Idealis Tidak Berarti Kaku atau Jumud

by -1322 Views

Salah satu kesalahpahaman dalam politik dan pergerakan adalah menganggap setiap perubahan sikap sebagai pengkhianatan terhadap idealisme. Ketika sebuah organisasi mengubah strategi, menyesuaikan kebijakan, atau membangun kerja sama dengan pihak yang sebelumnya berbeda posisi, segera muncul tuduhan: tidak konsisten, plin-plan, atau menggadaikan prinsip.

Masalahnya, tuduhan semacam itu sering muncul karena kita gagal membedakan prinsip dengan posisi, tujuan dengan cara, nilai dengan kebijakan, konsistensi dengan kekakuan, serta istiqamah dengan mempertahankan keputusan lama.

Idealisme yang sehat bukanlah kekakuan. Idealisme adalah kesetiaan kepada nilai dan tujuan yang diyakini benar, sementara cara untuk mewujudkannya dapat disesuaikan dengan perubahan keadaan. Sederhananya: kokoh pada prinsip, tetapi luwes dalam cara.

Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa siyasah syar’iyyah memberi ruang bagi kreativitas dan inovasi dalam sarana, metode, dan mekanisme yang bersifat berubah, selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai yang bersifat tetap: “Siyasah syar’iyyah memberi ruang bagi kreasi dan inovasi dalam sarana, metode, dan mekanisme yang berubah, dalam koridor nilai-nilai agung yang tetap.”

Sejalan dengan itu, Jennifer Lees-Marshment menegaskan bahwa strategi bukan seperangkat aturan yang dibuat pada awal kampanye lalu tidak boleh diubah. Strategi merupakan proses berpikir yang membutuhkan fleksibilitas agar organisasi mampu merespons perubahan dan peluang.

Prinsip Tidak Sama dengan Posisi

Prinsip merupakan nilai moral dan batas etis yang menjadi kompas perjuangan. Posisi adalah sikap konkret terhadap persoalan tertentu pada waktu tertentu. Karena itu, posisi dapat berubah ketika informasi, kondisi, atau konfigurasi politik berubah, sementara prinsip tetap dijaga.

Dalam teori negosiasi, Hatum dan Marchiori menjelaskan pentingnya membedakan posisi dengan kepentingan yang berada dibaliknya. Posisi adalah tuntutan konkret, sedangkan kepentingan merupakan kebutuhan, aspirasi, atau tujuan mendasar.

Perubahan posisi tidak otomatis berarti perubahan prinsip. Idealis yang taktis adalah keras pada prinsip, tetapi luwes pada posisi.

Tujuan Tetap, Cara Dapat Berubah

Tujuan berkaitan dengan apa yang hendak diwujudkan: keadilan, kemaslahatan, perlindungan masyarakat, dan nilai-nilai luhur. Cara mencakup strategi, kebijakan, metode, komunikasi, negosiasi, dan bentuk kerja sama.

F. Christopher Arterton menunjukkan bahwa strategi dan negosiasi merupakan sarana untuk menggerakkan pendukung menuju visi politik. Dengan demikian, mempertahankan tujuan tidak berarti mempertahankan seluruh cara.

Dalam politik, seseorang dapat tetap menuju tujuan yang sama sambil mengganti rute karena medan telah berubah.

Nilai Tidak Sama dengan Kebijakan

Nilai bekerja pada tingkat moral, sedangkan kebijakan bekerja pada tingkat operasional. Keadilan, amanah, dan kemaslahatan merupakan nilai. Besaran anggaran, desain subsidi, regulasi, atau program tertentu merupakan kebijakan.

Kesalahan terjadi ketika keputusan teknis diperlakukan seperti prinsip yang tidak boleh dievaluasi. Padahal kebijakan adalah instrumen untuk menerjemahkan nilai ke dalam kenyataan.

Hatum dan Marchiori menyebut strategi sebagai jembatan antara nilai, visi, dan misi dengan realitas operasional. Tanpa strategi, nilai berisiko berhenti sebagai retorika.

Maka, perubahan kebijakan tidak selalu menunjukkan lemahnya idealisme. Bisa jadi justru merupakan usaha agar nilai benar-benar menghasilkan manfaat.

Konsisten Bukan Berarti Kaku

Konsistensi berarti tetap setia pada visi, nilai, dan arah perjuangan. Kekakuan berarti menolak beradaptasi meskipun kenyataan menunjukkan bahwa cara yang digunakan sudah tidak efektif.

Orang yang konsisten bertanya, “Apakah kita masih menuju tujuan yang benar?” Orang yang kaku bertanya, “Apakah kita masih melakukan persis seperti dahulu?”

Padahal realitas politik berubah. Masyarakat, teknologi, regulasi, konfigurasi kekuatan, dan persoalan publik terus berkembang. Karena itu, strategi yang efektif kemarin belum tentu efektif hari ini.

Konsistensi berada pada arah. Kekakuan berada pada cara.

Istiqamah Bukan Mempertahankan Semua Keputusan Lama

Istiqamah berarti teguh dalam kebenaran dan tanggung jawab moral. Istiqamah tidak berarti semua keputusan masa lalu harus dipertahankan selamanya.

Organisasi yang sehat memiliki keberanian mengevaluasi keputusan. Jika sebuah strategi tidak menghasilkan tujuan yang diharapkan, mengubahnya bukan berarti mengkhianati prinsip. Sebaliknya, menolak mengoreksi kesalahan hanya demi menjaga gengsi dapat merusak tujuan yang hendak diperjuangkan.

David Butcher dan Martin Clarke menekankan pentingnya kemampuan organisasi memperbarui diri menghadapi perubahan lingkungan.

Karena itu, mengakui bahwa cara kita keliru bukan pengkhianatan terhadap prinsip. Tetapi, yang berbahaya justru mempertahankan kesalahan demi terlihat konsisten.

Idealisme yang Mampu Bergerak

Bayangkan seseorang menuju puncak gunung. Tujuannya tetap, tetapi jalan yang ditempuh dapat berubah. Jika jembatan runtuh atau jalan tertutup longsor, ia tidak perlu mengubah tujuan. Ia cukup mencari rute lain.

Demikian pula dalam politik. Idealisme tidak diukur dari seberapa keras seseorang mempertahankan setiap posisi lama, tetapi dari seberapa teguh ia menjaga prinsip dan tujuan ketika medan perjuangan berubah.

Pemimpin yang baik menyatukan nilai dengan kecakapan taktis. Nilai memberikan arah, strategi memilih jalan, dan taktik menentukan langkah.

Pada akhirnya, menjadi idealis yang taktis berarti mengetahui apa yang tidak boleh berubah dan apa yang justru harus berubah agar tujuan yang benar tetap dapat diperjuangkan.

Prinsip tetap menjadi kompas. Strategi boleh berubah. Taktik boleh berganti. Cara boleh diperbarui. Tetapi arah perjuangan tidak boleh kehilangan pijakan. (im)

Buku Rujukan

  • Al-Qaradawi, Yusuf. السياسة الشرعية في ضوء نصوص الشريعة ومقاصدها. Cairo: Maktabah Wahbah.
  • Arterton, F. Christopher. Strategy in Politics: Plotting Victory in a Democracy. New York: Longman.
  • Butcher, David & Clarke, Martin. Smart Management: Using Politics in Organisations. Palgrave Macmillan.
  • Hatum, Andrés & Marchiori, Eugenio. Organisational Politics Revisited: A Seven-Dimensional Model. Palgrave Macmillan.
  • Lees-Marshment, Jennifer. Political Management: The Dance of Government and Politics. Routledge.
  • Young, H. Peyton. Negotiation Analysis: The Science and Art of Collaborative Decision Making. Harvard University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.