Realistis Bukan Berarti Oportunis

by -1212 Views

Salah satu kesalahan paling umum dalam politik adalah mencampuradukkan realisme, pragmatisme, dan oportunisme. Ketika seorang pemimpin memperhitungkan fakta lapangan, ia bisa dituduh pragmatis. Sebaliknya, ketika seorang politisi melakukan transaksi kekuasaan demi kepentingan pribadi, ia dapat berlindung di balik kalimat, “Kita harus realistis.”

Pencampuradukan ini berbahaya. Realistis tidak sama dengan pragmatis, dan pragmatis tidak harus berarti oportunis. Seorang idealis tidak dituntut menjadi utopis yang menutup mata terhadap kenyataan. Namun, ia juga tidak boleh menjadikan kenyataan sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara.

David Butcher dan Martin Clarke mengingatkan pentingnya membedakan politik yang melayani tujuan organisasi dan kepentingan publik dari politik yang didorong keuntungan pribadi. Dengan demikian, penilaian terhadap sebuah keputusan politik tidak cukup hanya melihat hasilnya, tetapi juga harus memperhatikan motif, batas etika, dan pihak yang menerima manfaatnya.

Realisme: Membaca Kenyataan

Realisme adalah keberanian melihat kenyataan politik sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita harapkan. Ia menuntut kemampuan membaca data, konstelasi kekuasaan, kekuatan dan kelemahan aktor, sumber daya, hukum, budaya, serta kemungkinan yang benar-benar tersedia.

Dalam tradisi Islam, semangat ini dapat dikaitkan dengan fiqh al-wāqi‘, fiqh al-muwāzanāt, dan fiqh al-awlawiyyāt: memahami realitas, menimbang maslahat dan mudarat, serta menentukan prioritas. Yusuf al-Qaradawi menempatkan pemahaman realitas, maqashid, pertimbangan maslahat-mudharat, dan prioritas sebagai bagian penting dalam siyasah syar’iyyah.

Namun, realisme harus ditempatkan secara tepat. Realisme adalah alat untuk membaca kenyataan, bukan kompas untuk menentukan benar dan salah. Mengetahui bahwa politik penuh kepentingan tidak berarti kita harus menjadi bagian dari permainan yang tidak etis.

Pragmatisme: Mencari yang Dapat Dikerjakan

Pragmatisme berorientasi pada hasil yang dapat dicapai. Dalam politik, tidak semua yang ideal dapat diwujudkan sekaligus. Karena itu, pemimpin harus mampu menentukan prioritas, memperhitungkan sumber daya, dan memilih pilihan terbaik yang masih mungkin diwujudkan.

Dalam konteks ini, maka pragmatisme memiliki fungsi positif. Ia membantu mengubah gagasan menjadi tindakan dan visi menjadi hasil yang dapat dirasakan.

Namun, pragmatisme membutuhkan pagar moral. Jika ukuran keberhasilan hanya “berhasil atau tidak”, tindakan yang salah secara etis dapat dibenarkan selama menghasilkan keuntungan. Karena itu, buku ini menawarkan pragmatisme berprinsip (principled pragmatism): mencari jalan yang paling mungkin ditempuh tanpa melewati batas prinsip, hukum, etika, dan kepentingan publik.

Oportunisme: Ketika Kepentingan Mengalahkan Prinsip

Oportunisme berbeda dari realisme. Realisme membaca peluang untuk menentukan strategi; oportunisme mengeksploitasi peluang demi kepentingan diri atau kelompok.

Seorang pemimpin realistis dapat mengubah strategi karena situasi berubah. Seorang oportunis mengubah sikap karena kepentingannya berubah. Seorang realistis dapat bernegosiasi dengan pihak berbeda demi tujuan publik, sedangkan oportunis dapat berpindah posisi demi jabatan atau keuntungan.

F. Christopher Arterton mengingatkan pentingnya perilaku politik yang berprinsip serta bahaya tindakan yang melemahkan institusi demokrasi demi tujuan politik jangka pendek. Dalam politik, kepercayaan merupakan aset strategis. Sekali reputasi sebagai aktor yang tidak dapat dipercaya terbentuk, efektivitas politik pun dapat menurun.

Oportunisme bukanlah realisme yang lebih canggih. Ia adalah realisme yang kehilangan kompas moral.

Empat Uji Keputusan Politik

Batas antara pragmatisme berprinsip dan oportunisme dapat diuji melalui empat hal.

  1. Pertama, uji prinsip. Keputusan tidak boleh melanggar nilai dasar, batas etika, hukum yang definitif, atau prinsip keadilan, sekalipun menjanjikan keuntungan politik.
  2. Kedua, uji realitas. Keputusan harus didasarkan pada data, pemetaan kekuatan, sumber daya, dan kondisi nyata, bukan sekadar asumsi atau keinginan.
  3. Ketiga, uji manfaat publik. Manfaat utama harus diarahkan kepada masyarakat luas dan kepentingan publik, bukan sekadar kepada elite, kelompok internal, atau pemegang kekuasaan.
  4. Keempat, uji keberlanjutan. Keputusan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kepercayaan, kredibilitas, dan keberlanjutan perjuangan dalam jangka panjang.

Keempat pengujian tersebut membantu memastikan bahwa fleksibilitas strategi tidak berubah menjadi fleksibilitas prinsip.

Realistis Tanpa Kehilangan Arah

Seorang idealis yang taktis harus mampu menapak bumi tanpa kehilangan kompas. Ia membaca realitas dengan tajam, memilih cara yang paling mungkin, tetapi tetap mengetahui batas yang tidak boleh dilewati.

Realisme membaca kenyataan. Pragmatisme mencari jalan yang dapat dikerjakan. Prinsip menentukan batas yang tidak boleh dilanggar. Kepemimpinan memastikan semuanya diarahkan kepada tujuan yang benar.

Di sinilah garis demarkasi antara idealis yang taktis dan oportunis politik menjadi jelas. Idealis yang taktis bersedia mengubah cara untuk menyelamatkan tujuan. Oportunis mengubah prinsip untuk menyelamatkan kepentingan.

Membaca realitas adalah kewajiban intelektual. Mencari hasil yang dapat bekerja adalah keahlian eksekusi. Namun, menyerahkan kompas moral kepada kepentingan sesaat merupakan kegagalan kepemimpinan.

Menjadi realistis bukan berarti menyerah kepada keadaan. Menjadi pragmatis bukan berarti menghalalkan segala cara. Apa yang dibutuhkan adalah kemampuan mencari jalan yang mungkin ditempuh tanpa kehilangan arah.

Itulah principled pragmatism: kaki menapak di bumi, mata membaca kenyataan, tangan bekerja secara efektif, tetapi kompas tetap menunjuk kepada prinsip.(im)

Buku Rujukan

  1. Al-Qaradawi, Yusuf. السياسة الشرعية في ضوء نصوص الشريعة ومقاصدها (As-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Dhau’ Nushush asy-Syari’ah wa Maqashidiha). Cairo: Maktabah Wahbah.
  2. Arterton, F. Christopher. Strategy in Politics: Plotting Victory in a Democracy. New York: Longman.
  3. Butcher, David & Clarke, Martin. Smart Management: Using Politics in Organisations. Palgrave Macmillan.
  4. Hatum, Andrés & Marchiori, Eugenio. Organisational Politics Revisited: A Seven-Dimensional Model. Palgrave Macmillan.
  5. Smolinski, Remigiusz, ed. Negotiators Who Changed the World: Timeless Lessons on Leadership and Negotiation. Springer Nature Switzerland AG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.