Leadership Berawal dari Misi, Bukan Jabatan

by -1571 Views

Setiap organisasi yang besar selalu lahir dari sebuah misi. Demikian pula manusia. Dalam perspektif Islam, kepemimpinan (Al-Qiyadah – Leadership) bukan sekadar kemampuan mengelola organisasi, tetapi merupakan konsekuensi dari tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah (stewardship leadership) di muka bumi.

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyadah wal Jundiyah menjelaskan hakikat tersebut:

“Manusia diciptakan di bumi sebagai pemimpin untuk memimpin segenap hamba Allah kepada dien yang diridhai-Nya. Inilah yang dapat melahirkan sesuatu yang sangat penting di dunia dan akhirat.”

Pandangan ini memberi dimensi yang berbeda dibandingkan teori kepemimpinan modern. Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab terhadap pencapaian target (performance), tetapi juga terhadap nilai (values) yang menjadi dasar seluruh keputusan.

Konsep ini sejalan dengan pemikiran John Adair dalam Effective Leadership. Ia menulis, “The first and foremost leader is God.” “Pemimpin yang pertama dan terutama adalah Allah.” Artinya, kepemimpinan dalam Islam selalu memiliki pagar moral yang jelas. Kekuasaan bukanlah otoritas tanpa batas, melainkan amanah yang tunduk pada hukum Allah.

Jim Collins dalam Good to Great juga menemukan pola yang sama pada perusahaan-perusahaan terbaik dunia. Ia menulis, “Level 5 leaders channel their ego needs away from themselves and into the larger goal.” “Pemimpin Level 5 mengalihkan ego pribadinya kepada tujuan yang lebih besar.” 

Inilah esensi seorang khalifah: memimpin bukan untuk membesarkan diri, melainkan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Amanah: Fondasi Integritas Seorang Pemimpin

Jika Al-Qiyadah (Leadership) adalah misi, maka Amanah (Trustworthiness & Integrity) merupakan fondasi yang menopangnya.

Musthafa Masyhur mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan yang layak dibanggakan.

“Beban ini bukan suatu kemegahan dan kebanggaan. Sebab pemimpin di gelanggang ‘Amal Islami mempunyai tanggung jawab yang lebih berat.”

Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas kepada Abu Dzar:

“Yaa Aba Dzarr, innaka dha’iif, wa innahaa amaanah…”

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah. Pada Hari Kiamat ia akan menjadi penyesalan, kecuali bagi orang yang menerimanya dengan benar dan menunaikan seluruh kewajibannya.”

Dalam bahasa manajemen modern, amanah identik dengan integrity. Stephen R. Covey dalam The Speed of Trust menulis, “Trust is the highest form of human motivation.” “Kepercayaan adalah bentuk motivasi manusia yang paling tinggi.” 

Organisasi yang dipimpin dengan integritas akan bergerak lebih cepat karena biaya ketidakpercayaan (cost of distrust) menjadi rendah.

Setiap Orang Adalah Pemimpin

Islam membangun paradigma bahwa kepemimpinan bukan monopoli elite organisasi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Kullukum raa’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Konsep ini sangat dekat dengan gagasan personal leadership dalam organisasi modern. John Adair mengatakan, “Leadership is in all of us.” “Kepemimpinan ada dalam diri kita semua.” Seorang direktur memimpin perusahaan, seorang kepala keluarga memimpin rumah tangga, sementara seorang staf memimpin tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

Peter Drucker bahkan menegaskan, “The most important thing in communication is hearing what isn’t said.” “Hal terpenting dalam kepemimpinan adalah mampu memahami apa yang tidak diucapkan.” 

Karena itu, kepemimpinan bukan sekadar memberi instruksi, tetapi membangun kepekaan terhadap manusia yang dipimpin.

Kepemimpinan adalah Tanggung Jawab

Kesalahan terbesar dalam banyak organisasi adalah memandang jabatan sebagai privilese. Padahal, Al-Qiyadah (Leadership) adalah bentuk servant leadership atau kepemimpinan yang melayani.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sayyidul qaumi khaadimuhum.”

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya.”

John Adair kemudian mempertegas prinsip tersebut melalui kalimat yang sangat terkenal, “Leadership is action, not position.” “Kepemimpinan adalah tindakan, bukan kedudukan.” 

Sementara Dag Hammarskjöld mengingatkan, “Your position gives you no right to command. It only imposes on you the duty of living your life so that others can receive your orders without being humiliated.” “Jabatan tidak memberimu hak untuk memerintah. Jabatan justru mewajibkanmu hidup sedemikian rupa sehingga orang lain dapat menerima perintahmu tanpa merasa direndahkan.”

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah lamanya ia berkuasa, melainkan seberapa banyak manusia yang tumbuh karena kepemimpinannya. Pemimpin terbaik adalah mereka yang ketika pekerjaannya selesai, timnya berkata dengan penuh percaya diri, “Kami sendiri yang melakukannya.” (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.