Strategic Thinking – Menjadi Praktisi Pemikir yang Ahli Strategi (Penutup)

by -1794 Views

Keunggulan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh keberanian mengambil keputusan, tetapi juga oleh kualitas cara berpikirnya. 

Di dunia bisnis maupun politik, tantangan terus berubah sehingga kemampuan berpikir strategis (strategic thinking) harus terus diasah. Keterampilan ini bukan bakat bawaan, melainkan hasil pembelajaran sepanjang hayat.

John Adair membuka gagasan ini dengan mengutip Winston Churchill:

“I am always willing to learn, but I do not like being taught.”
“Saya selalu bersedia untuk belajar, tetapi saya tidak suka diajar.”

Pesan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan seorang pemimpin merupakan tanggung jawab pribadi. Tidak ada organisasi yang mampu menghasilkan pemimpin unggul apabila individunya berhenti belajar.

Adair kembali menegaskan dalam The John Adair Handbook of Management and Leadership:

“Success in business stems from good quality management decisions first of all and then the effectiveness in implementation.”
“Keberhasilan bisnis pertama-tama lahir dari keputusan manajemen yang berkualitas, kemudian dari efektivitas pelaksanaannya.”

Dalam perspektif dakwah, proses tarbiyah (leadership development) juga membentuk pribadi yang terus memperbaiki kapasitas intelektual agar mampu memimpin perubahan.

Belajar dari Pengalaman, Bukan Sekadar Mengalaminya

Pengalaman memang guru terbaik, tetapi pengalaman tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Yang membedakan pemimpin biasa dan ahli strategi adalah kemampuannya mengolah pengalaman menjadi prinsip.

John Adair menjelaskan:

“You learn principally from experience. But experience or practice has to be illuminated by principles or ideas.”
“Kita belajar terutama dari pengalaman. Namun pengalaman harus diterangi oleh prinsip dan gagasan.”

Harold Koontz dalam Management mengingatkan bahwa pengalaman yang tidak dianalisis justru dapat menyesatkan karena membuat seseorang menganggap masa depan akan selalu sama dengan masa lalu. 

Oleh sebab itu, pemimpin harus mampu menyuling pengalaman (distilling experience) untuk menemukan hubungan sebab-akibat yang mendasar sebelum mengambil keputusan berikutnya.

Di dunia usaha, evaluasi setelah peluncuran produk merupakan sumber pembelajaran yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar merayakan keberhasilan. 

Demikian pula dalam politik, setiap kemenangan maupun kekalahan harus menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki strategi pelayanan publik.

Belajar dari Mentor dan Membangun Bank Pengetahuan

Tidak semua pelajaran harus diperoleh melalui kesalahan sendiri. Pemimpin yang bijak belajar dari pengalaman orang lain.

John Adair menulis:

“Prize especially those people you meet—in person or in books—who can teach you things in how to think.”
“Hargailah orang-orang yang Anda temui, baik secara langsung maupun melalui buku, yang dapat mengajarkan cara berpikir.”

Inilah pentingnya mentor (mentoring) dan pembinaan (coaching). Dalam tradisi syura (participative leadership) dan tarbiyah (leadership development), transfer pengalaman dari pemimpin kepada kader merupakan investasi jangka panjang organisasi.

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyadah wal Jundiyah juga menegaskan bahwa pemimpin harus terus membina dan meningkatkan kemampuan anggotanya sesuai bidang masing-masing melalui metode yang benar dan bermanfaat.

Refleksi: Mengubah Pengetahuan Menjadi Kebijaksanaan

Seorang ahli strategi tidak berhenti setelah mengambil keputusan. Ia melakukan refleksi (reflective learning), mencatat pelajaran, lalu memperbaiki pola berpikirnya.

Adair bahkan menyarankan agar setiap pemimpin memiliki buku catatan pribadi yang berisi prinsip, kutipan, studi kasus, serta pengalaman penting yang terus dibaca kembali. Lebih jauh lagi, ia memberikan nasihat yang tidak mudah dijalankan:

“Go out of your way to seek criticism of yourself… Sift through their comments for the gold-dust of truth.”
“Berusahalah mencari kritik terhadap diri Anda… Ayaklah komentar mereka untuk menemukan debu emas berupa kebenaran.”

Budaya menerima umpan balik (feedback culture) merupakan ciri organisasi yang terus bertumbuh. Dalam bisnis, evaluasi pelanggan menjadi sumber inovasi. Dalam politik, kritik masyarakat merupakan bahan bakar untuk memperbaiki kualitas pelayanan.

Menjadi Komandan bagi Diri Sendiri

Puncak kepemimpinan adalah kemampuan memimpin diri sendiri (self-leadership). John Adair mengutip pepatah Romawi:

“Ergomet sum mihi imperator.”
“I am myself my own commander.”
“Saya adalah komandan bagi diri saya sendiri.”

Prinsip ini sejalan dengan semangat mujahadah (self-mastery) dalam dakwah, yaitu kemampuan mendisiplinkan diri sebelum mengarahkan orang lain. Pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih mudah memperoleh kepercayaan untuk memimpin organisasi.

Pada akhirnya, menjadi praktisi pemikir yang ahli strategi bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan tanpa henti. Seperti ungkapan John Adair yang sangat terkenal:

“Knowledge is only a rumour until it is in the muscle.”
“Pengetahuan hanyalah rumor sampai ia menjadi bagian dari tindakan.”

Keputusan yang hebat lahir dari perpaduan ilmu, pengalaman, refleksi, dan karakter. Itulah fondasi kepemimpinan yang mampu bertahan dalam dunia bisnis, politik, maupun perjuangan dakwah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.