The Leader’s First Question: Untuk Apa Kita Ingin Menang?

by -1516 Views

Sejak awal mengajak kita membedakan antara menang dan kemenangan yang bermakna. Kita telah melihat bahwa orang beriman tidak otomatis menang dalam kontestasi duniawi, bahwa orang baik dapat kalah. Kemenangan tidak selalu identik dengan perolehan suara, dan bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir.

Maka, sampailah kita pada pertanyaan yang paling mendasar: Untuk apa kita ingin menang?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan salah satu pertanyaan paling sulit yang harus dijawab seorang pemimpin.

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan apa yang kita perjuangkan, bagaimana kita menyusun strategi, siapa yang kita pilih untuk bekerja bersama, sumber daya apa yang kita gunakan, batas apa yang tidak boleh kita langgar, dan pada akhirnya menjadi pemimpin seperti apa kita kelak.

Pemimpin yang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ini akan mudah menjadi tawanan keadaan. Ia akan mengikuti survei, mengejar popularitas, menyesuaikan diri dengan tekanan, dan mengubah prinsip ketika situasi berubah.

Sebaliknya, pemimpin yang mengetahui untuk apa ia menang akan memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar strategi: arah.

Pertanyaan yang Salah: “Bagaimana Kita Menang?”

Dalam dunia politik, pertanyaan “Bagaimana kita menang?” sangat lazim terdengar.

Berapa target suara kita? Siapa calon lawan? Bagaimana memenangkan wilayah tertentu?
Berapa banyak relawan yang diperlukan? Bagaimana meningkatkan popularitas? Media apa yang harus digunakan? Berapa anggaran yang tersedia?

Semua pertanyaan tersebut penting. Bahkan, seorang pemimpin yang mengabaikannya akan sulit memenangkan sebuah kontestasi. Tetapi ada persoalan yang lebih mendasar: semua pertanyaan itu berbicara tentang cara, bukan alasan.

Richard Rumelt dalam Good Strategy/Bad Strategy mengingatkan bahwa “Strategi tidak akan menjadi konsep yang berguna jika ia hanya menjadi sinonim bagi keberhasilan.” Ia juga menegaskan bahwa “Ambisi adalah dorongan dan semangat untuk unggul,” tetapi ambisi saja bukanlah strategi.

Ini merupakan peringatan penting bagi dunia politik.

Keinginan untuk menang tidak sama dengan kemampuan untuk merumuskan strategi. Bahkan, keinginan yang sangat kuat untuk menang dapat menjadi berbahaya apabila tidak diarahkan oleh tujuan yang benar.

Karena itu, seorang pemimpin sebaiknya tidak langsung memulai dengan pertanyaan: “Bagaimana kita menang?” Ia harus berhenti sejenak dan bertanya: “Apa sebenarnya yang ingin kita menangkan?” Dan lebih jauh lagi: “Mengapa kemenangan itu penting?”

Pertanyaan yang Lebih Baik: “Apa yang Ingin Kita Capai?”

Inilah pergeseran pertama dari ambisi menuju kepemimpinan.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menempatkan prinsip Begin with the End in Mind sebagai salah satu fondasi kepemimpinan. Ia menulis: “Mulailah dengan Akhir dalam Pikiran.”

Covey kemudian menjelaskan bahwa “Kepemimpinan berkaitan dengan garis atas: Apa hal-hal yang ingin saya capai?”

Pertanyaan ini sangat relevan dalam politik. Seseorang mungkin ingin menjadi anggota legislatif. Tetapi menjadi anggota legislatif bukanlah tujuan akhir. Kursi hanyalah instrumen.

Seseorang mungkin ingin menjadi kepala daerah. Tetapi jabatan kepala daerah juga bukan tujuan akhir. Jabatan adalah instrumen.

Partai mungkin ingin memperoleh jumlah kursi yang lebih besar. Tetapi jumlah kursi pun seharusnya bukan tujuan akhir. Ia adalah instrumen untuk memengaruhi kebijakan publik.

Dengan demikian, kita perlu membedakan antara outcome dan purpose.

Mendapatkan kursi adalah outcome. Mendapatkan jabatan adalah outcome. Memenangkan pemilu adalah outcome. Tetapi apa yang hendak dilakukan dengan kemenangan tersebut adalah pertanyaan tentang purpose. Disinilah kepemimpinan mulai berbeda dari sekadar ambisi politik.

Covey menyatakan: “Manajemen adalah melakukan sesuatu dengan benar; kepemimpinan adalah melakukan hal yang benar.”

Politik membutuhkan keduanya. Kita harus mampu melakukan sesuatu dengan benar, tetapi terlebih dahulu harus memastikan bahwa sesuatu yang kita lakukan memang benar untuk dilakukan.

Pertanyaan yang Lebih Dalam: “Mengapa Kita Harus Mencapainya?”

Setelah mengetahui apa yang ingin dicapai, seorang pemimpin harus bertanya mengapa. Mengapa kita membutuhkan kemenangan? Mengapa jabatan itu penting? Mengapa organisasi harus berkembang? Mengapa kita harus memperoleh kekuasaan politik?

Pertanyaan why membawa kita dari wilayah teknis menuju wilayah makna.

Seseorang dapat bekerja sangat keras untuk memenangkan pemilu, tetapi jika ia tidak mengetahui mengapa kemenangan tersebut penting, maka seluruh perjuangannya akan mudah kehilangan energi ketika menghadapi kegagalan. Sebaliknya, orang yang memiliki alasan yang kuat akan memiliki daya tahan yang lebih besar.

Covey, ketika membahas pemikiran Viktor Frankl, menunjukkan pentingnya makna dalam kehidupan manusia. Tanpa makna, manusia dapat mengalami “perasaan tidak berarti atau kekosongan yang mendasarinya.”

Dalam politik, kekosongan makna dapat melahirkan pragmatisme.

Ketika satu-satunya alasan untuk menang adalah agar saya berkuasa, maka setelah kekuasaan diperoleh, pertanyaan berikutnya menjadi: bagaimana mempertahankan kekuasaan?

Akhirnya, seluruh energi politik digunakan untuk mempertahankan posisi. Disinilah kemenangan dapat berubah menjadi perangkap.

Pertanyaan yang Paling Penting: “Untuk Siapa Kemenangan Ini?”

Menurut saya, inilah pertanyaan yang paling jujur sekaligus paling sulit. Untuk siapa kita ingin menang? Apakah untuk diri sendiri? Untuk keluarga? Untuk kelompok? Untuk organisasi? Untuk partai? Untuk masyarakat? Untuk umat? Atau untuk mencari ridha Allah SWT?

Pertanyaan ini penting karena manusia sangat mudah menyamarkan kepentingan pribadi dengan bahasa yang terdengar luhur.

Ambisi pribadi dapat disebut perjuangan. Keinginan mempertahankan jabatan dapat disebut stabilitas. Kepentingan kelompok dapat disebut kepentingan umat. Karena itu, seorang pemimpin membutuhkan keberanian untuk melakukan self-audit.

Covey memperingatkan tentang apa yang disebutnya sebagai secondary greatness, yaitu pengakuan sosial atas kemampuan atau pencapaian seseorang. Ia menyatakan: “Banyak orang dengan kehebatan sekunder—yaitu, pengakuan sosial atas bakat mereka—tidak memiliki kehebatan atau kebaikan utama dalam karakter mereka.”

Inilah bahaya ketika pencapaian eksternal tidak diikuti kualitas internal.

Seorang politisi dapat memiliki jabatan tinggi tetapi kehilangan integritas. Sebuah organisasi dapat memiliki banyak kursi tetapi kehilangan orientasi. Sebuah partai dapat memenangkan pemilu tetapi gagal menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, kemenangan harus selalu dikembalikan kepada pertanyaan tentang siapa yang dilayani oleh kemenangan tersebut.

Dalam perspektif kepemimpinan Islam, kekuasaan bukan milik pribadi. Ia adalah amanah. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisā’: 58)

Ayat ini memberi kerangka yang sangat kuat: amanah dan keadilan.

Dengan demikian, kemenangan politik yang benar bukanlah kemenangan untuk memperbesar ego pemimpin, melainkan kemenangan yang memungkinkan amanah ditunaikan dengan lebih baik.

Purpose Determines Strategy

Tujuan menentukan strategi. Ini bukan sekadar ungkapan manajemen. Ia adalah hukum logis dalam setiap perjuangan. Jika tujuan kita hanya memenangkan pemilu, maka strategi dapat berhenti pada hari pengumuman hasil.

Tetapi jika tujuan kita adalah membangun organisasi politik yang sehat, maka strategi harus mencakup kaderisasi, pembangunan sistem, pengembangan manusia, komunikasi, dan keberlanjutan organisasi.

Jika tujuan kita adalah menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, maka strategi harus berbicara tentang kebijakan, kompetensi pemerintahan, anggaran, pengawasan, dan pengukuran hasil.

Jika tujuan kita adalah membangun masyarakat yang lebih adil dan bermartabat, maka horizon strateginya jauh lebih panjang.

Rumelt mendefinisikan strategi yang baik sebagai: “Seperangkat analisis, konsep, kebijakan, argumen, dan tindakan yang koheren yang merespons tantangan berisiko tinggi.”

Kata yang penting di sini adalah koheren

Strategi harus sesuai dengan tujuan. Tidak mungkin kita berbicara tentang pembangunan karakter tetapi membangun organisasi melalui manipulasi. Tidak mungkin kita menginginkan pemerintahan yang bersih tetapi membenarkan praktik politik yang merusak integritas sejak awal.

Purpose menentukan ke mana kita pergi; strategi menentukan bagaimana kita sampai ke sana. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.