Ikhtiar Maksimal, Hati Tetap kepada Allah

by -1617 Views

Setelah membahas tawakal, persiapan, Badr, Uhud, hubungan antara doa dan data, serta hukum sebab-akibat dalam sunnatullah, kita sampai pada sebuah simpul penting.

Bab ini sebenarnya tidak sedang mengajarkan bagaimana memilih antara iman dan strategi, antara doa dan data, atau antara tawakal dan ikhtiar. Justru sebaliknya, seluruh pembahasan menunjukkan bahwa seorang pemimpin Muslim harus mampu mengintegrasikan semuanya menjadi satu arsitektur kepemimpinan.

Kemenangan tidak lahir dari satu faktor.

Ia lahir dari rangkaian sebab yang saling terhubung: iman memberikan arah, persiapan membangun kemampuan, kecerdasan membaca realitas, strategi menentukan fokus, eksekusi mengubah keputusan menjadi hasil, evaluasi memperbaiki kesalahan, dan tawakal menjaga hati agar tetap bergantung kepada Allah.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai The Lead to Win Principle.

FAITH → PREPARE → READ → CHOOSE → EXECUTE → EVALUATE → TRUST

Atau:

Beriman → Bersiap → Membaca → Memilih → Bertindak → Mengevaluasi → Bertawakal

Formula ini bukan sekadar urutan kerja manajemen. Ia adalah cara memadukan tauhid dengan profesionalisme, spiritualitas dengan strategi, dan ketundukan kepada Allah dengan tanggung jawab manusia.

Stephen R. Covey mengingatkan: “Prinsip itu seperti mercusuar. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa dilanggar.” Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki niat yang baik. Ia harus memahami hukum-hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupan, kemudian bekerja secara serius di dalamnya.

Iman adalah titik awal dan orientasi akhir

Segala sesuatu bermula dari iman.

Sebelum berbicara tentang strategi, organisasi, data, teknologi, sumber daya manusia, bahkan kemenangan politik, seorang pemimpin Muslim harus terlebih dahulu menjawab satu pertanyaan: Untuk siapa semua ini dilakukan?

Jika jawabannya tidak kembali kepada Allah, maka seluruh kecanggihan strategi dapat berubah menjadi sekadar teknik memperoleh kekuasaan.

Strategi tanpa iman dapat menjadi manipulasi. Kekuasaan tanpa iman dapat berubah menjadi kesombongan. Kemenangan tanpa iman dapat berubah menjadi fitnah bagi pemiliknya.

Iman memberikan arah moral terhadap seluruh aktivitas kepemimpinan. Ia menentukan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Ia membedakan antara kemenangan yang layak diperjuangkan dan kemenangan yang harus ditolak meskipun secara politik menguntungkan.

Covey menjelaskan pentingnya prinsip sebagai fondasi kehidupan: “Keimanan kita berasal dari mengetahui bahwa, tidak seperti pusat-pusat lain yang didasarkan pada orang atau hal-hal yang sering berubah… prinsip-prinsip yang benar tidak berubah.”
(Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People).

Inilah kekuatan iman. Manusia berubah. Situasi berubah. Opini publik berubah. Konstelasi politik berubah. Kekuatan ekonomi berubah. Teknologi berubah. Tetapi Allah dan prinsip kebenaran tidak berubah.

Iman bukan sekadar aktivitas ritual yang berada di luar strategi. Iman adalah kompas yang menentukan ke mana strategi harus diarahkan. Pemimpin yang memiliki iman memahami bahwa Allah adalah tujuan, sumber pertolongan, sekaligus tempat bergantung.

Dengan iman, kita bekerja keras tanpa merasa menjadi penentu mutlak hasil. Kita berjuang serius tanpa menjadikan kemenangan sebagai sesembahan baru.

Kapasitas harus dibangun sebelum medan dihadapi

Iman memberikan arah. Tetapi arah saja tidak cukup. Kita membutuhkan kemampuan untuk bergerak menuju arah tersebut.

Inilah fungsi persiapan.

Persiapan adalah bentuk nyata dari tanggung jawab kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak boleh memasuki medan kompetisi hanya dengan semangat dan harapan. Ia harus bertanya: Apakah manusia kita siap? Apakah organisasi kita siap? Apakah sistem kita siap?
Apakah sumber daya kita cukup? Apakah kemampuan eksekusi kita memadai?

Said Hawwa memberikan kerangka yang sangat penting tentang kesiapan gerakan: “Budaya, akhlak, perencanaan, organisasi, dan eksekusi.”

Lima unsur tersebut menunjukkan bahwa kekuatan organisasi tidak dibangun hanya melalui jumlah orang atau besarnya anggaran. Ia dibangun melalui kualitas manusia, kualitas karakter, kualitas perencanaan, kualitas organisasi, dan kualitas pelaksanaan.

Di sinilah konsep Production dan Production Capability menjadi penting. Covey mengingatkan: “Efektivitas terletak pada keseimbangan… Saldo P/PC (Production/Production Capability) adalah inti dari efektivitas.”

Organisasi yang hanya mengejar hasil hari ini tetapi tidak membangun kemampuan menghasilkan hasil di masa depan sedang mengonsumsi modalnya sendiri. Ia mungkin menang sekali. Tetapi belum tentu mampu menang kembali.

Maka pertanyaan pemimpin bukan hanya: “Berapa suara yang kita dapat?” tetapi juga: “Kapabilitas apa yang telah kita bangun untuk menghasilkan kemenangan-kemenangan berikutnya?”

Itulah perbedaan antara organisasi yang sekadar mengejar hasil dan organisasi yang membangun mesin kemenangan yang berkelanjutan.

Jangan membuat keputusan sebelum memahami realitas

Setelah memiliki iman dan persiapan, pemimpin harus mampu membaca medan. Disinilah intelligence menjadi penting.

Membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi. Membaca berarti memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa perubahan yang sedang berlangsung? Apa kebutuhan masyarakat? Bagaimana perilaku pemilih berubah? Apa yang sedang terjadi dalam lingkungan sosial? Apa kekuatan kita? Apa kelemahan kita? Apa peluang yang tersedia? Apa ancaman yang sedang berkembang? Apa yang kita lihat sekarang, dan apa yang mungkin terjadi beberapa langkah ke depan?

Peter Drucker mengingatkan: “Kecerdasan, imajinasi, dan pengetahuan adalah sumber daya yang esensial, tetapi hanya efektivitas yang mengubahnya menjadi hasil.”
(Peter F. Drucker, The Effective Executive).

Pengetahuan yang tidak digunakan tidak menghasilkan perubahan. Data yang tidak dianalisis hanya menjadi tumpukan angka. Informasi yang tidak menghasilkan keputusan hanyalah kebisingan. Intelligence dalam kepemimpinan berarti kemampuan untuk mengubah informasi menjadi pemahaman, kemudian mengubah pemahaman menjadi keputusan.

Pemimpin yang tidak membaca realitas akan memimpin berdasarkan asumsi. Dan pemimpin yang memimpin berdasarkan asumsi akan mudah jatuh ke dalam jebakan: “Menurut saya masyarakat membutuhkan ini.” Padahal masyarakat mungkin membutuhkan sesuatu yang berbeda.

Di sinilah pentingnya kerendahan hati intelektual. Pemimpin harus bersedia mengatakan: “Saya mungkin salah. Mari kita lihat faktanya.”

Sikap semacam ini bukan kelemahan. Justru itulah salah satu bentuk kekuatan kepemimpinan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.