang sehat dibangun melalui proses.

Covey memperingatkan: “Fokus berlebihan pada P (hasil) menghasilkan kesehatan yang rusak, mesin yang usang, rekening bank yang terkuras, dan hubungan yang hancur.”

Karena itu ia menegaskan: “Efektivitas terletak pada keseimbangan—yang saya sebut sebagai Saldo P/PC.”

Prinsip ini sangat penting dalam politik.

Pemimpin harus mampu mengejar hasil hari ini tanpa menghancurkan kemampuan menghasilkan hasil esok hari. Menang hari ini tidak boleh menjadi alasan untuk membuat organisasi kalah besok. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.