Berserah kepada Allah Tanpa Meninggalkan Ikhtiar

by -1583 Views

Ada satu kekeliruan yang cukup sering terjadi dalam memahami hubungan antara tawakal dan ikhtiar. Sebagian orang mengira bahwa semakin kuat tawakal seseorang, semakin sedikit ia perlu melakukan usaha. Seolah-olah berserah kepada Allah berarti mengurangi perencanaan, mengabaikan persiapan, tidak perlu belajar, atau menerima begitu saja keadaan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki.

Cara pandang seperti ini perlu diluruskan. Tawakal bukanlah lawan dari ikhtiar. Tawakal justru menempatkan ikhtiar pada posisi yang benar.

Seorang Muslim bekerja sebaik mungkin karena bekerja adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai manusia. Namun setelah seluruh kemampuan dikerahkan, ia tidak menggantungkan hatinya kepada kemampuan tersebut. Ia menggantungkan hatinya kepada Allah.

Di sinilah perbedaan mendasar antara tawakal dan tawakul. Tawakal membuat seseorang aktif tetapi hatinya tenang. Tawakul membuat seseorang pasif lalu menjadikan takdir sebagai alasan.

Dalam perspektif LEAD TO WIN, prinsipnya sederhana: Work with excellence. Trust Allah with the outcome. Kerjakan sebab-sebabnya dengan sebaik mungkin. Serahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Makna Tawakal

Secara bahasa, tawakkul berasal dari akar kata Arab وَكَلَ — wakala, yang berkaitan dengan makna mewakilkan, menyerahkan urusan, atau bersandar kepada pihak yang dipercaya.

Secara maknawi, tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam memperoleh manfaat dan menolak mudarat, disertai pengambilan sebab-sebab yang dibenarkan. Karena itu, tawakal bukan sekadar tindakan lahiriah. Tawakal terutama merupakan aktivitas hati.

Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, menggunakan strategi yang sama, bahkan menghadapi risiko yang sama, tetapi kondisi batinnya berbeda. Orang pertama merasa: “Semua bergantung pada kemampuan saya.” Sementara orang kedua berkata: “Saya wajib melakukan yang terbaik, tetapi hasil akhirnya milik Allah.” Orang kedua inilah yang memiliki fondasi tawakal.

Tawakal mengajarkan seorang pemimpin untuk tidak menjadikan makhluk sebagai tempat bergantung secara mutlak. Manusia tentu membutuhkan manusia lain. Organisasi membutuhkan tim. Pemimpin membutuhkan penasihat. Kandidat membutuhkan relawan. Perusahaan membutuhkan karyawan. Pemerintahan membutuhkan aparatur.

Semua itu adalah asbab. Tetapi asbab bukanlah Tuhan. Disinilah seorang pemimpin perlu membedakan antara menggunakan manusia sebagai sebab dan menggantungkan hati kepada manusia.

Pemimpin yang menggantungkan hasil kepada manusia akan mudah panik ketika dukungan berubah. Ketika seorang tokoh meninggalkan organisasi, ia merasa semuanya berakhir. Ketika survei turun, ia kehilangan keberanian. Ketika sumber daya berkurang, ia kehilangan harapan. Ketika menghadapi tekanan, ia mulai melakukan kompromi yang merusak prinsip.

Sebaliknya, pemimpin yang bertawakal tetap menghargai seluruh sebab, tetapi tidak mempersekutukan sebab dengan Musabbib al-Asbab—Allah, Zat yang menciptakan seluruh sebab dan akibat.

Dalam konteks kepemimpinan, tawakal memberikan independensi psikologis. Ia membuat pemimpin mampu bekerja sama dengan manusia tanpa menjadi budak manusia.

Mengapa Tawakal Membutuhkan Ikhtiar?

Jika Allah adalah penentu hasil, mengapa manusia masih harus bersusah payah mengambil sebab? Jawabannya terletak pada sunnatullah.

Allah menciptakan kehidupan dengan hukum-hukum yang harus dipelajari manusia. Petani menanam sebelum memanen. Pelajar belajar sebelum menghadapi ujian. Organisasi membangun sistem sebelum memperoleh kinerja yang berkelanjutan.

Stephen R. Covey menggambarkan prinsip ini melalui hukum pertanian: “Pertanian adalah sistem alami. Harga harus dibayar dan proses diikuti. Anda selalu menuai apa yang Anda tabur; tidak ada jalan pintas.”

Inilah prinsip yang sangat penting bagi kepemimpinan.

Tidak ada organisasi kuat yang dibangun dalam satu malam. Tidak ada kader matang tanpa proses pembinaan. Tidak ada reputasi tanpa konsistensi. Tidak ada kepercayaan tanpa integritas. Tidak ada strategi tanpa pembelajaran. Dan tidak ada eksekusi yang unggul tanpa disiplin. Karena itu, mengambil sebab bukan berarti kurang tawakal. Mengambil sebab adalah bagian dari ketaatan terhadap sunnatullah.

Rasulullah ﷺ pun mengambil sebab. Kehidupan Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat jelas mengenai integrasi antara tawakal dan ikhtiar.

Dalam perjuangan dakwah, beliau tidak hanya berdoa. Beliau juga: membina manusia; memilih orang yang tepat; mengatur strategi; melakukan musyawarah; membaca situasi; menyusun langkah; menjaga keamanan; mempersiapkan pasukan; dan mengambil berbagai sebab yang tersedia.

Dengan demikian, tawakal tidak menghilangkan profesionalisme.

Justru Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa semakin besar tanggung jawab, semakin serius pula seseorang harus mengambil sebab.

Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh al-Sirah menekankan pentingnya membaca kehidupan Rasulullah ﷺ sebagai proses perjuangan yang tunduk pada hukum-hukum kehidupan. Dalam bahan yang menjadi dasar pembahasan ini, ia dirumuskan secara kuat sebagai: “belajar dari undang-undang bumi.”

Pesan tersebut sangat relevan bagi pemimpin modern.

Jika kita ingin membangun organisasi politik yang kuat, kita harus mempelajari organisasi. Jika ingin memenangkan kontestasi, kita harus memahami perilaku pemilih. Jika ingin membangun kebijakan yang baik, kita harus memahami data dan persoalan masyarakat. Jika ingin melahirkan kader yang matang, kita harus memahami proses pendidikan dan kepemimpinan.

Doa tidak menggantikan diagnosis. Tawakal tidak menggantikan kompetensi. Iman tidak menggantikan persiapan. Semuanya harus ditempatkan secara proporsional.

Tawakal vs. Tawakul

Di sinilah kita perlu membedakan dua sikap yang sering kali dianggap sama. Tawakal, berusaha maksimal, kemudian menyerahkan hasil kepada Allah. Sedangkan tawakul ialah meninggalkan usaha, kemudian menjadikan takdir sebagai pembenaran.

Perbedaannya sangat mendasar. Orang yang tawakal berkata: “Saya sudah melakukan yang terbaik. Sekarang saya serahkan hasilnya kepada Allah.” Orang yang tawakul berkata: “Tidak perlu terlalu banyak usaha. Kalau memang Allah menghendaki kemenangan, kita akan menang.”

Kalimat kedua terdengar religius, tetapi dapat menyembunyikan kemalasan.

Dalam organisasi, tawakul dapat berkembang menjadi budaya yang sangat berbahaya. Misalnya: “Tidak perlu riset yang penting niat kita baik.” “Tidak perlu evaluasi, semua sudah takdir.” “Tidak perlu memperbaiki sistem, Allah pasti menolong.” “Tidak perlu belajar strategi yang penting kita ikhlas.”

Masalahnya bukan pada niat baik, keikhlasan, atau tawakal. Masalahnya adalah ketika istilah-istilah tersebut digunakan untuk membenarkan ketidakmampuan mengelola amanah.

Richard Hughes dalam Becoming a Strategic Leader mengingatkan bahaya organisasi yang kehilangan fokus strategis. Pemimpin dapat “mencoba menjadi segalanya bagi semua orang, dan mereka gagal membuat keputusan sulit yang memberikan fokus strategis.”

Dalam konteks ini, tawakul seringkali berjalan bersama dengan keengganan untuk memilih, belajar, dan memperbaiki diri. Padahal, pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas niat. Ia juga bertanggung jawab atas kualitas ikhtiar.

Jangan Menjadikan Kelemahan sebagai Kesalehan

Ini salah satu jebakan yang harus dihindari.

Ada kalanya sebuah organisasi memiliki kelemahan dalam: kemampuan komunikasi; penguasaan data; kaderisasi; manajemen; teknologi; penggalangan sumber daya; disiplin kerja; koordinasi; maupun kepemimpinan.

Namun kelemahan tersebut kemudian diberi label sebagai kesederhanaan atau kezuhudan. Padahal, sederhana tidak sama dengan tidak profesional. Rendah hati tidak sama dengan tidak kompeten. Tawakal tidak sama dengan tidak siap.Ikhlas tidak sama dengan tidak melakukan evaluasi.

Bahkan, ketika seseorang menerima amanah besar, meningkatkan kompetensi adalah bagian dari tanggung jawab moralnya. Dalam bahasa manajemen: Good intentions do not compensate for poor execution. Dan dalam bahasa LEAD TO WIN: Kesucian niat harus berjalan bersama kualitas ikhtiar. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.