Langkah 3: Mengkomunikasikan Arah

by -1432 Views

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah kemampuan menggerakkan manusia menuju tujuan bersama. Karena itu, komunikasi bukan sekadar aktivitas menyampaikan informasi, tetapi instrumen utama untuk memastikan setiap orang memahami ke mana organisasi bergerak dan mengapa mereka harus bergerak ke sana. 

John Adair dalam The Effective Supervisor menegaskan bahwa “komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan”. Bahkan, “keberhasilan penyelia bergantung, terutama sekali, pada kemampuan mereka untuk mengomunikasikan kepada semua orang yang menjadi tanggung jawab mereka terlebih dahulu apa yang perlu mereka lakukan dan kedua pentingnya melakukan hal tersebut”.

Leadership Communication: Menjelaskan Visi

Pemimpin strategis harus mampu memberikan arah bagi organisasi sebagai satu kesatuan (providing direction for the organization as a whole). 

Menurut John Adair dalam Effective Strategic Leadership, arah tersebut bermuara pada tujuan atau visi (purpose/vision) yang kemudian diterjemahkan menjadi sasaran jangka panjang dan tujuan jangka menengah sehingga menjadi “kenyataan hidup yang ‘dimiliki’ di setiap level organisasi”.

Visi yang hanya dipahami oleh pemimpin bukanlah visi organisasi. Karena itu, Laurie J. Mullins dalam Management & Organisational Behaviour menyebut kepemimpinan visioner membutuhkan “imajinasi, pelibatan, hasil nyata, dan refleksi diri yang mendalam”. 

Ketika menyampaikan visi, pemimpin setidaknya harus melakukan tiga hal: “Jelaskan bagaimana visi tersebut dapat dicapai (explain how the vision can be attained)”; “Bertindak percaya diri dan optimis (act confident and optimistic)”; serta “Ekspresikan kepercayaan kepada pengikut (express confidence in followers)”.

Komunikasi visi juga membangun trust. Adair menjelaskan, “Sebab semakin baik komunikatornya, semakin besar kepercayaannya; semakin banyak kepercayaan, semakin banyak pula yang dapat dikomunikasikan”. 

Dengan demikian, pemimpin tidak cukup memiliki gagasan bagus. Ia harus mampu menjual gagasan tersebut secara rasional, jelas, dan meyakinkan.

Seni Berbicara dan Mendengar

Komunikasi kepemimpinan bukan monolog. Adair mengingatkan: “Anda harus mengomunikasikan kepada bawahan Anda terlebih dahulu apa yang perlu mereka lakukan dan kedua pentingnya melakukan hal tersebut. Anda juga harus mendorong komunikasi ke arah yang sebaliknya, sehingga Anda dapat memanfaatkan ide, pandangan, dan pengalaman dari orang-orang yang sebenarnya sedang melaksanakan pekerjaan tersebut”.

Dalam praktiknya terdapat dua fungsi: briefing, yaitu “kemampuan untuk berkomunikasi, untuk menyampaikan tugas dan rencana kepada orang-orang (the ability to communicate, to get across to people the task and the plan)”, dan informing, yakni “membawa informasi ke kelompok dan dari kelompok—fungsi penghubung dari kepemimpinan (bringing information to the group and from the group – the linking function of leadership)”.

Adair menyebut tiga metode komunikasi: “melalui komunikasi tatap muka, melalui diskusi dengan perwakilan staf, dan melalui ‘metode massal’ seperti jurnal internal atau papan pengumuman”. 

Komunikasi tatap muka memiliki kekuatan khusus karena “dapat menghemat banyak waktu manajemen, memastikan pemahaman bersama, dan merupakan metode paling kuat untuk ‘menjual’ ide dan membangun komitmen kelompok”.

Sebaliknya, pemimpin harus mewaspadai grapevine. Adair menyebutnya sebagai “metode komunikasi terburuk yang dapat Anda gunakan adalah desas-desus (grapevine)”. Kekosongan informasi resmi hampir selalu akan diisi rumor.

Memberikan Instruksi dan Feedback

Instruksi harus jelas, sistematis, dan disertai alasan. Adair menegaskan perbedaan antara “kepatuhan muram (sullen obedience)” dan “kerja sama konstruktif (constructive cooperation)”. 

Bahkan ia mengingatkan, “Jika yang bisa Anda dapatkan hanyalah kepatuhan, maka Anda tidak melakukan pekerjaan Anda dengan benar”.

Mullins membedakan tiga pendekatan: Tells, ketika manajer membuat keputusan dan mengumumkannya; Sells, ketika manajer membuat keputusan lalu membujuk bawahan menerimanya; dan Consults, ketika manajer mendengarkan saran kelompok sebelum mengambil keputusan.

Komunikasi yang baik juga memerlukan feedback. Adair menyarankan walking the job: “Sederhananya berjalan keliling tempat kerja, mengobrol dengan karyawan tentang pekerjaan mereka, cuaca, atau hal lainnya, dan yang terpenting mendengarkan apa yang mereka katakan”. 

Jika anggota tidak memahami mengapa mereka melakukan suatu pekerjaan, “itu berarti sistem komunikasi Anda telah rusak”.

Active Listening: Seni Mendengar

Pemimpin yang pandai berbicara tetapi buruk mendengar akan kehilangan banyak informasi penting. T. Soemarman dalam Conflict Management & Capacity menyatakan: “Mendengar dengan aktif (active listening) merupakan unsur terpenting di antara keterampilan komunikasi yang lain-lain”.

Active listening membutuhkan tiga sikap: “Perhatian pendengar terarah kepada pembicara”; “Terjadi penerimaan mendalam (inward receptiveness)”; serta “Empathy dan keterbukaan”. 

Praktiknya mencakup summarising/paraphrasing, asking question, dan generalising. Pertanyaan pun harus disampaikan secara sensitif karena “tak boleh ceroboh”.

Komunikasi dalam Konflik dan Krisis

Dalam krisis, pemimpin justru harus meningkatkan komunikasi. Stephen Martin mengingatkan: “Jika Anda tidak meneruskan informasi yang cukup, bahkan jika itu adalah kabar buruk, mereka akan mengisi kekosongan tersebut dengan hal lain, yang kemungkinan lebih buruk daripada kebenaran”.

Dalam konflik, Soemarman menawarkan tahapan “Afirmasi – Komunikasi – Kooperatif”, dengan prinsip “Listening – empathy”, “Assertiveness”, dan “Separating people from problem”. 

Pemimpin harus menghindari blaming, name-calling, interrupting, accusing, getting angry, trying to make someone guilty, prejudices/biases, dan giving unsolicited advice. Sebaliknya, gunakan “I-messages” serta nyatakan intensi secara eksplisit.

Pada akhirnya, komunikasi kepemimpinan bukan hanya soal berbicara dengan jelas. Ia adalah seni menyatukan pemahaman, membangun kepercayaan, mendengarkan suara anggota, memberikan arahan, dan menjaga hubungan ketika terjadi perbedaan. 

Pemimpin yang mampu mengkomunikasikan arah dengan baik akan mengubah visi dari sekadar gagasan menjadi gerakan bersama. (im)

Referensi

Effective Strategic Leadership — John Adair

The Effective Supervisor  — John Adair

Management & Organisational Behaviour  — Laurie J. Mullins

Conflict Management & Capacity Building for Professional Development  — T. Soemarman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.