Jundiyah: Membangun Kader sebagai Problem Solver, Bukan Sekadar Pelaksana

by -1032 Views

Oleh: Yadi Mulyadi, SH

Banyak organisasi memiliki struktur yang rapi, sumber daya yang cukup, dan target yang jelas. Namun tidak sedikit yang tetap berjalan lambat karena satu masalah mendasar: terlalu banyak orang menunggu instruksi.

Mereka bekerja, tetapi hanya pada level minimum. Menjalankan tugas sebatas kewajiban, bukan tanggung jawab. Akibatnya, organisasi menjadi birokratis, lambat beradaptasi, dan miskin inovasi.

Di sinilah konsep jundiyah menemukan relevansinya.

Dalam manhaj dakwah Islam, jundiyah sering diterjemahkan sebagai kesiapan menjadi “prajurit dakwah.” Pemahaman ini sering direduksi menjadi kepatuhan struktural semata.

Padahal makna yang lebih substantif jauh lebih dalam.

Jundiyah bukan tentang keprajuritan buta, melainkan kesiapan total untuk mengemban amanah, menjaga misi, dan berkontribusi aktif terhadap solusi organisasi.

Dalam bahasa manajemen modern, ini disebut ownership.

Dari Pelaksana Menjadi Pemilik Masalah

Perbedaan mendasar antara pegawai biasa dan anggota tim berkinerja tinggi terletak pada cara memandang pekerjaan.

Pelaksana bekerja setelah diperintah. Pemilik bekerja karena merasa bertanggung jawab. Inilah esensi ownership.

Jocko Willink dalam buku Extreme Ownership menulis:“Leaders must own everything in their world. There is no one else to blame.”  Pemimpin harus mengambil kepemilikan atas segala sesuatu dalam lingkupnya. Tidak ada pihak lain untuk disalahkan.

Meski konteksnya kepemimpinan militer, prinsip ini sangat relevan dalam organisasi modern. Setiap anggota tim idealnya memiliki mentalitas pemilik: melihat masalah sebagai tanggung jawab bersama, bukan sesuatu yang menunggu instruksi atasan.

Dalam kerangka jundiyah, seorang kader atau anggota tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah menjalankan tugas.” Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah persoalan organisasi ikut terselesaikan?

Jundiyah Melahirkan Problem Solver

Organisasi inovatif tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya menjalankan SOP secara mekanis. Ia dibangun oleh individu yang mampu berpikir, mengantisipasi masalah, dan menawarkan solusi.

Google dalam riset internalnya, Project Aristotle, menemukan bahwa tim terbaik bukan semata diisi orang paling pintar, tetapi mereka yang memiliki inisiatif, komunikasi sehat, dan rasa tanggung jawab tinggi terhadap hasil kolektif.

Dengan kata lain, anggota tim terbaik adalah problem solver. Mereka tidak datang kepada pemimpin hanya membawa masalah. Mereka datang dengan alternatif solusi.

Elon Musk pernah mengatakan:“Constantly seek criticism. A well thought out critique of whatever you’re doing is as valuable as gold.” Teruslah mencari kritik. Evaluasi yang dipikirkan dengan baik terhadap apa yang kita kerjakan sama berharganya dengan emas.

Kalimat ini menegaskan bahwa organisasi maju membutuhkan budaya berpikir aktif.

Dalam konteks jundiyah, loyalitas bukan berarti diam. Loyalitas justru tampak pada kepedulian memperbaiki sistem dan hasil kerja. Karena itu, anggota yang baik bukan yang selalu menunggu instruksi detail, tetapi yang mampu membaca kebutuhan organisasi.

Ownership dalam Politik dan Pelayanan Publik

Dalam dunia politik, mentalitas ownership sangat menentukan kualitas pelayanan.

Seorang legislator, kader partai, atau pejabat publik tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif. Ia harus mampu melihat persoalan masyarakat sebagai amanah yang perlu dituntaskan.

Tanpa ownership, politik berubah menjadi rutinitas prosedural. Ada rapat, ada agenda, ada program, tetapi dampak nyata minim.

Sebaliknya, ketika setiap aktor memiliki sense of ownership, organisasi politik menjadi lebih responsif dan solutif.

Peter Drucker menulis “The best way to predict the future is to create it.”  Cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.

Ini adalah semangat jundiyah modern. Bukan menunggu perubahan, tetapi menjadi bagian aktif yang menghadirkan perubahan.

Penutup: Jundiyah sebagai Kultur Organisasi Unggul

Pada akhirnya, organisasi besar tidak dibangun hanya oleh pemimpin hebat. Ia dibangun oleh anggota yang berpikir seperti pemilik.

Inilah makna terdalam jundiyah.

Disiplin tetap penting. Struktur tetap dibutuhkan. Namun setelah itu, organisasi memerlukan manusia-manusia yang memiliki inisiatif, tanggung jawab, dan orientasi solusi.

Mereka tidak sekadar bertanya, “Apa tugas saya?” Tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya selesaikan?”

Di era kompetisi yang semakin kompleks, mentalitas inilah yang membedakan organisasi biasa dengan organisasi unggul.Dan dalam perspektif modern leadership, jundiyah bukan budaya subordinasi, melainkan budaya ownership. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.