Dalam dunia bisnis modern, terdapat sebuah prinsip yang sangat terkenal: “Trust, but verify.” Ronald Reagan, presiden AS ke-40, pernah mempopulerkan ungkapan ini yang berarti, “Percayalah, tetapi tetap lakukan verifikasi.”
Kalimat sederhana ini menjadi fondasi penting dalam tata kelola perusahaan yang sehat.
Menariknya, prinsip tersebut telah dipraktikkan jauh sebelum teori manajemen modern lahir. Sosok yang menerapkannya adalah Khadijah رضي الله عنها, seorang pengusaha sukses Makkah yang dikenal karena kecerdasan, integritas, dan ketajaman strategi bisnisnya.
Banyak muslimah mengenal Khadijah رضي الله عنها sebagai istri pertama Rasulullah ﷺ. Namun tidak banyak yang mengkaji beliau sebagai seorang entrepreneur kelas dunia yang berhasil mengelola aset, SDM, dan jaringan perdagangan lintas negara.
Salah satu pelajaran penting dari Khadijah رضي الله عنها adalah kemampuannya membangun sistem pengawasan yang profesional tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.
Peter Drucker, bapak manajemen modern, pernah berkata: “What gets measured gets managed.” Apa yang diukur, akan dapat dikelola.
Prinsip inilah yang tampak dalam strategi bisnis Khadijah رضي الله عنها.
Maisarah: Field Supervisor yang Menjamin Akuntabilitas
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menjelaskan bahwa Khadijah رضي الله عنها merupakan seorang niagawati besar yang mempekerjakan para laki-laki untuk menjalankan aktivitas perdagangan dengan sistem bagi hasil.
Namun beliau memahami satu kenyataan penting: semakin jauh operasional bisnis dilakukan, semakin besar pula risiko penyimpangan.
Perjalanan dagang dari Makkah menuju Syam memakan waktu berminggu-minggu, melewati padang pasir, berbagai pasar, serta interaksi dengan banyak pihak. Dalam kondisi seperti itu, pemilik usaha tidak mungkin mengawasi secara langsung.
Karena itulah Khadijah رضي الله عنها menugaskan seorang kepercayaannya bernama Maisarah untuk mendampingi Muhammad ﷺ dalam perjalanan dagang tersebut.
Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthy dalam Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah menyebut Maisarah sebagai orang kepercayaan Khadijah رضي الله عنها.
Dalam perspektif manajemen modern, Maisarah bukan sekadar pembantu perjalanan. Ia berfungsi sebagai field supervisor, auditor lapangan, sekaligus perwakilan pemilik usaha.
Tugasnya bukan mencari-cari kesalahan, melainkan memastikan bahwa standar integritas tetap terjaga.
Jim Collins dalam buku Good to Great menulis: “The right people are your most important asset.” Orang yang tepat adalah aset terpenting Anda.
Namun menemukan orang yang tepat membutuhkan proses validasi. Reputasi penting, tetapi pengamatan langsung jauh lebih bernilai.
Disinilah peran Maisarah menjadi sangat strategis.
Pengawasan yang Melahirkan Kepercayaan
Selama perjalanan ke Syam, Maisarah menyaksikan langsung bagaimana Muhammad ﷺ berinteraksi dengan pelanggan, mitra bisnis, dan masyarakat yang ditemuinya.
Ia melihat kejujuran, amanah, profesionalitas, dan akhlak yang luar biasa.
Al-Buthy menuliskan: “Selama perjalanan tersebut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran Nabi.”
Pengamatan lapangan ini menghasilkan informasi yang jauh lebih akurat dibanding laporan administratif semata.
Setelah kembali ke Makkah, Maisarah menyampaikan seluruh temuannya kepada Khadijah رضي الله عنها. Ia tidak hanya melaporkan keuntungan yang meningkat, tetapi juga kualitas karakter orang yang menjalankan bisnis tersebut.
Hasilnya sangat luar biasa. Keuntungan perdagangan meningkat berlipat ganda, sementara kepercayaan Khadijah رضي الله عنها kepada Muhammad ﷺ tumbuh semakin kuat.
Inilah pelajaran penting bagi para muslimah masa kini.
Kepercayaan bukan berarti menghilangkan pengawasan. Justru pengawasan yang baik akan memperkuat kepercayaan.
Islam sendiri mengajarkan pentingnya tanggung jawab dan akuntabilitas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi muslimah yang sedang membangun usaha, mengelola komunitas, memimpin organisasi, atau bahkan mengatur keuangan keluarga, pelajaran dari Khadijah رضي الله عنها sangat relevan.
Kebaikan tidak cukup hanya berharap pada karakter individu. Ia perlu diperkuat oleh sistem. Integritas tidak cukup diasumsikan. Ia perlu diverifikasi.
Khadijah رضي الله عنها menunjukkan bahwa kelembutan seorang perempuan tidak menghalangi ketegasan dalam manajemen. Beliau membangun bisnis besar dengan hati yang penuh kepercayaan, namun tetap dilengkapi mekanisme pengawasan yang profesional.Disitulah lahir organisasi yang sehat, bisnis yang berkelanjutan, dan kepercayaan yang kokoh.(im)





