Dari kota Jahiliyah Makkah, Muncul Pebisnis Muslimah Hebat

by -1347 Views

Sebelum kita membahas pelajaran bisnis dari kehidupan Khadijah رضي الله عنها, mari kita lihat kondisi Makkah pada masa itu. Masa yang kita sebut zaman jahiliyah.

Dan ketika mendengar istilah “zaman Jahiliyah”, sebagian dari kita langsung membayangkan Makkah sebagai kota kumuh, terbelakang, miskin, tidak beraturan, dan jauh dari peradaban. Gambaran itu sesungguhnya kurang tepat. 

Jahiliyah bukan berarti masyarakat Arab saat itu bodoh secara intelektual atau tertinggal secara materi. Justru Makkah pada masa Nabi ﷺ adalah kota perdagangan internasional yang maju, ramai, dan memiliki kekuatan ekonomi yang besar.

Makkah saat itu adalah pusat perdagangan sekaligus pusat spiritual bangsa Arab. Kafilah dagang Quraisy menjangkau Syam dan Yaman. Rumah-rumah megah berdiri. Pakaian mahal dan perhiasan menjadi simbol status sosial. Orang-orang kaya menikmati hiburan, pesta, perdagangan, bahkan gaya hidup mewah. Hedonis.

Dibalik kemajuan material itu, ada kekosongan ruhani yang sangat dalam. Al-Qur’an menggambarkan mereka memiliki mata tetapi tidak melihat kebenaran, memiliki akal tetapi tidak digunakan untuk mengenal Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا
“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat.”
(QS. Al-A’raf: 179)

Jahiliyah, sebagaimana dikatakan Muhammad Quthub, pada hakikatnya adalah la ma’rifatullah — kehilangan arah hidup dan kehilangan hubungan dengan Allah ﷻ. 

Mereka cerdas berdagang, pandai berpolitik, piawai membangun jaringan bisnis, tetapi gagal membangun akhlak dan peradaban jiwa.

Islam Tidak Memusuhi Kemajuan

Islam tidak datang untuk menghancurkan kemajuan ekonomi dan peradaban. Islam hadir untuk memberi arah. 

Rasulullah ﷺ tidak membubarkan pasar. Beliau tidak melarang perdagangan. Bahkan setelah hijrah ke Madinah, salah satu langkah strategis beliau adalah membangun pasar umat.

Dengan latar belakang seperti itu, membantu kita memahami sosok Khadijah رضي الله عنها secara lebih utuh. Beliau bukan sekadar isteri pertama Rasulullah ﷺ, tetapi juga seorang entrepreneur perempuan kelas dunia pada zamannya. Khadijah memimpin jaringan perdagangan lintas negeri, mengelola aset, merekrut tenaga kerja, membangun reputasi, dan menjaga integritas bisnisnya.

Khadijah رضي الله عنها tidak menunggu peluang dan berharap perubahan datang. Tetapi beliau menciptakan perubahan melalui keberanian, kecerdasan, dan keteguhan prinsip.

Ini seperti yang dikatakan Peter Drucker dalam Management: Tasks, Responsibilities, Practices:

“The best way to predict the future is to create it.” “Cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.”

Dan hal yang menarik, kesuksesan Khadijah tidak membuat beliau kehilangan kelembutan sebagai wanita. Justru kekuatan spiritual melahirkan ketangguhan mental. Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan gemetar, Khadijah menjadi orang pertama yang menenangkan beliau.

Beliau berkata:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
“Tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakan engkau.”  (HR. Bukhari)

Kalimat itu lahir dari seorang perempuan yang mengenal kualitas manusia, mengenal integritas, dan memahami makna perjuangan.

Muslimah dan Kemandirian Ekonomi

Hari ini, banyak muslimah memiliki pemahaman agama yang baik, aktif dalam dakwah, kuat dalam tarbiyah, tetapi masih ragu memasuki dunia bisnis dan ekonomi. Padahal umat membutuhkan lebih banyak muslimah tangguh seperti Khadijah رضي الله عنها.

Dan pengaruh seringkali membutuhkan kemandirian ekonomi. Dunia modern dulu dan juga saat ini, menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi sangat menentukan kekuatan pengaruh sosial dan politik itu. 

John C. Maxwell dalam Developing the Leader Within You menulis: “Leadership is influence.” “Kepemimpinan adalah pengaruh.”

Muslimah tidak harus kehilangan fitrah untuk menjadi kuat. Tidak harus keras untuk menjadi mandiri. Bisnis bukan hanya soal uang, tetapi tentang kebermanfaatan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun jaringan, dan keteguhan menjaga nilai.

Khadijah رضي الله عنها mengajarkan bahwa perempuan dapat menjadi pengusaha sukses tanpa kehilangan kehormatan, kelembutan, dan ketakwaannya.

Inilah pelajaran besar dari Makkah. Kota itu maju secara ekonomi sebelum Islam datang. Tetapi Islam mengubah orientasinya. Dari sekadar mengejar kemewahan menuju membangun peradaban yang berkeadilan.

Maka tugas muslimah hari ini bukan menjauhi dunia ekonomi, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Sebab bisnis yang dipandu iman akan melahirkan keberkahan, bukan sekadar keuntungan.Dan mungkin, kebangkitan umat di masa depan, salah satunya akan lahir dari tangan-tangan muslimah yang berani belajar bisnis kepada Khadijah رضي الله عنها. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.