Kepemimpinan sering dipahami sebagai kesempatan untuk memperoleh kekuasaan, pengaruh, fasilitas, atau status.
Padahal, dalam perspektif Islam, kepemimpinan justru merupakan amanah. Semakin besar kewenangan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Musthafa Masyhur dalam Al Qiyadah wal Jundiyah mengingatkan, “Apapun kedudukan, jabatan dan peringkatnya, seorang pemimpin tetap dibebani amanah dan berbagai tanggungjawab. Beban ini bukan suatu kemegahan dan kebanggaan”.
Karena itu, kepemimpinan tidak layak dijadikan objek perebutan ambisi pribadi. Masyhur menegaskan bahwa “kedudukan pemimpin dalam satu jama’ah tidak boleh dijadikan bahan rebutan dan pelampiasan ambisi seseorang”.
Kekuasaan adalah Ujian
Jabatan membawa kewenangan, tetapi sekaligus membawa pertanggungjawaban. Rasulullah SAW mengingatkan Abu Dzar:
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah dan sesungguhnya itu (jabatan) adalah amanah. Dan sesungguhnya ia pada hari kiamat menjadi kesengsaraan dan penyesalan, kecuali yang mengambilnya dengan haqnya dan menyempurnakan apa yang wajib ke atasnya dan di atas jabatan itu”.
Peringatan tersebut relevan bagi organisasi, bisnis, maupun politik. Jabatan bukan lisensi untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin tinggi tuntutan profesionalisme dan moralnya.
Karena itu, pilih kasih dalam penempatan jabatan merupakan persoalan serius. Masyhur mencantumkan hadits dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa mengangkat seorang laki-laki (untuk satu jabatan) berdasarkan sikap pilih kasih, padahal ada di kalangan mereka orang yang lebih diridhai Allah darinya, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman”.
Amanah kepemimpinan bahkan memiliki konsekuensi akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba (manusia) yang diberikan kekuasaan memimpin rakyat mati, sedangkan di hari matinya dia telah mengkhianati rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga kepadanya”.
Tanggung Jawab Semakin Besar
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Pemerintah adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya…”.
Musthafa Masyhur menjelaskan konsekuensinya: “semakin bertambah orang yang dipimpinnya, semakin bertambah pula beban yang dipikulnya, dan setiap bertambah keluasan medan dan gelanggang geraknya, semakin bertambah pula amanah yang berada di pundaknya”.
Dalam praktik organisasi, pemimpin bukan hanya pemberi instruksi. Ia harus “bertanggungjawab memberikan arahan kepada setiap anggota untuk menjalankan langkah-langkah gerakan… mengatur dan mengalokasikan kemampuan, potensi, waktu, usaha, aktivitas serta menyalurkannya untuk kepentingan” organisasi.
John Adair dalam Kepemimpinan Muhammad memberikan ilustrasi menarik melalui pemimpin kafilah. “Peran pemimpin kafilah sangat berat tanggung jawabnya”, sebab ketika perjalanan dimulai, “segala tanggung jawab atas kafilah berada pada bahu pemimpin kafilah”. Pemimpin, dengan demikian, harus siap berdiri paling depan ketika konsekuensi keputusan harus ditanggung.
Ikhlas sebagai Ruh Kepemimpinan
Kepemimpinan tanpa keikhlasan mudah berubah menjadi panggung ego. Musthafa Masyhur menegaskan:
“Ikhlash karena Allah semata, serta selalu benar dan jujur kepada-Nya adalah sesuatu yang paling penting dan merupakan keharusan bagi seorang pemimpin pada waktu memikul tanggungjawab dan amanah yang dibebankan kepada dirinya. Keikhlasan dan kejujuran ini adalah syarat untuk mendapatkan taufiq dan pertolongan Allah”.
Pemimpin yang ikhlas tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir. Bahkan “Allah akan menolong orang ikhlash dengan menghimpunkan orang-orang jujur dan ikhlash lainnya untuk berdiri bersamanya dengan penuh kejujuran dan keikhlashan”.
Sebaliknya, Masyhur mengingatkan: “Sebaliknya, jika pimpinan mencampur-adukkan antara keikhlasan dan riya’, suka menonjolkan diri atau mabuk kekuasaan dan semacamnya, maka ia berkemungkinan besar tidak akan dapat pertolongan Allah, selain tidak mendapat bantuan orang-orang yang jujur”. Karena itu, “pemimpin yang gila dunia, tidak mungkin dapat ikhlash karena Allah di dalam segala hal”.
Amanah, Adil, dan Berintegritas
Kepercayaan (trust) merupakan modal utama kepemimpinan. John Adair dalam Kepemimpinan Muhammad menjelaskan pentingnya integritas: “Mengapa kebenaran atau kejujuran dan keteguhan kepada prinsip penting bagi pemimpin? Alasannya sederhana. Pemimpin yang benar dan selalu menyampaikan kebenaran menciptakan kepercayaan. Kepercayaan sangat penting dalam segala hubungan antarmanusia, profesional maupun pribadi”.
Integritas juga berarti menolak korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Adair menegaskan bahwa dalam kepemimpinan Islam, “tidak ada tempat untuk segala bentuk penyuapan atau korupsi: Larangan itu tidak mudah dipatuhi, ‘manusia sangat bakhil karena cintanya kepada harta’ (QS. 100:8)”.
Amanah harus berjalan bersama keadilan. Masyhur menulis, “Adil dan jujur, meskipun terhadap diri sendiri. Dua sifat ini sangat penting dan perlu dimiliki para pemimpin jama’ah, terutama dalam kaitannya dengan ‘Amal Jama’i. Sebab, dua sifat ini menjadikan setiap anggota tenang dan sadar terhadap haknya”.
Sebaliknya, “jika pimpinan bertindak zhalim, curang dan tidak adil, maka kemantapan dan kemajuan gerakan tidak akan mewujud dalam suasana penuh kepercayaan dan ketenangan”. Karena itu, pemimpin juga “harus mengakui kekeliruan dan kesalahan apabila itu memang terjadi. Pemimpin tidak boleh berkeras kepala, tidak boleh pilih kasih sampai merugikan amanah”.
Keteladanan dan Kerendahan Hati
Kepemimpinan membutuhkan qudwah. Masyhur dalam Muslim Kaffah Teladan Ummat menyebut, “Qudwah, keteladanan di jalan ini adalah sangat asasi, khususnya qudwah ‘amaliyah, keteladanan praktis yang mencerminkan Islam yang benar, dengan seperangkat ajaran dan tuntutannya, tanpa kesalahan, penyelewengan dan pemilahan”.
Dalam sirah, “di dalam perilaku kehidupan Rasulullah SAW terdapat keteladanan ‘amaliyah yang indah tentang kejujuran, amanah, kecintaan, kesetiaan, mementingkan orang lain, kesukarelaan, jihad, pengorbanan…”.
John Adair menyebut role model sebagai “Seseorang yang dianggap orang lain sebagai contoh amat baik bagi peran tertentu”. Karena itu, “Dalam pemikiran Islam, pemimpin teladan haruslah luhur sekaligus bersahaja, memiliki visi dan inspirasi, dan melayani kaumnya”.
Kerendahan hati menjadi penjaganya. Adair mengingatkan, “Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan mutlak merusak sepenuhnya,” serta bahwa “kerusakan terbesar pada pemimpin adalah apabila dia percaya—dan mendorong orang lain percaya—bahwa dia lebih daripada manusia biasa…”.
Melayani untuk Kemaslahatan
Puncak kepemimpinan adalah pelayanan. John Adair dalam Kepemimpinan Muhammad mengutip prinsip Rasulullah SAW: “Dalam perjalanan, pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaumnya”.
Pemimpin sejati melayani kelompok sekaligus individu. Ia memastikan tugas tercapai, tim tetap bersatu, dan orang-orang yang dipimpinnya berkembang. Inilah esensi Servant Leadership.
Orientasi akhirnya adalah kemaslahatan, bukan kursi. Musthafa Masyhur menegaskan, “Jika terdapat seorang yang lebih mampu dan baik, seorang pemimpin dapat saja menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Ini bukan hal tercela dan tidak mengurangi nilai kepemimpinannya… Kepentingan ‘Amal Islamilah yang harus didahulukan dari segala-galanya”.
Kisah Khalid bin Walid yang tetap berjuang setelah dicopot dari posisi panglima menunjukkan bahwa kontribusi tidak boleh bergantung pada jabatan. Muhammad Ahmad Ar-Rasyid dalam Al-Munthalaq mengingatkan pentingnya kesamaan visi dalam membangun kemaslahatan.
Inilah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya: bukan seberapa tinggi seseorang berada di dalam struktur, tetapi seberapa besar amanah yang ia tunaikan, manusia yang ia kembangkan, dan kemaslahatan yang ia tinggalkan sebagai legacy. (im)
Referensi
- Musthafa Masyhur. Al Qiyadah wal Jundiyah.
- Hasan al-Banna. Majmu’ah Rasail.
- John Adair. Kepemimpinan Muhammad.
- Musthafa Masyhur. Muslim Kaffah Teladan Ummat.
- Muhammad Ahmad Ar-Rasyid. Al-Munthalaq.





