Strategic Cascading: Membuat Strategi Bekerja di Seluruh Organisasi

by -1450 Views

Strategi tidak akan menghasilkan perubahan apabila hanya dipahami oleh pimpinan pusat. Arahan strategis harus diterjemahkan ke dalam sasaran, program, dan tindakan pada seluruh jenjang organisasi. 

Proses inilah yang disebut strategic cascading, yaitu penyelarasan strategi secara berjenjang dari tingkat pusat hingga unit paling dekat dengan masyarakat.

Strategic cascading memastikan setiap struktur memahami tiga hal penting: arah yang hendak dicapai organisasi, kontribusi yang harus diberikan, dan ukuran keberhasilan yang menjadi tanggung jawabnya.

Dari Strategi Pusat Menjadi Tindakan Lokal

Strategi tingkat pusat umumnya bersifat makro dan konseptual. Pernyataan seperti memperkuat kaderisasi, meningkatkan pelayanan masyarakat, memperluas jangkauan organisasi, atau membangun tata kelola yang akuntabel belum secara otomatis menjelaskan pekerjaan konkret di tingkat wilayah, cabang, dan ranting.

Richard Rumelt dalam Good Strategy Bad Strategy menjelaskan bahwa sasaran tingkat tinggi perlu diterjemahkan menjadi tujuan yang lebih dekat dan operasional bagi unit-unit di bawahnya. 

Kaplan dan Norton menambahkan bahwa peta strategi dan Balanced Scorecard dapat menjadi kerangka bersama untuk menghubungkan berbagai unit dalam satu arah strategis.

Tanpa proses penerjemahan, setiap unit berisiko hanya mengoptimalkan pekerjaan rutinnya sendiri. Organisasi menjadi sibuk, tetapi tidak selalu bergerak menuju sasaran bersama. 

Inilah yang disebut sub-optimization, yaitu keberhasilan satu bagian yang justru tidak memberikan kontribusi optimal bagi keseluruhan sistem.

Peran Setiap Jenjang Organisasi

Dalam organisasi berstruktur berjenjang, strategic cascading dapat berlangsung melalui beberapa tingkatan.

Pertama, tingkat pusat menetapkan visi, arah strategis, prioritas utama, prinsip kebijakan, dan sasaran jangka panjang.

Kedua, tingkat wilayah atau DPD menerjemahkan arahan pusat ke dalam prioritas yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, kelembagaan, dan karakteristik wilayah. DPD berfungsi sebagai penerjemah strategis sekaligus pengintegrasi program.

Ketiga, tingkat cabang atau DPC mengubah prioritas wilayah menjadi sasaran taktis. DPC mengkoordinasikan sumber daya, menyelaraskan program antar ranting, dan memberikan dukungan manajerial.

Keempat, tingkat ranting atau DPRa menerjemahkan sasaran taktis menjadi tindakan operasional yang dekat dengan masyarakat. Ranting menjalankan pelayanan, membangun relasi sosial, mengelola kegiatan komunitas, serta menyampaikan umpan balik mengenai kondisi lapangan.

Dengan pembagian tersebut, pusat menentukan arah, wilayah menyesuaikan konteks, cabang mengonsolidasikan pelaksanaan, dan ranting mewujudkan tindakan nyata.

Arahan dari Atas dan Umpan Balik dari Bawah

Strategic cascading bukanlah proses komando satu arah. Arahan strategis memang mengalir dari atas ke bawah, tetapi informasi, inovasi, evaluasi, dan pembelajaran harus bergerak kembali dari bawah ke atas.

Kaplan dan Norton menegaskan bahwa visi, strategi, dan alokasi sumber daya mengalir dari pimpinan, sementara implementasi, inovasi, umpan balik, dan pembelajaran berasal dari garda depan.

Karena itu, pimpinan pusat perlu menetapkan arah dan koridor kebijakan, tetapi tidak harus mendikte seluruh cara kerja teknis. Unit lokal harus diberi ruang untuk memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka selama tetap sejalan dengan tujuan organisasi.

Prinsip ini juga sejalan dengan musyawarah. Keputusan yang baik membutuhkan informasi dari struktur bawah dan masyarakat agar kebijakan tidak terputus dari realitas.

Menghindari Penyalinan Target secara Mekanis

Kesalahan umum dalam cascading adalah membagi target secara matematis. Jika pusat menetapkan target pertumbuhan 20 persen, seluruh wilayah, cabang, dan ranting langsung dibebani angka yang sama tanpa mempertimbangkan kondisi awal, kapasitas, dan tantangan masing-masing.

Cascading yang benar tidak berarti setiap unit memiliki angka identik. Hal yang harus sama adalah arah strategisnya, bukan seluruh target dan aktivitasnya.

Setiap unit perlu menentukan local performance drivers, yaitu faktor lokal yang dapat dipengaruhi dan berkontribusi terhadap sasaran tingkat atas. Satu ranting mungkin memprioritaskan pelayanan masyarakat, sementara ranting lain memperkuat kaderisasi atau administrasi. Perbedaan fokus tersebut tetap dapat mendukung strategi organisasi yang sama.

Alur Strategic Cascading

Alur cascading dapat dirumuskan sebagai berikut: Strategic Direction Pusat → Prioritas Strategis Wilayah → Sasaran Cabang → Rencana Aksi Ranting → Aktivitas Operasional → Output → Outcome

Pada setiap tahap, organisasi perlu menjawab:

  1. Apa arah strategis yang hendak dicapai?
  2. Apa kontribusi unit ini?
  3. Program apa yang harus dijalankan?
  4. Dukungan apa yang dibutuhkan?
  5. Bagaimana kontribusi tersebut diukur?

Penutup

Strategic cascading membuat strategi bekerja di seluruh organisasi, bukan hanya di tingkat pimpinan. Proses ini menghubungkan visi besar dengan prioritas wilayah, program cabang, dan tindakan di tingkat ranting.

Cascading bukan sekadar pembagian instruksi, melainkan proses penerjemahan, penyelarasan, koordinasi, dialog, dan pembelajaran berkelanjutan.

Organisasi yang berhasil melakukan cascading adalah organisasi yang mampu membuat setiap unit memahami: “Kemana organisasi bergerak, apa kontribusi saya, tindakan apa yang harus dilakukan, dan bagaimana keberhasilan saya mendukung pencapaian bersama?”

Ketika hubungan tersebut jelas, strategi berubah dari dokumen pusat menjadi sistem kerja bersama yang hidup di seluruh organisasi. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.