Oleh: Yadi Mulyadi, SH
Saya mengenal salah seorang pebisnis yang tidak nyaman jika dalam rapat ia mendengar kalimat seperti “sesegera mungkin”, “secepatnya”, atau “lebih baik”.
Baginya, itu bukan jawaban—melainkan ketidakjelasan. Tidak ada ukuran, tidak ada batas waktu, dan sangat mungkin terjadi bias antara yang menyampaikan dengan yang menerima.
Karena itu, ia selalu meminta satu hal: rumusan yang kuantitatif, terukur, dan objektif. Bukan sekadar kata-kata yang terdengar baik, tetapi target yang bisa dieksekusi dan dievaluasi.
Pengalaman sederhana ini menegaskan satu prinsip penting: ketidakjelasan tujuan adalah awal dari ketidakefektifan organisasi.
Dari Ketidakjelasan ke SMART Goals
Dalam dunia manajemen modern, problem tersebut dijawab dengan konsep SMART goals—kerangka kerja yang memastikan setiap rencana memiliki kejelasan dan ukuran. SMART mencakup: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.
Sebagaimana dijelaskan oleh Peter Drucker: “What gets measured gets managed.”
(Apa yang diukur, itulah yang akan dikelola). Tanpa ukuran yang jelas, organisasi hanya bergerak berdasarkan persepsi.
SMART mengubah pernyataan abstrak menjadi konkret: “segera selesaikan” menjadi “selesaikan dalam 3 hari kerja”; “tingkatkan penjualan” menjadi “naikkan penjualan 20% dalam 1 kuartal”.
Di sinilah perencanaan mulai memiliki bentuk yang nyata, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ahdāf: Tujuan Strategis dalam Perspektif Dakwah dan Manajemen
Dalam tradisi dakwah, kita mengenal istilah ahdāf (أهداف). Secara sederhana diterjemahkan sebagai “tujuan”, namun dalam perspektif manajemen modern, maknanya lebih dekat dengan strategic objectives.
Ahdāf bukan sekadar goal atau aim. Ia adalah tujuan yang terarah, bertingkat, terhubung dengan visi besar (ghayah)
Gambaran sederhananya, dalam struktur dakwah kita mengenal ghayah sebagai visi besar, sedangkan Ahdāf adalah tujuan-tujuan antaranya (milestone). Sedangkan wasā’il adalah cara atau strategi.
Dalam bahasa modern kita menerjemahkannya menjadi vision sebagai arah organisasi, objectives adalah target strategis dan execution yang merupakan langkah-langkah operasional.
Dengan demikian, bisa dikatakan ahdāf adalah jembatan antara visi dan eksekusi. Ia memastikan bahwa visi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi turun menjadi langkah nyata.
SMART, Ahdāf, dan Eksekusi
Dar penjelasan ringkas diatas, terlihat hubungan yang jelas.SMART adalah metode untuk merumuskan ahdāf agar menjadi operasional dan terukur.
Tanpa pendekatan seperti SMART, ahdāf menjadi terlalu umum, sulit dievaluasi dan rawan disalahartikan.
Dengan pendekatan SMART ini tujuan menjadi jelas, peran setiap individu mudah terdefinisi sehingga organisasi bergerak dalam satu arah yang sama.
Dalam praktik bisnis modern, pendekatan ini juga dikenal dalam konsep OKR (Objectives and Key Results), yang menekankan bahwa setiap tujuan harus memiliki indikator keberhasilan yang terukur.
Sebagaimana disampaikan oleh Andy Grove: “Ideas are easy. Execution is everything.”
(Ide itu mudah. Eksekusi adalah segalanya). Dan eksekusi yang efektif selalu dimulai dari tujuan yang jelas.
Relevansi dalam Bisnis dan Politik
Dalam bisnis, ahdāf yang tidak jelas akan melahirkan aktivitas tinggi tetapi hasil rendah. Tim bekerja keras, tetapi tidak terarah.
Sementara dalam politik, dampaknya lebih luas: kebijakan menjadi reaktif, program kehilangan fokus, dan kepercayaan publik melemah.
Sebaliknya, ahdāf yang kuat akan menyatukan arah gerak, memudahkan evaluasi dan meningkatkan akuntabilitas
Ahdāf juga berfungsi sebagai alat alignment—menyatukan visi besar dengan aksi harian, sehingga organisasi tidak sekadar sibuk, tetapi benar-benar bergerak maju.
Penutup
Dari sebuah kalimat sederhana seperti “sesegera mungkin”, kita belajar satu hal penting: ketidakjelasan adalah musuh dari kinerja.
Ahdāf mengajarkan kita mengubah niat baik menjadi tujuan yang jelas dan terarah. Sementara pendekatan modern seperti SMART memastikan tujuan tersebut dapat dijalankan dan diukur.
Ringkasnya, tanpa ahdāf yang jelas, visi hanya menjadi wacana; dengan ahdāf yang terukur, visi berubah menjadi rencana yang bisa diwujudkan.Dan di situlah organisasi, baik dalam bisnis maupun politik, menemukan arah, fokus, dan keberlanjutannya. (im)



