LEAD TO WIN: Antara Pertolongan Allah, Ikhtiar, Strategi, dan Manajemen Perjuangan

by -1491 Views

Politik adalah dunia yang penuh dengan segala kemungkinan. Politics is the art of the possible.

Hari ini seseorang dielu-elukan, besok bisa dilupakan. Sebuah partai yang sedang kuat dapat kehilangan pengaruh. Kandidat yang diprediksi menang dapat mengalami kekalahan. Sebaliknya, mereka yang semula dianggap tidak memiliki peluang justru dapat tampil sebagai pemenang.

Ditengah dinamika seperti itu, seorang pemimpin membutuhkan sesuatu yang lebih kokoh daripada popularitas, survei, jaringan, atau kekuatan finansial.

Ia membutuhkan jangkar (anchor)!.

Jangkar itu adalah keyakinan tentang siapa dirinya, apa tujuan perjuangannya, bagaimana ia harus berjuang, dan kepada siapa akhirnya seluruh hasil perjuangan dikembalikan.

Buku ini, LEAD TO WIN: Leadership, Strategy, and the Art of Political Victory, lahir dari kegelisahan terhadap cara kita memahami kemenangan.

Dalam politik, kemenangan sering kali disederhanakan menjadi satu angka: jumlah suara. Padahal, suara hanyalah salah satu indikator.

Di balik sebuah kemenangan elektoral terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apa yang kita perjuangkan? Mengapa kita ingin menang? Bagaimana kita memenangkan kontestasi itu? Apa yang kita lakukan setelah menang? Dan yang paling penting: Apakah cara kita menang sesuai dengan nilai yang kita perjuangkan?

Karena bisa saja seseorang memenangkan pemilu tetapi kehilangan integritas.Bisa saja sebuah organisasi memperoleh banyak kursi tetapi kehilangan karakter. Bisa saja seorang pemimpin memperoleh kekuasaan tetapi kehilangan tujuan.

Sebaliknya, seseorang dapat mengalami kekalahan elektoral tetapi berhasil membangun organisasi, melahirkan kader, memperkuat kepercayaan masyarakat, dan meletakkan fondasi bagi kemenangan yang lebih besar di masa depan.

Karena itu, sejak awal saya ingin menegaskan satu premis: Allah menentukan hasil kemenangan, tetapi manusia bertanggung jawab atas kualitas ikhtiar, kepemimpinan, strategi, dan eksekusinya.

Premis inilah yang menjadi jangkar buku ini.

Dua Ekstremitas dalam Perjuangan

Dalam perjalanan politik dan organisasi, saya melihat setidaknya dua kecenderungan ekstrem yang sama-sama berbahaya. Pertama adalah spiritualisme (ruhiyah) yang meremehkan  ikhtiar. Dan kedua adalah manajerialisme tanpa iman.

Keduanya tampak bertolak belakang, tetapi sebenarnya memiliki kelemahan yang sama: mereka melihat realitas secara tidak utuh.

Spiritualisme yang meremehkan ikhtiar muncul ketika seseorang merasa bahwa iman dan doa sudah cukup untuk menjamin keberhasilan. Tentu saja, doa itu perkara penting. Begitupula tawakal hal yang penting. Bahkan, kita meyakini, keimanan adalah fondasi. Tetapi semuanya tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan ilmu, data, strategi, organisasi, sumber daya, komunikasi, dan eksekusi.

Seorang pemimpin tidak dapat mengatakan bahwa ia bertawakal kepada Allah sementara ia tidak mempersiapkan organisasi dengan baik. Ia tidak dapat berbicara tentang tawakal tetapi mengabaikan data. Ia tidak dapat berharap memperoleh hasil maksimal sementara ia tidak melakukan evaluasi.

Allah memang menentukan hasil, tetapi manusia diperintahkan untuk mengambil sebab. Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfāl: 60)

Ayat ini mengandung prinsip yang sangat penting: persiapan adalah bagian dari ikhtiar. Keimanan tidak menghapus kebutuhan akan persiapan. Sebaliknya, keimanan seharusnya membuat kita semakin serius mempersiapkan diri.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People memberikan analogi yang sangat relevan: “Pertanian adalah sistem alami. Harga harus dibayar dan proses diikuti. Anda selalu menuai apa yang Anda tabur; tidak ada jalan pintas.”

Prinsip tersebut berlaku pula dalam organisasi dan politik. Tidak ada organisasi yang tiba-tiba menjadi kuat. Tidak ada kader yang tiba-tiba matang. Tidak ada kepercayaan publik yang muncul tanpa proses. Tidak ada kemenangan yang lahir tanpa sebab-sebab yang mendahuluinya. Karena itu, niat baik harus disertai kompetensi.

Rumelt mengingatkan: “Hanya menjadi ambisius bukanlah sebuah strategi.” Semangat adalah energi. Tetapi strategi adalah arah penggunaan energi tersebut.

Manajerialisme Tanpa Iman

Kutub kedua tidak kalah berbahaya. Ini adalah keyakinan bahwa kemenangan sepenuhnya dapat dijelaskan oleh uang, teknologi, jaringan, popularitas, data, komunikasi, dan kecanggihan mesin politik.

Dalam paradigma ini, manusia dianggap sebagai objek yang dapat dihitung, dipetakan, dipengaruhi, dan diarahkan.

Strategi menjadi sangat teknokratis. Semua dihitung, diukur dan dioptimalkan. Tetapi ada satu hal yang berpotensi hilang: makna.

Apa tujuan dari semua itu? Untuk apa kekuasaan diperoleh? Apa yang terjadi setelah kemenangan? Apakah masyarakat benar-benar menjadi lebih baik? Apakah pemimpin semakin amanah? Apakah organisasi semakin berintegritas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan dashboard, survei, atau big data.

Covey menyebut adanya perbedaan antara kehebatan sekunder dan kehebatan primer. Ia memperingatkan: “Banyak orang dengan kehebatan sekunder—yaitu, pengakuan sosial atas bakat mereka—tidak memiliki kehebatan atau kebaikan utama dalam karakter mereka.”

Seseorang dapat memperoleh jabatan, menjadi terkenal, memiliki banyak pengikut (followers), dan memenangkan kontestasi. Tetapi semua itu belum tentu menunjukkan kualitas karakter.

Inilah mengapa buku ini tidak menempatkan winning sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Kita harus belajar membedakan antara: menang sekedar menang dan menang secara bermakna.

Jalan Tengah: Arsitektur Kemenangan Bermakna

LEAD TO WIN mencoba mempertemukan dua dunia yang sering dipisahkan: spiritualitas (ruhiyah) dan profesionalisme. 

Sebenarnya, kita tidak harus memilih antara iman dan strategi, antara tawakal dan data, antara idealisme dan manajemen. Justru seorang pemimpin Muslim membutuhkan semuanya.

Kerangka berpikir buku ini dapat diringkas sebagai berikut: Iman memberikan orientasi.
Visi menentukan arah. Ilmu membaca realitas. Strategi menentukan pilihan. Kepemimpinan menggerakkan manusia. Manajemen mengelola sumber daya. Eksekusi mengubah strategi menjadi hasil. Tawakal menjaga hati setelah ikhtiar maksimal.

Itulah arsitektur kemenangan bermakna.

Setiap unsur memiliki fungsi. Iman tanpa ilmu dapat melahirkan kesalahan. Ilmu tanpa nilai dapat melahirkan manipulasi. Visi tanpa strategi menjadi slogan. Strategi tanpa kepemimpinan menjadi dokumen. Kepemimpinan tanpa manajemen menjadi kekacauan. Manajemen tanpa eksekusi menjadi administrasi. Dan ikhtiar tanpa tawakal dapat membuat manusia merasa seolah-olah hasil sepenuhnya berada di tangannya.

Karena itu, semua unsur harus ditempatkan dalam hubungan yang benar. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.