Oleh: Yadi Mulyadi, SH
Dalam banyak organisasi, baik bisnis, sosial, maupun politik, problem utama sering kali bukan kurangnya ide atau lemahnya visi. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan memastikan gagasan berubah menjadi aksi nyata.
Di titik inilah konsep tatbiq dan jundiyah menjadi relevan.
Tatbiq (تطبيق) berarti implementasi—kemampuan menerjemahkan strategi menjadi tindakan. Sementara jundiyah (جندية) adalah spirit kesiapan beramal, disiplin, loyalitas terhadap misi, serta kesediaan berkorban demi tujuan bersama.
Dalam manhaj dakwah, jundiyah bukan sekadar kepatuhan formal, melainkan budaya kerja yang menekankan komitmen tinggi dan konsistensi.
Dalam bahasa manajemen modern, ini sangat dekat dengan konsep disciplined commitment.
Organisasi tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh orang-orang yang siap bekerja secara konsisten.
Militansi yang Sehat: Dari Semangat ke Eksekusi
Banyak organisasi kaya narasi tetapi miskin eksekusi. Rapat produktif, konsep matang, presentasi menarik—namun hasil di lapangan minim. Problemnya bukan kurang motivasi, melainkan lemahnya kultur implementasi.
Angela Duckworth dalam Grit menulis: “Enthusiasm is common. Endurance is rare.”
Antusiasme itu umum. Daya tahan adalah sesuatu yang langka.
Inilah esensi jundiyah.
Militansi bukan ledakan semangat sesaat, tetapi kemampuan menjaga ritme kerja dalam jangka panjang.
Dalam bisnis, ini terlihat dari: disiplin menjalankan strategi, konsistensi target, dan daya tahan menghadapi tekanan pasar.
Dalam politik, militansi berarti: kesungguhan melayani publik, menjaga agenda organisasi, dan tidak mudah teralihkan oleh dinamika jangka pendek.
Karena itu, jundiyah tidak identik dengan budaya keras atau otoriter. Ia lebih dekat pada mentalitas profesional: siap menjalankan amanah hingga selesai.
Peran Qiyadah dalam Tatbiq
Di sinilah peran pemimpin menjadi krusial. Dalam paradigma lama, pemimpin sering dipahami sebagai figur yang paling banyak memberi instruksi. Namun leadership modern bergerak ke arah berbeda.
Pemimpin tidak lagi dinilai dari seberapa banyak ia memerintah. Melainkan dari kemampuannya memastikan tatbiq berjalan efektif.
Peran utama pemimpin setidaknya mencakup tiga hal. Pertama, memperjelas arah (clarity). Tim tidak bisa bergerak optimal jika prioritas kabur.
Stephen Covey menulis: “The main thing is to keep the main thing the main thing.” Hal utama adalah memastikan hal utama tetap menjadi prioritas utama.
Kedua, menghilangkan hambatan (remove obstacles). Pemimpin yang baik tidak menambah kerumitan. Ia membantu tim menembus bottleneck, menyelesaikan masalah, dan menjaga momentum kerja.
Ketiga, menjaga fokus tim. Dalam era informasi berlimpah, distraksi adalah musuh organisasi. Pemimpin harus memastikan energi tim tetap tertuju pada tujuan strategis.
Model ini sangat dekat dengan konsep servant leadership dari Robert K. Greenleaf. Ia menulis: “The servant-leader is servant first.” Pemimpin pelayan pada dasarnya adalah pelayan terlebih dahulu.
Artinya, pemimpin hadir bukan untuk dilayani, tetapi untuk membuat tim mampu bekerja maksimal.
Jundiyah Bukan Kepatuhan Buta
Penting ditegaskan: jundiyah bukan berarti meniadakan akal kritis. Ia bukan budaya “asal ikut” (tqalid buta). Jundiyah yang sehat lahir dari pemahaman terhadap misi dan kepercayaan pada sistem organisasi.
Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
Wa qul i’malū fasayarallāhu ‘amalakum.
“Dan katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian.” (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini menunjukkan pentingnya orientasi amal. Ukuran kualitas organisasi bukan banyaknya wacana, tetapi kualitas kerja nyata.
Penutup: Militansi sebagai Keunggulan Organisasi
Pada akhirnya, organisasi unggul selalu memiliki dua hal: visi yang jelas dan kultur kerja yang kuat.
Visi tanpa militansi melahirkan organisasi penuh gagasan tetapi minim hasil. Sebaliknya, militansi tanpa arah menghasilkan energi yang tidak terkelola.
Karena itu, jundiyah harus dipahami secara modern: bukan keras tetapi konsisten, bukan otoriter tetapi disiplin, bukan sekadar loyal kepada figur tetapi berkomitmen pada misi.Dalam bisnis maupun politik, budaya seperti inilah yang melahirkan organisasi tahan banting, produktif, dan relevan dalam jangka panjang.(im)





