Kepemimpinan tidak cukup dibangun dengan jabatan. Seorang pemimpin mungkin memiliki kewenangan untuk memberi instruksi, tetapi tanpa trust, instruksi tersebut hanya menghasilkan kepatuhan mekanis.
omitmen, loyalitas, dan kesediaan untuk berkorban tumbuh ketika anggota percaya kepada pemimpinnya.
Jerald Greenberg dalam Behavior in Organizations mendefinisikan kepercayaan sebagai “sejauh mana seseorang -pihak yang memercayai (trustor) bersedia membuat dirinya rentan terhadap orang lain -pihak yang dipercayai (trustee) berdasarkan ekspektasi positif tentang kata-kata dan tindakan pihak tersebut”.
Artinya, ketika seseorang percaya kepada pemimpin, ia bersedia mengambil risiko karena yakin bahwa pemimpinnya akan bertindak secara benar dan dapat diandalkan.
John Adair dalam Bukan Bos Tetapi Pemimpin merumuskan hukum sederhana tetapi mendalam: “Siapa memberi kepercayaan, memperoleh kepercayaan. Apa pun yang Anda berikan, Anda akan menerimanya kembali beserta bunganya”.
Pemimpin tidak boleh menunggu bawahannya percaya terlebih dahulu. Ia harus memulai dengan memberikan kepercayaan.
Musthafa Masyhur dalam Al Qiyadah wal Jundiyah bahkan menegaskan bahwa “Suasana saling mempercayai dan berbaik sangka antara pimpinan dan anggota merupakan persoalan asasi untuk memastikan kebaikan gerakan di dalam jama’ah. Suasana ini akan melahirkan iklim kerja sama yang baik dalam melaksanakan seluruh tuntutan dakwah dan gerakan”. Sebaliknya, “jika muncul buruk sangka dan ketidakpercayaan antara pimpinan dan anggotanya, ia akan melumpuhkan” organisasi.
Kredibilitas: Integritas, Kompetensi, dan Kepedulian
Kepercayaan tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui trustworthiness, terutama tiga unsur: ability, benevolence, dan integrity.
Pertama, ability atau kompetensi. Greenberg menjelaskan bahwa “para bawahan hampir tidak mungkin dapat menaruh kepercayaan kepada pemimpin yang mereka nilai tidak mampu menjalankan jabatannya dengan baik dan tidak efektif dalam membantu mereka menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri”. Pemimpin harus menguasai bidang yang dipimpinnya dan mampu membantu anggota mencapai tujuan.
Kedua, benevolence, yaitu kepedulian terhadap manusia yang dipimpin. John Adair mengingatkan bahwa “perhatian adalah hal yang paling penting dalam relasi manusia—memperhatikan dan memercayai”.
Pemimpin tidak boleh melihat anggota hanya sebagai sumber daya organisasi. Mereka adalah manusia dengan keluarga, kebutuhan, masalah, harapan, dan harga diri.
Ketiga, integrity. Adair menyatakan, “Integritas secara harfiah berarti keseluruhan pribadi. Kata itu juga mengungkapkan rasa kesetiaan terhadap standar-standar atau nilai-nilai di luar diri Anda—terutama kebenaran. Kepercayaan dan kebenaran adalah bagai saudara sepupu”. Integritas membuat pemimpin dipercaya bahkan ketika tidak diawasi.
Konsistensi, Shidiq, dan Menepati Janji
Kepercayaan membutuhkan konsistensi. Adair menulis bahwa pemimpin harus konsisten, “karena orang tidak akan betah bila mereka tidak tahu bagaimana kedudukan mereka terhadap kedudukan Anda”. Pemimpin tidak boleh hari ini mengatakan A, tetapi besok melakukan B.
Dalam perspektif Islam, prinsip ini dekat dengan shidiq. Musthafa Masyhur menegaskan: “Shidiq, benar dalam berkata, sikap dan perbuatan, adalah sifat asasi yang harus dimiliki setiap Muslim. Sifat ini harus dijaga, terutama bagi pimpinan.
Sifat shidiq di kalangan jama’ah akan melahirkan ketenteraman kepada pimpinan dan menebalkan kepercayaan orang banyak kepadanya. Sebaliknya sifat tidak jujur dan pendusta, meski hanya sedikit, akan menimbulkan keraguan, merongrong kepercayaan, bahkan dapat menghilangkan kepercayaan kepada pimpinan”.
Kejujuran juga harus diwujudkan dalam menepati janji. Masyhur mengingatkan: “Menepati janji dan sumpah setia… Akhlaq ini dapat melahirkan kepercayaan dalam gerakan, tolong-menolong, kemantapan dan membuahkan hasil yang hendak dicapai”.
Bahkan, “menepati janji adalah sifat Mu’min dan ingkar janji adalah ciri Munafiq”. Dalam konteks profesional, pemimpin harus memenuhi deadlines dan komitmen yang telah dibuat.
Keteladanan, Transparansi, dan Psychological Safety
Pemimpin membangun kepercayaan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui leadership by example.
Adair menyatakan bahwa “sebagian dari sikap kepemimpinan-melalui-teladan, anehnya, justru diperoleh dengan cara menjadi teman sejawat dan bawahan yang baik”.
Masyhur menambahkan bahwa pemimpin “harus menjadi teladan dalam sifat pemurah dan mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri”. Ketika pemimpin bersedia menanggung beban yang sama dengan anggota, jarak struktural berubah menjadi kedekatan emosional.
Transparansi juga penting. Pemimpin perlu “memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengekspresikan diri mereka”. Dari sinilah tumbuh psychological safety: anggota merasa aman menyampaikan gagasan, keraguan, bahkan kesalahan tanpa takut dipermalukan.
Dalam konteks ini, Masyhur mengingatkan, “Penyelesaian perbedaan pendapat harus menempuh jalan yang telah ditetapkan sesuai dengan sistem yang telah disepakati dengan syarat tidak menggoncang ketenteraman jiwa”.
Karena itu, teguran pun harus menjaga martabat: “Jauhkan menegur petugas di hadapan anggota yang dipimpinnya. Ini dilakukan untuk menjaga kedudukan dan wibawanya di kalangan mereka”.
Memulihkan Kepercayaan yang Hilang
Kepercayaan yang rusak tidak boleh diselesaikan dengan diam atau self-justification. Pemimpin harus berani mengakui kesalahan.
Masyhur menegaskan: “Pimpinan harus benar-benar berusaha menegakkan keadilan dan kejujuran sekalipun terhadap dirinya sendiri. Dia harus mengakui kekeliruan dan kesalahan apabila itu memang terjadi. Pemimpin tidak boleh berkeras kepala, tidak boleh pilih kasih sampai merugikan amanah”.
Setelah itu, masalah harus dibicarakan secara terbuka. Greenberg mengingatkan: “Konflik dan kesalahpahaman tidak akan hilang hanya dengan berpura-pura bahwa hal itu tidak ada; tindakan mendiamkan justru akan memperburuk situasi. Hindari godaan untuk tidak berbicara dengan pihak lain, melainkan diskusikan kesalahpahaman Anda secara menyeluruh dan mendalam”.
Inilah Step 2: Membangun Kepercayaan. Pemimpin yang mampu dipercaya bukanlah pemimpin yang tidak pernah salah, melainkan pemimpin yang kompeten, peduli, konsisten, jujur, transparan, memberi teladan, dan berani memperbaiki kesalahan.
Pada akhirnya, trust bukan sekadar perasaan positif kepada pemimpin. Ia adalah modal organisasi yang menentukan apakah manusia di dalamnya hanya bekerja karena perintah atau bergerak karena keyakinan. (im)
Referensi
Bukan Bos Tetapi Pemimpin — John Adair
Develop Your Leadership Skills — John Adair
Behavior in Organizations — Jerald Greenberg
Al Qiyadah wal Jundiyah — Musthafa Masyhur






