Apa Itu Kepemimpinan?

by -1379 Views

Kepemimpinan (leadership) sering kali disamakan dengan jabatan. Seseorang yang menjadi direktur dianggap otomatis menjadi pemimpin. Seorang kepala bagian dianggap pasti mampu memimpin. Seorang pejabat yang memiliki kewenangan dianggap memiliki pengaruh. 

Padahal, jabatan dan kepemimpinan adalah dua hal yang berbeda.

Jabatan memberikan authority. Kepemimpinan membangun influence. Jabatan dapat diberikan melalui keputusan organisasi, tetapi kepemimpinan harus diperoleh melalui kepercayaan, kompetensi, karakter, dan kemampuan menggerakkan manusia.

Leadership: Pengaruh untuk Mencapai Tujuan Bersama

Harold Koontz, Cyril O’Donnell, dan Heinz Weihrich dalam Management merumuskan bahwa “kepemimpinan umumnya didefinisikan secara sederhana sebagai pengaruh, seni atau proses memengaruhi orang lain sehingga mereka akan berjuang dengan sukarela menuju pencapaian tujuan kelompok” (“leadership is generally defined simply as influence, the art or process of influencing people so that they will strive willingly toward the achievement of group goals”).

Kata penting dalam definisi tersebut adalah “secara sukarela”. Kepemimpinan bukan terutama tentang membuat orang patuh karena takut, melainkan membuat mereka bersedia bergerak karena memahami tujuan dan percaya kepada pemimpinnya.

John Adair dalam Bukan Bos Tetapi Pemimpin menyebut kepemimpinan sebagai “kemampuan orang itu dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama”. 

Sementara dalam The John Adair Handbook of Management and Leadership, Adair mengidentifikasi lima karakteristik kepemimpinan: “Leadership has five distinctive nuances not found in management. A leader must: 1 Give direction, 2 Provide inspiration, 3 Build teams, 4 Set an example, 5 Be accepted”—memberikan arah, memberikan inspirasi, membangun tim, menjadi teladan, dan diterima.

Dengan demikian, leadership bukan sekadar posisi dalam struktur. Ia merupakan proses, kemampuan, dan tanggung jawab untuk menggerakkan manusia menuju tujuan bersama.

Leader versus Manager

Dalam organisasi, leader dan manager memang saling berkaitan, tetapi tidak identik. John Adair dalam Bukan Bos Tetapi Pemimpin menegaskan:

“Kepemimpinan dan manajemen tidak sama. Dalam industri dan perdagangan keduanya seharusnya berjalan seiring. Kepemimpinan menyangkut pengarahan, pembangunan tim, dan pemberian inspirasi kepada yang lain melalui teladan dan kata-kata”.

Harold Koontz dalam Management juga menjelaskan, “Management and leadership are often thought of as the same thing. Although it is true that the most effective manager will almost certainly be an effective leader and that leading is an essential function of managers, there is more to managing than just leading”—manajemen mencakup lebih banyak hal daripada sekadar memimpin.

Seorang manager mengelola perencanaan, organisasi, staffing, sumber daya, dan pengendalian. Seorang leader memastikan manusia di dalam sistem tersebut memahami arah, memiliki motivasi, dan bersedia memberikan kontribusi terbaik.

Begitu pula supervisor tidak cukup hanya mengawasi pekerjaan. Ia harus mampu menjadi fasilitator dan penggerak tim. Sementara administrator memastikan sistem, prosedur, dan sumber daya berjalan secara tertib.

Adair merangkumnya secara menarik: “administrasi yang baik adalah ciri khas dari manajemen yang baik dan penggunaan sumber daya yang tepat dan efisien. Manajer menjadi pemimpin ketika kepribadian dan karakter mereka, pengetahuan dan keterampilan fungsional kepemimpinan mereka diakui dan diterima oleh orang lain yang terlibat”. Bahkan ia menambahkan, “manajer yang baik adalah selalu pemimpin, dan pemimpin yang baik adalah sekaligus manajer”.

Authority versus Influence

Perbedaan paling mudah antara bos dan pemimpin terlihat dari sumber kekuatannya. Authority berasal dari jabatan; influence tumbuh dari pengakuan orang lain.

John Adair menulis, “Pemimpin adalah teladan. Bos adalah kedudukan. Pemimpin dihormati, Bos ditakuti… Pemimpin menggunakan kekuasaan secara cerdas dan peka. Maka ia memiliki kewenangan tanpa menjadi sewenang-wenang”.

Adair juga mengutip Dag Hammarskjöld: “Posisi Anda tidak memberi Anda hak untuk memerintah. Posisi itu hanya mengenakan pada diri Anda kewajiban untuk meneladankan sikap yang sesuai dengannya sehingga orang lain bisa menerima perintah Anda tanpa merasa direndahkan”.

Dalam Develop Your Leadership Skills, Adair memetakan empat sumber otoritas: otoritas posisi dan pangkat (“Lakukan ini karena saya bos Anda!”), otoritas pengetahuan (“Otoritas mengalir kepada orang yang tahu”), otoritas kepribadian, dan otoritas moral.

Karena itu, ia mengingatkan: “Semua untaian otoritas utama—posisi, pengetahuan, dan kepribadian—adalah penting… Ini seperti tali dengan tiga untaian. Jangan pertaruhkan seluruh berat badan Anda hanya pada satu untaian saja”.

Jabatan Tidak Sama dengan Kepemimpinan

Seseorang dapat memperoleh jabatan dalam satu hari, tetapi membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk memperoleh kepemimpinan. Adair menegaskan:

“Anda bisa saja ditunjuk sebagai manajer, tetapi Anda bukan seorang pemimpin sampai kepribadian dan karakter Anda, pengetahuan dan kecakapan Anda dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan diakui dan diterima oleh semua orang lain yang bekerja bersama Anda. Inilah perbedaan yang sangat fundamental”.

Inilah perbedaan formal leadership dan informal leadership. Koontz menjelaskan bahwa “bisa ada pemimpin dari kelompok yang sama sekali tidak terorganisasi, tetapi hanya ada manajer ketika struktur organisasi menciptakan peran”.

Bahkan dalam organisasi formal selalu berkembang informal organization. Koontz menyebutnya sebagai “kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berkomunikasi secara teratur untuk tujuan bertukar informasi, untuk kesenangan, atau untuk pengembangan konsensus mengenai tindakan di masa depan”.

Di sinilah sering muncul pemimpin informal: seseorang yang tidak memiliki jabatan, tetapi memiliki pengaruh karena kompetensi, karakter, pengalaman, atau kepercayaan yang diberikan orang lain.

Leadership sebagai Proses, Kemampuan, dan Tanggung Jawab

Leadership pertama-tama adalah proses. Pengaruh harus dibangun dan dipelihara melalui interaksi yang terus-menerus. Kedua, ia merupakan kemampuan. Koontz mendefinisikannya sebagai “Leadership is the ability of a manager to influence subordinates (followers) to work with confidence and zeal”—kemampuan manajer memengaruhi bawahan atau pengikut agar bekerja dengan keyakinan dan semangat.

Ketiga, leadership adalah tanggung jawab. John Adair dalam Develop Your Leadership Skills mengatakan, “begitu Anda berada dalam peran kepemimpinan di tingkat tim, Anda memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan individu-individu di tim Anda, dan itu mencakup kemampuan mereka sebagai pemimpin”.

Dengan demikian, pemimpin bukan hanya bertanggung jawab terhadap hasil, tetapi juga terhadap manusia yang menghasilkan hasil tersebut.

Mengapa Organisasi Membutuhkan Pemimpin?

Organisasi membutuhkan pemimpin karena struktur, prosedur, dan rencana tidak akan bergerak dengan sendirinya. Manusia harus memahami, percaya, dan termotivasi untuk menjalankannya.

Koontz menyebut:

“Kepemimpinan adalah elemen pengaruh tambahan yang tak ternilai di dalam organisasi yang menjembatani kesenjangan antara rencana-rencana logis dan matang, struktur organisasi yang dirancang dengan cermat, program penyusunan staf yang baik, serta teknik pengendalian yang efisien, di satu sisi; dengan kebutuhan manusia untuk memahami, termotivasi, dan memberikan kontribusi terbaik dari segala kemampuan mereka untuk mencapai tujuan perusahaan dan departemen, di sisi lain”.

Koontz bahkan memperkirakan bahwa tanpa kepemimpinan yang efektif, bawahan mungkin hanya bekerja sekitar 60 atau 65 persen dari kapasitasnya. Selebihnya membutuhkan kemampuan pemimpin untuk membangkitkan komitmen dan semangat.

Lebih jauh, organisasi selalu berhadapan dengan perubahan. Adair menulis, “perubahan dan kepemimpinan sangat erat kaitannya. Perubahan menimbulkan kebutuhan akan pemimpin; pemimpin membawa perubahan… Kemajuan terjadi ketika pemimpin yang berani dan cakap menangkap peluang untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik”.

Maka, pertanyaan penting bagi seorang pemimpin bukanlah “Apa jabatan saya?”, melainkan “Mengapa orang bersedia mengikuti saya?” Jabatan mungkin membuat seseorang berada di depan struktur organisasi. Tetapi karakter, kompetensi, keteladanan, dan kemampuan memberikan arah yang membuat orang benar-benar bersedia berjalan bersamanya. (im)

Referensi

  • John Adair. The John Adair Handbook of Management and Leadership.
  • John Adair. Bukan Bos Tetapi Pemimpin.
  • John Adair. Develop Your Leadership Skills.
  • Harold Koontz, Cyril O’Donnell & Heinz Weihrich. Management.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.