Ketika Keputusan Ternyata Salah: Integritas Seorang Pemimpin Diuji

by -1487 Views

Tidak ada pemimpin yang selalu benar. Dalam dunia bisnis, pemerintahan, maupun organisasi, kualitas seorang pemimpin justru tidak diukur dari seberapa jarang ia melakukan kesalahan, melainkan dari bagaimana ia merespons ketika keputusan yang diambil terbukti keliru. 

Disinilah leadership integrity (integritas kepemimpinan) dan intellectual leadership (kepemimpinan intelektual) benar-benar diuji.

John Adair dalam Effective Strategic Leadership mengingatkan bahwa pemimpin besar tidak pernah lari dari tanggung jawab. 

Ia menulis, “A good leader accepts personal responsibility for failure.” (Pemimpin yang baik menerima tanggung jawab pribadi atas kegagalan.) Sikap inilah yang membedakan seorang pemimpin sejati dari sekadar pemegang jabatan.

Keberanian Mengakui Kesalahan

Langkah pertama ketika keputusan terbukti salah adalah mengakuinya secara jujur. Mengakui kesalahan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan seorang pemimpin.

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyadah wal Jundiyah menegaskan bahwa seorang pemimpin harus berani mengakui kekeliruan apabila memang terbukti salah. Sikap ini melahirkan budaya organisasi yang sehat, di mana setiap orang lebih mengutamakan kebenaran daripada mempertahankan ego.

Dalam perspektif Islam, sikap ini sejalan dengan nilai tawadhu‘ (humility) atau kerendahan hati. Pemimpin tidak merasa dirinya selalu paling benar, tetapi siap menerima masukan dan memperbaiki arah ketika diperlukan.

Sebaliknya, budaya mempertahankan keputusan hanya demi menjaga gengsi justru menjadi awal kemunduran organisasi.

Bertanggung Jawab, Bukan Mencari Kambing Hitam

Ketika sebuah strategi gagal, godaan terbesar adalah menyalahkan keadaan, bawahan, atau pihak lain. Padahal pemimpin justru harus menjadi orang pertama yang memikul tanggung jawab.

John Adair memberikan contoh Jenderal Dwight D. Eisenhower yang telah menyiapkan surat pernyataan sebelum pendaratan Normandia. Surat itu berbunyi bahwa apabila operasi gagal, seluruh tanggung jawab berada pada dirinya. 

Sebaliknya, Adair mengkritik pemimpin seperti Adolf Hitler yang hampir selalu menyalahkan bawahannya ketika strategi militernya gagal.

Peter Drucker juga pernah mengatakan, “Management is doing things right; leadership is doing the right things.” (Manajemen adalah melakukan sesuatu dengan benar; kepemimpinan adalah melakukan hal yang benar.) 

Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, seorang pemimpin tidak kehilangan keberanian untuk tetap melakukan hal yang benar, yaitu bertanggung jawab.

Menyuling Pengalaman Menjadi Kebijaksanaan

Kesalahan yang tidak dipelajari hanyalah kerugian. Namun kesalahan yang dievaluasi dapat menjadi investasi pengetahuan.

John Adair menjelaskan bahwa seluruh pengalaman akan memperkaya Depth Mind (pikiran bawah sadar strategis), sehingga pada keputusan berikutnya seseorang memiliki educated intuition (intuisi yang terdidik). 

Sejalan dengan itu, Harold Koontz dalam Management menulis, “Experience has to be analyzed before it becomes useful.” (Pengalaman harus dianalisis terlebih dahulu sebelum menjadi sesuatu yang bermanfaat.)

Setiap kegagalan perlu melalui proses after action review (evaluasi pasca pelaksanaan): apa yang berhasil, apa yang gagal, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana memperbaikinya.

Berani Mengubah Arah

Pemimpin yang baik tidak terjebak pada escalation of commitment, yaitu kecenderungan mempertahankan keputusan yang sudah jelas keliru hanya karena telah mengeluarkan banyak waktu, biaya, atau reputasi.

John Adair mengingatkan bahwa bukanlah sebuah kesalahan untuk berbalik arah ketika berada di jalan yang salah. Dalam dunia bisnis, kemampuan menghentikan proyek yang tidak lagi layak sering kali lebih berharga daripada memaksanya terus berjalan.

Dalam tradisi kepemimpinan Islam, setelah proses syura (consultative decision making) dilakukan dan keputusan diambil, pemimpin memang dituntut memiliki ‘azm (determination) serta tawakkal (trust in Allah). 

Namun apabila fakta baru menunjukkan adanya kekeliruan, keberanian melakukan koreksi juga merupakan bagian dari amanah kepemimpinan.

Pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukanlah kesempurnaan, melainkan kemampuan belajar lebih cepat daripada perubahan yang dihadapinya. 

Seperti dikatakan John C. Maxwell, “Sometimes you win, sometimes you learn.” (Terkadang Anda menang, terkadang Anda belajar.) Pemimpin yang terus belajar akan mengubah setiap kesalahan menjadi modal untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik di masa depan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.