Langkah 1: Mengenali Orang yang Dipimpin

by -1430 Views

Kepemimpinan pada akhirnya bukanlah tentang mengelola struktur, melainkan tentang menggerakkan manusia. Karena itu, setelah memahami fondasi kepemimpinan dan membangun kualitas diri, langkah pertama ketika memasuki wilayah leading people adalah mengenali siapa orang-orang yang kita pimpin.

Gary Dessler dalam Human Resource Management mengingatkan bahwa “mesin tidak memiliki ide baru, tidak dapat memecahkan masalah, atau menangkap peluang; hanya manusia yang terlibat dalam pemikiran yang dapat membuat perbedaan.” 

Disinilah seorang pemimpin perlu memahami bahwa setiap anggota tim membawa karakter, pengalaman, kemampuan, kebutuhan, motivasi, dan potensi yang berbeda.

Laurie J. Mullins dalam Management & Organisational Behaviour bahkan menyatakan bahwa “manajer yang sukses dibedakan oleh pengakuan mereka terhadap perbedaan individu dan kemampuan mereka untuk memunculkan potensi terbaik dari orang-orang yang bekerja dengan dan melapor kepada mereka.” 

Prinsipnya sederhana: different people require different approaches.

Memahami Individu dan Kepribadiannya

Kita semua unik. Mullins mengatakan, “kita semua unik; hanya ada satu Laurie Mullins dan hanya ada satu dari Anda.” 

Bahkan dalam situasi yang sama, setiap orang dapat memberikan respons berbeda karena “setiap individu membebankan interpretasi, penilaian, dan evaluasi mereka sendiri pada objek, lingkungan, atau orang tersebut.”

Dalam organisasi, perbedaan ini disebut individual differences. Jerald Greenberg dalam Behavior in Organizations mendefinisikannya sebagai “berbagai cara di mana individu berbeda satu sama lain.” 

Perbedaan tersebut meliputi kepribadian, kecerdasan, pengalaman, motivasi, sikap, persepsi, hingga latar sosial dan budaya.

Pemimpin tidak boleh memperlakukan anggota sebagai kelompok yang homogen. Greenberg menjelaskan kepribadian sebagai “pola perilaku, pikiran, dan emosi yang unik dan relatif stabil yang ditunjukkan oleh individu.” 

Namun, perilaku seseorang juga dipengaruhi situasi. Inilah perspektif interactionist: “bagaimana kita berperilaku didasarkan pada siapa kita (pengaruh individu) dan konteks di mana kita beroperasi (pengaruh situasi).”

Kompetensi: Menempatkan Orang pada Peran yang Tepat

Mengenali orang tidak cukup hanya dengan mengetahui sifatnya. Pemimpin juga harus memahami kemampuan dan keterampilannya. 

Greenberg membedakan keduanya: “kemampuan (abilities) adalah kapasitas mental dan fisik untuk melakukan berbagai tugas, sedangkan keterampilan (skills) adalah profisiensi dalam melakukan tugas tertentu yang diperoleh melalui pelatihan atau pengalaman.”

Disinilah pentingnya person-job fit, yaitu “sejauh mana sifat dan kemampuan individu cocok dengan persyaratan pekerjaan yang harus mereka lakukan.” Kesalahan menempatkan seseorang dapat membuat organisasi kehilangan produktivitas. 

Mullins menggambarkan dua ekstrem: karyawan yang terlalu mudah pekerjaannya sehingga bosan dan ceroboh, atau karyawan yang “telah dipromosikan melampaui kemampuan mereka.”

Pemimpin juga perlu melihat practical intelligence, yakni “kemampuan untuk merancang cara-cara efektif dalam menyelesaikan sesuatu”, serta kecerdasan emosional (EI/EQ). 

Daniel Goleman mendefinisikannya sebagai “kapasitas untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, untuk memotivasi diri kita sendiri, dan untuk mengelola emosi dengan baik dalam diri kita sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.”

Memahami Kebutuhan dan Motivasi

Orang bekerja bukan hanya karena instruksi. Mullins menjelaskan bahwa motivasi pada dasarnya berkaitan dengan pertanyaan: “Mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan?” 

Greenberg menyebut motivasi sebagai “serangkaian proses yang membangkitkan (arouse), mengarahkan (direct), dan memelihara (maintain) perilaku manusia menuju pencapaian suatu tujuan.”

Pemimpin harus memahami kebutuhan yang berbeda. Maslow membaginya menjadi kebutuhan “fisiologis, keamanan, sosial (afiliasi, penerimaan, persahabatan, cinta), harga diri (self-esteem, pencapaian, status, pengakuan), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, perkembangan pribadi).”

John Adair kemudian menawarkan Aturan 50:50: “Lima puluh persen motivasi datang dari dalam diri seseorang; dan 50% dari lingkungannya, terutama dari kepemimpinan yang ditemui di sana.” 

Artinya, pemimpin memang tidak dapat mengendalikan seluruh motivasi seseorang, tetapi ia sangat menentukan lingkungan yang dapat menumbuhkan motivasi tersebut.

Mengenali Kekuatan, Kelemahan, dan Potensi

Pemimpin yang baik tidak hanya bertanya, “Apa kelemahan anggota saya?” Ia juga bertanya, “Apa kekuatan yang dapat dikembangkan?” 

Mullins mendorong pemimpin untuk “mengenali potensi pada seluruh staf” serta “mengidentifikasi kekuatan individu serta menunjukkan bagaimana kekuatan tersebut dapat dimanfaatkan dan kelemahan diatasi.”

Dessler bahkan mencatat bahwa “sekitar tiga kali lebih banyak karyawan yang terlibat (engaged) ketika manajer mereka fokus pada kekuatan anggota, dibandingkan dengan mereka yang manajernya fokus pada kelemahan.”

Inilah pendekatan kepemimpinan yang sehat: bukan memaksa semua orang menjadi sama, tetapi menemukan kontribusi terbaik masing-masing.

Individual Approach: Memimpin Manusia sebagai Individu

Pada akhirnya, seluruh proses mengenali manusia bermuara pada individual approach. John Adair dalam The John Adair Handbook of Management and Leadership memberikan prinsip yang sangat praktis:

“Perlakukan setiap orang sebagai individu. Temukan apa yang memotivasi seorang individu, jangan mengandalkan teori-teori umum atau asumsi. Jalinlah dialog dengan setiap anggota tim—bantu mereka memperjelas apa yang memotivasi mereka—dan gunakan apa yang Anda temukan untuk keuntungan bersama.”

Marcus Buckingham, sebagaimana dikutip Mullins, membedakan manajer biasa dan manajer luar biasa: “seorang manajer rata-rata melihat karyawan sebagai pekerja yang mengisi peran; seorang manajer luar biasa melihat mereka sebagai individu tempat peran dibangun di sekitarnya.”

Bagi saya, ini adalah salah satu prinsip paling penting dalam kepemimpinan. Pemimpin tidak sekadar menempatkan orang pada pekerjaan; pemimpin menemukan pekerjaan yang memungkinkan orang memberikan kemampuan terbaiknya.

Karena itu, langkah pertama dalam leading people bukanlah memberi instruksi. Kenalilah manusia yang Anda pimpin. Ketahui karakternya, pahami motivasinya, ukur kompetensinya, temukan kekuatannya, dampingi kelemahannya, dan kembangkan potensinya. 

Ketika seorang pemimpin mampu melakukan itu, organisasi tidak lagi sekadar memiliki sekumpulan orang yang bekerja bersama, tetapi memiliki tim yang memahami kontribusi masing-masing dan bergerak menuju tujuan yang sama. (im)

Referensi

  • John Adair. The John Adair Handbook of Management and Leadership.
  • John Adair. Bukan Bos Tetapi Pemimpin.
  • Jerald Greenberg. Behavior in Organizations.
  • Laurie J. Mullins. Management & Organisational Behaviour.
  • Gary Dessler. Human Resource Management.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.