Lingkungan Bisnis yang Melahirkan Womanpreneur Hebat Kelas Dunia

by -1370 Views

Sebagian orang membayangkan perempuan pebisnis adalah fenomena modern. Seolah-olah dunia usaha baru memberi ruang kepada wanita pada abad ini. 

Padahal, jauh sebelum lahirnya teori manajemen modern, Makkah telah melahirkan banyak womanpreneur tangguh. Dan salah satu yang terbesar dalam sejarah itu bernama Khadijah رضي الله عنها.

Inilah pentingnya memahami lingkungan. Sebab karakter manusia sering kali dibentuk oleh ekosistem tempat ia hidup.

Makkah pada masa Rasulullah ﷺ bukan kota miskin dan terbelakang secara materi. Ia adalah kota perdagangan internasional. Kafilah-kafilah Quraisy bergerak ke Syam, Yaman, hingga wilayah-wilayah strategis lainnya. Aktivitas ekonomi berlangsung sangat dinamis. 

Ditengah lingkungan seperti itulah lahir para saudagar besar, termasuk para wanita pebisnis.

Khadijah رضي الله عنها tumbuh dalam atmosfer bisnis. Beliau tidak hidup di lingkungan yang memandang perempuan hanya layak berada di belakang rumah tanpa akses ekonomi. 

Makkah justru memberi ruang hukum dan sosial bagi perempuan untuk memiliki aset, menjalankan perdagangan, dan membangun jaringan bisnis.

Lingkungan Membentuk Cara Berpikir

Dalam ilmu manajemen modern, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan pola pikir seseorang. Jim Rohn, motivator bisnis terkenal, pernah mengatakan:

“You are the average of the five people you spend the most time with.” “Anda adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering bersama Anda.”

Kalimat ini sangat relevan dalam dunia bisnis muslimah hari ini.

Jika seseorang hidup di lingkungan yang takut mengambil risiko, alergi terhadap bisnis, dan selalu memandang dunia usaha sebagai sesuatu yang “kotor”, maka keberanian bisnis sulit tumbuh. Tetapi jika seseorang berada di lingkungan yang produktif, kreatif, disiplin, dan terbiasa berdagang, maka mental bisnis akan lebih mudah terbentuk.

Khadijah رضي الله عنها adalah contoh nyata bagaimana lingkungan bisnis dapat melahirkan perempuan berkelas dunia.

Beliau bukan satu-satunya.

Dalam literatur sirah disebutkan nama Al-Hanthaliyah, ibu Abu Jahal, sebagai salah satu wanita saudagar Makkah. Ada pula Ummu Syaibah binti Abi Thalhah yang mengelola harta dan aset perdagangan keluarganya. 

Ini menunjukkan bahwa womanpreneur bukan hal aneh di Makkah saat itu.

Hal menarik lainnya, para wanita tersebut bahkan mempekerjakan kaum pria untuk membawa barang dagangan mereka ke berbagai negeri dengan sistem bagi hasil. Artinya, mereka memahami konsep investasi, distribusi, dan manajemen risiko jauh sebelum istilah-istilah modern itu dikenal.

Islam dan Kemandirian Ekonomi Muslimah

Islam tidak pernah melarang wanita menjadi pebisnis. Bahkan sejarah Islam justru diawali dengan dukungan finansial seorang pengusaha wanita besar: Khadijah رضي الله عنها.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan orang saleh.” (HR. Ahmad)

Harta bukan musuh dakwah. Bisnis bukan lawan keshalihan. Yang berbahaya adalah ketika harta kehilangan arah nilai.

Peter Drucker dalam Innovation and Entrepreneurship menulis:

“The entrepreneur always searches for change, responds to it, and exploits it as an opportunity.” “Entrepreneur selalu mencari perubahan, meresponsnya, lalu menjadikannya peluang.”

Muslimah hari ini membutuhkan keberanian seperti itu. Dunia berubah cepat. Tantangan ekonomi keluarga semakin kompleks. Dakwah juga membutuhkan kekuatan finansial agar bisa bergerak lebih luas dan mandiri.

Karena itu, muslimah perlu membangun lingkungan yang menumbuhkan keberanian bisnis. Berkumpul dengan orang-orang produktif. Membaca buku-buku bisnis. Belajar mengelola keuangan. Memahami marketing digital. Membangun jaringan usaha. 

Sebab kemampuan bisnis jarang, bahkan bisa dikatakan, tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan dan lingkungan.

Khadijah رضي الله عنها memberi pelajaran besar bahwa perempuan tetap bisa menjaga kehormatan, kelembutan, dan iman sambil menjadi pebisnis besar.

Dan mungkin, salah satu langkah awal menuju kemandirian ekonomi umat adalah menghadirkan lebih banyak lingkungan yang melahirkan “Khadijah-Khadijah baru”. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.