Persiapan adalah Bagian dari Ikhtiar

by -1575 Views

Jika pada bagian sebelumnya kita membahas bahwa tawakal tidak boleh berubah menjadi tawakul, maka konsekuensi logis berikutnya adalah: orang yang benar-benar bertawakal harus mempersiapkan diri.

Dalam dunia kepemimpinan, kita sering menemukan paradoks. Banyak orang menginginkan kemenangan, tetapi tidak mempersiapkan kapasitas untuk memenangkannya. Mereka berharap organisasi tumbuh, tetapi tidak membangun manusia. Mereka menginginkan dukungan masyarakat, tetapi tidak membangun reputasi. Mereka ingin memenangkan kontestasi, tetapi baru memikirkan strategi ketika kompetisi sudah dimulai.

Padahal, kemenangan hampir selalu memiliki sejarah panjang yang tidak terlihat.

Ada proses belajar. Ada pembangunan manusia. Ada pengumpulan informasi. Ada pembentukan sistem. Ada latihan. Ada penguatan jaringan. Ada penyediaan sumber daya. Ada simulasi terhadap berbagai kemungkinan. Ada evaluasi terhadap kelemahan. Semua itu berlangsung sebelum hasil terlihat.

Karena itu, QS. Al-Anfal [8]: 60 memberikan prinsip yang sangat penting:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”

Ayat ini berada dalam konteks hubungan antara kaum Muslimin dengan pihak yang mengancam mereka. Karena itu, konteks aslinya tidak boleh diabaikan atau diperluas secara serampangan. Namun, dari ayat tersebut kita dapat menangkap satu prinsip kepemimpinan yang universal: kekuatan tidak boleh baru dibangun setelah tantangan datang.

Dalam konteks modern, prinsip wa a‘iddū dapat menjadi fondasi bagi gagasan preparedness, capability, dan strategic readiness—kesiapan manusia, organisasi, sumber daya, dan strategi untuk menghadapi tantangan.

Said Hawwa dalam Jundullāh Takhṭīṭan menekankan pentingnya perencanaan bagi umat dan menyebut bahwa “perencanaan tertinggi bagi umat… adalah tugas yang paling agung dari semuanya.”

Artinya, persiapan bukan aktivitas administratif yang berada di pinggir perjuangan. Persiapan adalah bagian dari perjuangan itu sendiri.


Wa A‘iddū: Perintah untuk Mempersiapkan

Kata أَعِدُّوا (a‘iddū) berasal dari akar kata yang bermakna mempersiapkan, menyediakan, atau menyiapkan sesuatu sebelum dibutuhkan.

Disinilah terdapat pelajaran strategis yang sangat penting: kekuatan harus dibangun sebelum diperlukan.

Organisasi yang baru membangun struktur ketika kompetisi sudah berlangsung biasanya akan mengalami kepanikan. Tim baru dibentuk ketika waktu semakin sempit. Data baru dicari ketika keputusan harus segera dibuat. Kader baru dilatih ketika mereka sudah harus bekerja. Sistem komunikasi baru dibangun ketika krisis informasi sudah terjadi.

Pada titik itu, organisasi sebenarnya bukan sedang melakukan persiapan. Ia sedang bereaksi terhadap keadaan.

Pemimpin strategis bekerja dengan cara berbeda. Ia bertanya jauh sebelum kompetisi:  Apa yang mungkin terjadi? Apa yang kita perlukan? Apa yang belum kita miliki? Di mana kelemahan kita? Apa yang harus kita bangun? Siapa yang harus dipersiapkan? Berapa lama waktu yang tersedia?

Richard L. Hughes dalam Becoming a Strategic Leader menjelaskan bahwa pengembangan efektivitas strategis bukan sekadar “persiapan proaktif untuk tanggung jawab di masa depan.” Kepemimpinan strategis menuntut kemampuan menghadapi lingkungan yang ditandai oleh “kecepatan perubahan… ketidakpastian yang meningkat… dan ambiguitas yang berkembang.”

Karena itu, organisasi membutuhkan proses belajar yang terus-menerus melalui “interplay berkelanjutan antara tindakan, observasi, dan refleksi.”

Inilah makna penting preparedness.

Persiapan bukan berarti kita mampu meramalkan masa depan secara sempurna. Tidak ada pemimpin yang memiliki kemampuan tersebut. Persiapan berarti kita membangun kapasitas agar ketika masa depan datang, kita tidak datang dengan tangan kosong.

Apa yang Dimaksud dengan Quwwah?

Pertanyaan berikutnya adalah: kekuatan seperti apa yang harus dipersiapkan?

Dalam konteks ayat, quwwah memiliki konteks yang berkaitan dengan kekuatan menghadapi ancaman. Namun sebagai prinsip kepemimpinan dan organisasi, konsep kekuatan dapat kita refleksikan secara lebih luas.

Kekuatan organisasi modern tidak hanya berada pada jumlah orang atau besarnya anggaran. Kekuatan dapat berbentuk: iman yang kokoh; ilmu yang memadai; manusia yang berkualitas; kepemimpinan yang matang; organisasi yang solid; sumber daya ekonomi yang sehat; informasi yang akurat; komunikasi yang efektif; teknologi yang tepat; jaringan yang luas; reputasi yang dipercaya; mentalitas yang tangguh; dan kemampuan eksekusi yang konsisten.

Richard Hughes menjelaskan bahwa kapabilitas organisasi dapat menjadi “kapabilitas internal atau aset yang memberikan keunggulan kompetitif bagi organisasi.”

Dengan demikian, quwwah tidak harus dipahami sebagai satu benda tertentu.Ia adalah kemampuan untuk menghadapi tantangan secara efektif.

Pertama, kekuatan manusia

Jim Collins dalam Good to Great memberikan prinsip yang sangat terkenal: “Orang-orang yang tepat adalah aset Anda yang paling penting.”

Collins kemudian mengembangkan metafora the right people on the bus: organisasi harus memiliki “orang yang tepat di bus, orang yang salah keluar dari bus, dan orang yang tepat di kursi yang tepat.”

Ini adalah persoalan kepemimpinan yang sangat fundamental. Organisasi tidak menjadi kuat hanya karena memiliki banyak orang.

Organisasi menjadi kuat ketika orang yang tepat ditempatkan pada posisi yang tepat, dengan tanggung jawab yang jelas, kompetensi yang sesuai, dan budaya kerja yang sehat.

Kedua, kekuatan berpikir

Pemimpin juga membutuhkan strategic capability.

Richard Hughes menjelaskan pentingnya perpaduan antara “keterampilan berpikir strategis, bertindak strategis, dan mempengaruhi secara strategis.”

Pemimpin yang hanya mampu bekerja keras tetapi tidak mampu membaca situasi akan mudah tersesat.

Sebaliknya, pemimpin yang pandai berpikir tetapi tidak mampu memengaruhi manusia juga akan kesulitan mengubah gagasan menjadi kenyataan.

Ketiga, kekuatan disiplin

Organisasi yang kuat membutuhkan budaya disiplin.

Collins berbicara tentang “budaya disiplin” dan menjelaskan bahwa “ketika Anda memiliki orang-orang yang disiplin, Anda tidak memerlukan hierarki.”

Ini bukan berarti organisasi tanpa struktur. Justru sebaliknya. Struktur diperlukan untuk memberikan kejelasan. Namun disiplin membuat manusia mampu bekerja benar bahkan ketika tidak diawasi.

Keempat, kekuatan teknologi dan informasi

Teknologi juga dapat menjadi pengungkit.

Collins menyebut teknologi sebagai “akselerator teknologi” ketika teknologi tersebut digunakan secara tepat untuk mempercepat momentum organisasi. 

Tetapi teknologi bukan pengganti kepemimpinan. Data bukan pengganti kebijaksanaan. Media sosial bukan pengganti hubungan manusia. AI bukan pengganti tanggung jawab pemimpin.

Teknologi memperkuat kapabilitas yang sudah ada. Ia tidak menciptakan kapabilitas. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.