Kepemimpinan dan Manajemen dalam Perspektif Tarbiyah dan Organisasi Modern

by -1619 Views

Setiap organisasi, baik perusahaan, lembaga sosial, maupun partai politik, hanya akan bergerak sejauh kualitas kepemimpinan (leadership) dan manajemennya (management). Visi tanpa pengelolaan yang baik hanya menjadi mimpi, sedangkan pengelolaan tanpa kepemimpinan akan berubah menjadi rutinitas administratif yang kehilangan arah.

John Adair dalam Effective Leadership menegaskan, “Leadership is action, not position.” “Kepemimpinan adalah tindakan, bukan kedudukan.” Kalimat sederhana ini membongkar kesalahpahaman yang masih sering terjadi. 

Banyak orang mengira jabatan otomatis melahirkan kepemimpinan. Faktanya, jabatan hanya memberikan kewenangan formal, sedangkan kepemimpinan lahir dari kemampuan membangun kepercayaan, menggerakkan manusia, dan memberi arah.

Dalam perspektif tarbiyah, konsep ini dikenal sebagai Al-Qiyadah (leadership), sedangkan pengelolaan organisasi disebut Al-Idarah (management). Keduanya bukan konsep yang saling bersaing, tetapi saling melengkapi. 

Pemimpin menentukan arah perubahan, sementara manajemen memastikan perubahan tersebut berjalan secara sistematis.

Mengapa Umat Membutuhkan Pemimpin dan Pengelola?

Musthafa Masyhur mengingatkan bahwa Islam bukan agama individualistik. Beliau menulis, “Islam bukan agama individu. Ia adalah agama satu umat, satu tanah air dan satu tubuh. Islam menyeru kepada kesatuan kaum Muslimin.”

Karena itu, organisasi menjadi kebutuhan alami bagi sebuah gerakan. Bahkan para ulama ushul fiqh merumuskan kaidah terkenal:

“Maa laa yatimmul waajibu illaa bihii fahuwa waajib.”

“Sesuatu yang menjadi penyempurna terlaksananya suatu kewajiban, maka keberadaannya juga menjadi wajib.”

Dalam bahasa manajemen modern, organisasi membutuhkan governance, leadership, dan execution. Tanpa ketiganya, visi sebesar apa pun hanya berhenti menjadi slogan.

Peter Drucker dalam Management: Tasks, Responsibilities, Practices menyatakan, “Management is doing things right; leadership is doing the right things.” “Manajemen adalah mengerjakan sesuatu dengan benar, sedangkan kepemimpinan adalah memastikan yang dikerjakan memang benar.” 

Inilah keseimbangan yang harus dimiliki setiap organisasi dakwah, bisnis, maupun politik.

Kepemimpinan Bukan Jabatan, Manajemen Bukan Administrasi

Salah satu penyebab utama kegagalan organisasi adalah menyamakan kepemimpinan dengan kekuasaan, serta menyempitkan manajemen menjadi sekadar administrasi.

John Adair mengingatkan bahwa seseorang baru benar-benar menjadi pemimpin ketika keberadaannya diterima oleh hati dan pikiran orang-orang yang dipimpinnya. Sebaliknya, seorang manajer yang hanya mengandalkan struktur akan mudah kehilangan pengaruh ketika legitimasi moralnya memudar.

Demikian pula dengan Al-Idarah (management). Manajemen bukan sekadar membuat laporan, menyusun jadwal, atau mengisi formulir. Manajemen merupakan seni mengoptimalkan seluruh sumber daya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menulis, “Trust is the glue of life.” “Kepercayaan adalah perekat kehidupan.” Integritas menjadi fondasi utama, sebab tanpa kepercayaan tidak ada kolaborasi, tanpa kolaborasi tidak ada organisasi yang bertahan lama.

Banyak organisasi runtuh bukan karena kekurangan dana atau SDM, melainkan karena kehilangan komunikasi, saling percaya, dan keteladanan di tingkat pimpinan.

Tarbiyah: Pabrik Regenerasi Pemimpin

Di sinilah pentingnya Tarbiyah (leadership development). Tarbiyah bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses membentuk karakter, integritas, kompetensi, dan kemampuan memimpin perubahan.

Musthafa Masyhur menegaskan, “Kewajiban memberikan perhatian serius terhadap pendidikan (Tarbiyyah) di setiap peringkat. Karena ia merupakan asas kekuatan dan keutuhan suatu gerakan.”

Dalam organisasi modern, proses ini dikenal sebagai leadership pipeline, yaitu sistem regenerasi yang secara sadar menyiapkan calon pemimpin sejak dini. Seorang murabbi berperan sebagai coach dan mentor, sementara qudwah ‘amaliyah menjadi leading by example, yakni keteladanan nyata yang jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi.

John Adair juga memperkenalkan konsep Three Circles of Leadership, yakni kemampuan pemimpin menjaga keseimbangan antara penyelesaian tugas (task achievement), menjaga kekompakan tim (team maintenance), dan memperhatikan kebutuhan individu (individual development). Menariknya, konsep tersebut sangat selaras dengan pendekatan tarbiyah yang membangun manusia secara utuh.

Pada akhirnya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang memiliki pemimpin hebat sesaat, tetapi organisasi yang mampu melahirkan pemimpin berikutnya secara berkelanjutan. 

Regenerasi itulah yang menjaga kesinambungan perjuangan. Sebab kepemimpinan adalah amanah, sedangkan manajemen adalah instrumen untuk memastikan amanah tersebut menghasilkan manfaat yang nyata bagi umat. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.