Allah Menolong, Manusia Mengambil Sebab

by -1516 Views

Setelah Bab 1 membawa kita pada pertanyaan tentang makna kemenangan, pada Bab 2 ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih praktis sekaligus fundamental: Bagaimana seorang Muslim harus berikhtiar untuk meraih kemenangan?

Pertanyaan ini penting karena dalam kehidupan perjuangan sering muncul dua kecenderungan yang sama-sama tidak sehat.

Di satu sisi, ada spiritualisme meremehkan ikhtiar. Seseorang merasa bahwa iman, doa, dan tawakal sudah cukup, sementara persiapan, kompetensi, data, organisasi, strategi, komunikasi, dan disiplin eksekusi dianggap sebagai persoalan sekunder. Seolah-olah kesungguhan spiritual dapat menggantikan hukum sebab-akibat.

Disisi lain, ada manajerialisme mengabaikan iman. Kemenangan dipandang semata-mata sebagai hasil dari uang, teknologi, jaringan, popularitas, komunikasi politik, big data, dan kecanggihan strategi. Allah hampir tidak lagi hadir dalam kalkulasi perjuangan.

LEAD TO WIN menolak kedua ekstrem tersebut.

Seorang pemimpin Muslim tidak diperintahkan memilih antara doa dan strategi, antara tawakal dan manajemen, atau antara iman dan data. Ia diperintahkan untuk menempatkan semuanya pada posisi yang benar.

Allah menentukan hasil. Manusia bertanggung jawab mengambil sebab. Inilah salah satu fondasi penting dalam memahami sunnatullah.

Stephen R. Covey, dalam The 7 Habits of Highly Effective People, menggunakan hukum pertanian sebagai analogi efektivitas manusia: “Pertanian adalah sistem alami. Harga harus dibayar dan proses diikuti. Anda selalu menuai apa yang Anda tabur; tidak ada jalan pintas.”

Pesannya sangat relevan bagi kepemimpinan politik. Tidak ada organisasi yang tiba-tiba menjadi kuat tanpa proses kaderisasi. Tidak ada kaderisasi yang matang tanpa pembinaan (tarbiyah). Tidak ada kepercayaan publik tanpa konsistensi. Tidak ada strategi yang efektif tanpa diagnosis. Dan tidak ada eksekusi yang baik tanpa disiplin.

Dengan demikian, tawakal bukanlah pengingkaran terhadap sebab. Sebaliknya, tawakal adalah sikap hati setelah seorang manusia menunaikan kewajiban ikhtiarnya dengan sebaik-baiknya.


Faith Gives Direction

Setiap perjalanan membutuhkan arah.

Seorang pemimpin dapat memiliki energi yang luar biasa, sumber daya yang besar, tim yang solid, bahkan strategi yang canggih. Tetapi jika ia tidak mengetahui ke mana harus pergi, semua keunggulan tersebut justru dapat mempercepat kesalahan.

Disinilah iman memainkan fungsi pertamanya: memberikan orientasi. Iman menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh manajemen semata: Untuk apa kita bergerak? Untuk siapa kita bekerja? Nilai apa yang tidak boleh kita korbankan? Dan kepada siapa seluruh usaha ini akhirnya dipertanggungjawabkan?

Stephen R. Covey menyebut prinsip ini sebagai Begin with the End in Mind—“Mulailah dengan Akhir dalam Pikiran.” Ia memberikan ilustrasi yang sangat terkenal: “Jika tangga tidak bersandar pada dinding yang benar, setiap langkah yang kita ambil hanya akan membawa kita ke tempat yang salah lebih cepat.”

Ini adalah peringatan penting bagi pemimpin politik. 

Kesibukan tidak sama dengan kemajuan. Banyak aktivitas tidak selalu berarti banyak pencapaian. Banyak rapat tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik. Banyak konten tidak otomatis menghasilkan kepercayaan. Banyak program tidak otomatis menghasilkan perubahan.

Bahkan sebuah organisasi dapat bekerja sangat keras menuju arah yang keliru.

Karena itu, sebelum bertanya: Bagaimana kita menang? pemimpin harus bertanya: Kemenangan seperti apa yang layak kita perjuangkan?

Dan sebelum bertanya: Apa yang harus kita lakukan? ia harus memastikan: Apakah yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan nilai dan tujuan yang kita yakini?

Iman berfungsi seperti kompas. Strategi kemudian berfungsi seperti peta.

Kompas tanpa peta mungkin membuat kita tahu arah tetapi kesulitan menentukan rute. Peta tanpa kompas dapat membuat kita sangat efisien menempuh jalan yang salah.

Pemimpin yang matang membutuhkan keduanya.

Preparation Builds Capability

Kemenangan membutuhkan kesiapan.

Niat baik harus ditopang kemampuan. Semangat harus didukung kompetensi. Visi harus memiliki organisasi yang mampu menerjemahkannya menjadi tindakan.

Inilah alasan mengapa persiapan bukan aktivitas tambahan dalam perjuangan. Persiapan adalah bagian dari perjuangan itu sendiri.

Stephen R. Covey memperkenalkan konsep Production (P) dan Production Capability (PC). Hasil yang diinginkan adalah Production, sementara kemampuan menghasilkan hasil tersebut adalah Production Capability.

Ia menegaskan: “Efektivitas terletak pada keseimbangan… Saldo P/PC (Production/Production Capability) adalah inti dari efektivitas.”

Dalam politik, P dapat berupa kemenangan elektoral, perolehan kursi, keberhasilan program, atau peningkatan dukungan masyarakat.

Sementara PC mencakup: kualitas kader; sistem organisasi; kepemimpinan; data; kemampuan komunikasi; jaringan; budaya kerja; sistem pengambilan keputusan; disiplin; kemampuan belajar; dan kemampuan regenerasi.

Masalah sering muncul ketika organisasi terlalu terobsesi pada P dan melupakan PC.

Demi mengejar kemenangan hari ini, organisasi menghabiskan seluruh energinya untuk mobilisasi. Kader tidak dibina. Sistem tidak diperbaiki. Data tidak dirawat. Pemimpin baru tidak dipersiapkan.

Akibatnya, organisasi mungkin menang hari ini tetapi kehilangan kemampuan untuk menang besok. Inilah yang dalam kerangka LEAD TO WIN disebut sebagai kemenangan yang tidak sustainable.

Pemimpin strategis tidak hanya bertanya: “Berapa banyak yang kita dapatkan?” Ia juga bertanya: “Apakah kita menjadi lebih mampu menghasilkan kemenangan berikutnya?”

Karena organisasi yang kuat bukan organisasi yang sekali menang, tetapi organisasi yang memiliki kapasitas untuk terus belajar, beradaptasi, dan menghasilkan nilai.

Winning by Sunnatullah

Pada akhirnya, sunnatullah mengajarkan kepada kita sebuah kedewasaan dalam berpikir. Pertolongan Allah tidak berarti manusia boleh meninggalkan sebab. Dan penggunaan sebab tidak berarti manusia boleh melupakan Allah.

Seorang pemimpin yang memahami sunnatullah akan bekerja dengan dua kesadaran sekaligus: kesadaran bahwa ia wajib berikhtiar sebaik mungkin, dan kesadaran bahwa hasil akhirnya tetap berada di luar kendalinya.

Karena itu, ia tidak malas ketika berdoa. Ia tidak sombong ketika menang. Ia tidak putus asa ketika kalah. Ia tidak menyalahkan takdir ketika gagal. Ia juga tidak menyembah strategi ketika berhasil.

Ia selalu mengambil pelajaran. Ia memperbaiki sistem. Ia meningkatkan kompetensi. Ia membangun manusia. Ia menyempurnakan strategi. Ia memperkuat organisasi. Kemudian ia menyerahkan hasil kepada Allah.

Inilah strategic humility: kerendahan hati seorang pemimpin yang memahami bahwa ikhtiar adalah kewajibannya, sedangkan hasil adalah wilayah Allah.

Dan dari sinilah kita memasuki wilayah berikutnya dalam LEAD TO WIN: jika kemenangan menuntut pengambilan sebab, maka pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting— Seberapa besar kualitas sebab yang telah kita siapkan? Sebab, niat yang baik membutuhkan kapabilitas yang baik.

Dan disitulah perjalanan menuju bab berikutnya dimulai. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.