Di era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy), aset terbesar sebuah organisasi bukan lagi gedung, mesin, ataupun modal, melainkan kualitas manusianya.
Organisasi yang mampu bertahan adalah organisasi yang berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin baru, bukan sekadar mempertahankan pemimpin lama.
Dalam ilmu manajemen modern, konsep ini dikenal sebagai Transformational Leadership, yaitu kepemimpinan yang mengubah manusia sehingga mampu melampaui kapasitas dirinya.
Menariknya, konsep tersebut telah lama menjadi ruh sistem tarbiyah (leadership development) dalam tradisi dakwah Islam. Tarbiyah bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi proses membangun karakter, kompetensi, dan komitmen seorang kader agar mampu memikul amanah perjuangan.
Musthafa Masyhur menegaskan,
“Tarbiyyah inilah yang dapat mempersiapkan generasi penerus, pewaris dan pendukung beban, amal, usaha, jihad dan pengorbanan dalam suasana persaudaraan dan kasih sayang.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa tujuan tarbiyah bukan menghasilkan pengikut, melainkan melahirkan penerus kepemimpinan (leadership succession).
Empat Pilar Kepemimpinan Transformasional
Inspirasi (Inspirational Leadership)
Pemimpin transformasional membangkitkan energi dari dalam diri anggotanya. Mereka tidak sekadar memberikan target, tetapi juga menghadirkan makna di balik setiap pekerjaan.
John Adair menulis,
“Leadership is closely connected with inspiration. The leader’s approach and attitude ignite the motivation already present within organizations, teams, and individuals.”
“Kepemimpinan berkaitan erat dengan inspirasi. Pendekatan dan sikap seorang pemimpin membangkitkan motivasi yang sesungguhnya telah ada dalam organisasi, tim, maupun individu.”
Dalam tarbiyah, seorang murabbi menghubungkan aktivitas harian dengan tujuan besar dakwah sehingga pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai rutinitas, melainkan sebagai bagian dari ibadah dan investasi akhirat.
Jim Collins dalam Good to Great mengingatkan,
“Great vision without great people is irrelevant.”
“Visi yang besar tidak berarti apa-apa tanpa manusia yang hebat.”
Keteladanan (Qudwah – Leading by Example)
Inspirasi hanya akan bertahan apabila didukung oleh keteladanan.
Musthafa Masyhur menegaskan,
“Pengaruh keteladanan praktis lebih kuat dan mendalam dalam pengembangan ide dan pemikiran. Sebab keteladanan adalah manifestasi dan penerapan praktis suatu prinsip.”
Pandangan ini sejalan dengan John Adair yang mengatakan,
“Leadership itself is example. A leader must contribute personally to the common task. Thus he leads from the front.”
“Hakikat kepemimpinan adalah keteladanan. Seorang pemimpin harus memberikan kontribusi nyata sehingga ia benar-benar memimpin dari depan.”
Dalam organisasi bisnis maupun politik, budaya kerja tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui perilaku pemimpinnya. Integritas selalu lebih keras berbicara dibanding pidato.
Pembinaan (Takwin – Leadership Development)
Transformasi tidak pernah terjadi secara instan. Karena itu, sistem tarbiyah mengenal tahapan pembentukan kader.
Musthafa Masyhur menjelaskan manhaj Imam Hasan Al-Banna,
“Mempersiapkan anggota-anggota jama’ah secara berangsur-angsur melalui tahap pengenalan (ta’rif), pembentukan (takwin), dan pelaksanaan (tanfidz).”
Pendekatan ini identik dengan konsep leadership pipeline, yaitu proses sistematis menyiapkan calon-calon pemimpin melalui pengalaman bertahap.
Target akhirnya sebagaimana cita-cita Imam Hasan Al-Banna adalah,
“Kami menghendaki Akh Muslim Mujahid yang produktif dan bijak, yang dakwahnya, dengan tenaga dan waktu yang sedikit, membuahkan hasil maksimal.”
Dalam dunia manajemen, proses pembinaan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan keberlanjutan organisasi.
Pemberdayaan (Empowerment)
Pemimpin transformasional tidak membangun ketergantungan, tetapi menciptakan kemandirian.
John Adair memberikan nasihat yang sangat praktis,
“Pass the ball to them. Make them feel needed. Give them opportunities to score goals.”
“Operkan bola kepada mereka. Buat mereka merasa dibutuhkan. Berikan kesempatan kepada mereka untuk mencetak gol.”
Musthafa Masyhur juga mendorong agar pimpinan memberikan keleluasaan kepada struktur di bawahnya untuk memilih cara terbaik dalam menjalankan tugas. Inilah esensi empowerment, yaitu memberikan kepercayaan sekaligus tanggung jawab.
Jack Welch, mantan CEO General Electric, mengatakan,
“Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others.”
“Sebelum menjadi pemimpin, keberhasilan adalah tentang mengembangkan diri sendiri. Setelah menjadi pemimpin, keberhasilan adalah tentang mengembangkan orang lain.”
Murabbi: Pemimpin dengan Empat Peran
Keunikan sistem tarbiyah terletak pada sosok murabbi, yang memadukan empat fungsi sekaligus.
Sebagai Leader (Qiyadah – Strategic Leader), ia memberikan arah dan menjaga visi organisasi.
Sebagai Coach, ia membimbing kader meningkatkan keterampilan dan performa. John Adair mendefinisikan coaching sebagai proses “clarifying, guiding, teaching, and encouraging participants in an enterprise to perform effectively and with zeal and confidence.” Artinya, pelatih membantu orang bekerja secara efektif dengan semangat dan rasa percaya diri.
Sebagai Mentor, murabbi mentransfer pengalaman hidup, bukan hanya teori. Sebagaimana ditegaskan John Adair, kepemimpinan akan lebih efektif diajarkan oleh mereka yang benar-benar pernah mempraktikkannya.
Sebagai Educator, murabbi membangun tsaqafah (intellectual development) dan membentuk kepribadian Islam agar tumbuh di atas jalan istiqamah (consistency and integrity).
Penutup
Transformational Leadership dalam tarbiyah bertujuan membangkitkan potensi terbaik setiap insan. Tugas pemimpin bukan menciptakan kehebatan dari nol, tetapi menemukan, mengembangkan, dan mengarahkan potensi yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia.
Sebagaimana diungkapkan John Adair,
“The task of leadership is not to put greatness into humanity, but to elicit it, because the greatness is already there.”
“Tugas pemimpin bukan menanamkan kehebatan ke dalam diri manusia, melainkan memunculkannya, karena potensi itu sesungguhnya telah ada.”
Melalui inspirasi, keteladanan, pembinaan, dan pemberdayaan, sistem tarbiyah akan terus melahirkan pemimpin yang profesional, berintegritas, mampu mengembangkan organisasi, serta siap memikul amanah dakwah, bisnis, maupun kepemimpinan publik secara berkelanjutan. (im)





