Salah satu frasa yang paling sering muncul dalam tradisi organisasi dakwah adalah sami’na wa atha’na—kami mendengar dan kami taat. Frasa ini sederhana, tetapi memiliki daya penggerak yang sangat kuat.
Dalam sejarah gerakan dakwah maupun organisasi modern, semangat ini mampu melahirkan disiplin, loyalitas, dan kecepatan eksekusi.
Namun di era modern, frasa ini sering dipahami secara dangkal. Tidak sedikit yang menerjemahkannya menjadi: “jangan banyak bertanya, ikuti saja.”
Padahal pemahaman seperti itu justru mereduksi kedalaman konsep Islam tentang kepemimpinan, akal, dan tanggung jawab individu.
Allah SWT berfirman: “Wa qālū sami‘nā wa atha‘nā.” “Dan mereka berkata: kami mendengar dan kami taat.” (QS. An-Nur: 51)
Ayat ini bukan sekadar perintah kepatuhan, tetapi fondasi membangun organisasi yang memiliki kesadaran kolektif dan arah yang jelas.
Sami’na: Mendengar dengan Kesadaran
Kesalahan paling umum dalam memahami sami’na wa atha’na adalah melompati kata pertama: sami’na. Padahal urutannya sangat penting. Islam tidak mengajarkan ketaatan buta, tetapi mendengar terlebih dahulu.
Mendengar dalam konteks ini bukan sekadar menangkap suara, melainkan memahami konteks, tujuan, maslahat, dan arah keputusan. Karena itu, tradisi syura dalam Islam selalu menempatkan dialog dan pertimbangan sebagai bagian penting sebelum keputusan diambil.
Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menulis: “Seek first to understand, then to be understood.” “Berusahalah memahami terlebih dahulu, sebelum ingin dipahami.”
Prinsip ini sangat dekat dengan makna sami’na. Anggota organisasi yang sehat bukan orang yang pasif, melainkan individu yang berpikir, memahami, lalu berkomitmen.
Dalam manajemen modern, konsep ini dikenal sebagai active listening dan psychological safety. Amy Edmondson, profesor Harvard Business School, menjelaskan bahwa organisasi yang kuat justru memberi ruang bagi pertanyaan, masukan, dan diskusi sehat sebelum keputusan ditetapkan.
Karena itu, sami’na wa atha’na tidak identik dengan “pokoknya ikut.” Justru yang ditekankan adalah proses kesadaran sebelum komitmen.
Atha’na: Komitmen Setelah Alignment
Setelah proses memahami selesai, organisasi membutuhkan fase berikutnya: atha’na—komitmen untuk menjalankan keputusan bersama.
Di sinilah banyak organisasi modern gagal. Diskusi panjang terjadi, rapat berlangsung berjam-jam, tetapi setelah keputusan dibuat, eksekusinya lemah karena masing-masing tetap berjalan dengan agenda sendiri.
Dalam budaya organisasi modern, hal ini dikenal dengan prinsip: “Disagree and commit.” “Boleh berbeda pendapat, tetapi setelah keputusan dibuat, semua berkomitmen menjalankannya.”
Prinsip yang sering diasosiasikan dengan Jeff Bezos dan budaya kerja Amazon ini sangat relevan dengan makna atha’na. Kritik dan diskusi tetap dibuka, tetapi ketika keputusan sudah dipilih secara kolektif, organisasi membutuhkan disiplin eksekusi.
Tanpa komitmen, organisasi hanya menjadi forum diskusi tanpa hasil nyata.
Dalam konteks dakwah, politik, maupun bisnis, loyalitas terhadap misi jauh lebih penting daripada ego pribadi. Karena itu, atha’na bukan berarti mematikan akal, melainkan mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi fragmentasi organisasi.
Organisasi Modern Butuh Keseimbangan
Tantangan terbesar organisasi ideologis hari ini adalah menjaga keseimbangan antara soliditas dan kebebasan berpikir. Terlalu longgar akan melahirkan chaos. Terlalu kaku akan mematikan inovasi.
Organisasi yang matang bukan organisasi yang anti-kritik, tetapi organisasi yang mampu membangun budaya: diskusi sebelum keputusan, komitmen setelah keputusan, dan evaluasi setelah pelaksanaan.
Peter Drucker pernah mengingatkan: “Management is doing things right; leadership is doing the right things.” “Manajemen adalah melakukan sesuatu dengan benar; kepemimpinan adalah melakukan hal yang benar.”
Karena itu, sami’na wa atha’na dalam perspektif modern bukan budaya tunduk tanpa berpikir. Ia adalah kombinasi antara kesadaran, kedewasaan, disiplin, dan tanggung jawab kolektif.
Dan justru di situlah organisasi dapat menjadi solid sekaligus tetap cerdas dan adaptif menghadapi perubahan zaman. (im)





